Skip to main content

Coba ini, Resep sarapan simpel untuk Batita


Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh

Akhirnya setelah hampir 2 bulan fakum mengisi diblog ataupun medsos akhirnya Aku mulai bisa menulis lagi. Yap, 2 bulan terakhir kondisiku sangat tidak memungkinkan untuk menulis dikarenakan kondisi hamil muda di tambah lagi tetap harus menjaga anak-anak 3 tahun dan 1 tahun. Praktis semua urusan domestik di ambil alih sebisanya oleh suamiku disela-sela waktu sepulang bekerja. Tidak ada bau nasi, bau bawang, bau minyak dan semua bau rempah lainnya. Semua rumah steril dari bau apapun.

Selama 2 bulan itu aku benar-benar merindukan bisa menikmati lagi hidangan rumahan lagi terutama nasi putih. Kondisi itu sungguh harus dilewati, Jika bukan Allah SWT menguatkan mungkin aku tak sanggup, alhamdulillah kondisi ini cuma 2 bulan. Anak-anak yang seharusnya makan nasi minimal 2x sehari menjadi tidak makan nasi sama sekali kecuali, ubi dan roti. Alhamdulillah mereka tetap sehat sampai sekarang.

Bagiku yang saat ini punya anak dua menjelang tiga perkara makan tetap saja menjadi suatu tantangan tersendiri. Sekarang aku sebisanya menyajikan menu yang praktis dan syarat nutrisi. Maklum ya, Aku harus pandai-pandai mengatur waktu antara aktivitas dan istrahat, mengelola pikiran agar minim stress, serta mencari solusi supaya tetap produktif, namun urusan domestik terutama makan anak menjadi prioritas.

Kata suamiku "Kalau di rasa capek istirahat dulu, tidur"  terasa wow sekali nasihatnya ya. Namun, istirahat saat anak-anak kelaparan minta makan bukanlah pilihan yang tepat. Apalagi kalau memasak membutuhkan waktu yang lama. Bisa-bisa aku sudah lelah duluan hehe.

Nah kemudian Aku mencoba menyajikan menu yang super simple namun tetap dengan pilihan nutrisi yang berimbang, Aku menyebutnya tofu Chese Egg alias telur dadar sebenarnya.Siapa sih yang tidak bisa bikin telur dadar? Gampang bangetlah dan memasaknya pun cukup 3 menitan saja.

Oh ya kalau di Aku, porsi ini bagi anak-anak untuk sekali makan saja langsung habis.Jadi untuk 2 anak aku buat 2 porsi. Dan untuk sayuran boleh di ganti dengan kuntum brokoli atau irisan daun bawang maupun seledri.

🍳Tofu Chese EggπŸ₯š

Bahan-bahan:


πŸ‚ Telur 1 butir
πŸ‚ Tofu/Tahu sepotong kecil
(Aku pakenya tahu, kalau tofu lebih gurih lagi)
πŸ‚ Keju parut (boleh potong dadu) 1/4 porsi
πŸ‚ Wortel parut secukupnya
πŸ‚ Garam sedikit
(optional, untuk usia dibawah 1tahun boleh skip)
πŸ‚ Lada (optional, boleh skip)
πŸ‚ Margarin (untuk menggoreng)

Cara membuat :

πŸ‚ Kocok telur, tambahkan tofu/tahu yang sudah dihancurkan, keju parut separuh porsi, wortel, Lada dan garam


πŸ‚Panaskan margarine diatas teflon dengan api sangat kecil dan goreng adonan telur
πŸ‚Tutup selama memasak hingga setengah matang, taburkan sisa parutan keju. Dan Masak kembali sekira 1 menit.
πŸ‚Angkat dan sajikan

Selamat mencoba ya.

Comments

  1. Wow thanks sharing-an resepnya mba :)

    ReplyDelete
  2. Semoga sehat-sehat terus ya, mba... dadar telur dan keju juga andalan banget di aku kalo anak-anak lagi ga suka makan 😁

    ReplyDelete
  3. Telur dadar kayaknya resep andalan semua orang ya mba. Anti ribet dan enak. Aku juga suka bikin telur dadar campur tahu tapi belum pernah nyobain ditambah keju.

    ReplyDelete
  4. nice mbak! kalau pake tahu jadi lebih padat kah telurnya ? aku biasanya telur + keju + wortel aja terus digulung 😁

    ReplyDelete
  5. Wah ini menggambarkan masaknya dgn hati ya mba, hasilnya bsa bentuk heart gitu

    ReplyDelete
  6. Telur dadaar favoriit emang ya mbaa, tinggal kombinasinya hehe, bisa dicoba nih pake kejuu. Thanks for sharing mbaa~

    ReplyDelete
  7. Wah kreatif Mba, telurnya pun dicetak.. Sepertinya saya pun harus lebih kreatif cetak mencetak nih hehe. Dan keju parut selalu jadi andalan ibuk-ibuk ya sepertinya untuk rasa yg gurih dan creamy.

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular Post

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua  untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai. Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :( Saya mencoba

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren