header

Antara Mengusahakan Dana Masa Depan dan Gejala Mata Kering yang Menghalangi

Konten [Tampil]

Mata Kering

Sebagai pasangan menikah yang telah memiliki anak, perencanaan dana masa depan menjadi prioritas pengaturan keuangan kami. Meskipun saya belum begitu melek literasi keuangan, namun seiring berjalannya waktu: saya paham bahwa biaya pendidikan anak, dana darurat, serta dana pensiun penting dipersiapkan.

Saya paham, dana pensiun adalah sesuatu yang harus diusahakan dari sekarang. Mengingat suami bukan pekerja dengan jaminan dana pensiun. Ditambah lagi, kami juga wajib memikirkan biaya sekolah anak. Anak-anak bukan belajar di sekolah negeri yang gratis. Tetapi kami memilih sekolah swasta sesuai dengan value keluarga.

Biaya pendidikan yang terus meningkat, apalagi ada dana tahunan yang harus dibayarkan. Untuk anak tiga, bagi saya dan suami ini sudah cukup tinggi.

Kami memang menginginkan pendidikan anak yang lebih baik. Jadi kami memilih sekolah yang kami nilai sejalan dengan tujuan kami. Keputusan memilih sekolah mana yang terbaik (menurut kami), tentu berimplikasi pada biaya. Kami harus berhitung berapa biaya yang dikeluarkan: mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga biaya kuliah. Semua perlu dihitung berapa nominalnya.

Tetap Melek Literasi Keuangan Meski Seorang Old Money


Saya pernah mendengar dari podcast bahwa seorang Raditya Dika, seorang komika, menyatakan bahwa dirinya sudah mencapai angka dana pensiunnya pada tahun 2019. Artinya apa? Seandainya dirinya memilih pensiun kapan pun, dirinya sudah siap. Biaya kebutuhan hidup keluarga, pendidikan anak, gaya hidupnya tetap normal meskipun tidak bekerja. Tidak ada yang berubah. Stabil.

Menurut saya ini adalah sebuah prestasi. Namun demikian, prestasi Raditya Dika ini tetap menjadi perdebatan di kalangan netizen. Banyak orang menganggap bahwa sang komika memang merupakan old money (orang kaya lama), jadi wajar saja bila dengan mudah mencapainya.

Namun terlepas dari hal itu, saya justru salut dengan literasi keuangan yang dimiliki oleh Bang Radit~panggilan akrabnya. Bang Radit justru sudah tahu berapa nominal angka yang harus dicapai ketika dirinya pensiun. Bagaimana menghitungnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan, serta bagaimana dirinya bisa mencapainya. Selain itu Bang Radit juga paham bagaimana mengelola dana agar nilainya tidak tergerus inflasi.

Ini sebuah pengetahuan yang tidak banyak orang paham. Hanya orang-orang dengan literasi keuangan yang baik yang bisa mencapainya.

Kebanyakan dari kita, justru tidak mengetahui berapa angka yang harus dicapai ketika pensiun. Jangankan angka untuk dana pensiun, biaya tetap per bulan saja kadang-kadang masih tidak tahu. Pengeluarannya tergantung gaji. Kalau gajinya 5 juta maka pengeluaran juga 5 juta. Jika gajinya 10 juta, maka pengeluaran juga 10 juta. Tidak ada angka yang pasti.

Makanya tak heran, kalau kata orang tua: “gaji itu sedikit cukup, banyak kurang” Sebuah ironi. Tapi, banyak orang yang mengalaminya. Bukan masalah gajinya, tapi masalah pengaturannya.

Berkaca dari apa yang telah dilakukan oleh Bang Radit ini, saya bersama suami pun merencanakan hal serupa. Kami mulai belajar tentang literasi keuangan. Mulai dari menghitung berapa biaya untuk kebutuhan bulanan tetap, menyiapkan dana darurat, biaya pendidikan anak, angsuran tetap, serta dana pensiun.

Dana Darurat dan Dana Pensiun yang Sering Terlupakan


Kamu percaya nggak kalau dana darurat sering dilupakan dalam alokasi pos keuangan kita? Coba cek mandiri, berapa dana pensiun yang sudah kamu siapkan?

Menurut konsultan keuangan (financial planner), besaran dana darurat setiap orang berbeda-beda tergantung dari status individunya. 

Mengutip dari situ kemenkeu.go.id besaran dana darurat untuk single atau belum menikah sebesar 3-6 kali pengeluaran rutin (biaya hidup), sedangkan bagi yang sudah menikah dan memiliki anak besaran dana darurat sebesar 6-12 kali biaya hidup.

Cara menghitungnya begini: jika biaya hidup bulanan belum menikah sebesar Rp 10 juta, maka dana darurat yang harus kamu siapkan adalah 30 hingga 60 juta.

Belum lagi dana pensiun yang harus disiapkan. Besaran dana pensiun juga wajib dihitung. Besaran dana pensiun (juga) disesuaikan dengan kebutuhan tiap orang. 

Menurut narsum yang dikutip dari podcast Room 4 Improvement oleh Rory Asyari, Pandeka Perkasa~financial educator, yang berjudul 'Strategi Agar Anakmu Nggak Mewarisi Kemiskinan' cara menghitung dana pensiun adalah:
Biaya bulanan x 12 (bulan) x 25 tahun.

Jadi karena biaya hidup sebulan setiap orang tidak sama, tentu saja angka dana pensiun berbeda pula. Maka yang perlu dicari adalah mengetahui berapa biaya hidup setiap bulan.

Namun, banyak orang (termasuk kami) melupakan menghitung kedua pos keuangan ini. Saya dan suami terlalu sibuk memikirkan anggaran biaya pendidikan serta biaya pengeluaran rutin.

Diskusi pasangan

Inilah yang menjadi pokok pembahasan sekaligus momen penting dalam hari hari kami. Maklum kami memiliki tiga orang anak, sedang suami adalah pegawai swasta yang bisa di PHK kapan saja. Jadi, jika tidak dipersiapkan dari sekarang: kapan lagi?

Diskusi Dana Masa Depan yang Tak Pernah Terjeda


Sebagai istri, saya yakin setiap kita pasti menginginkan kestabilan ekonomi. Meskipun istri tidak meminta, bukan berarti mereka tidak memiliki keinginan. Nggak percaya? Coba cek akun marketplace istri kamu sekarang! Berapa ratus barang yang sudah dimasukkan ke keranjang tanpa pernah di checkout? Haha..

Istri bukannya tidak ada keinginan, hanya istri terlalu sayang pada pasangan. Jangan sampai banyaknya keinginan para istri malah menjadi beban bagi pasangan.

Nah, begitu pun dengan dana masa depan. Ketika kami berdiskusi tentang dana masa depan, obrolan ini menjadi sangat menarik. Terlebih bila ini menyangkut stabilitas ekonomi keluarga. Istri mana yang tidak ingin dimanjakan dengan jaminan ekonomi yang mapan? Saya pun demikian wkwk.

Untuk itulah saya belajar bagaimana bisa mencapai ekonomi yang mapan. Di sela waktu menulis dan membaca, saya mulai belajar literasi keuangan. Webinar keuangan keluarga juga menjadi acara yang paling saya nantikan. Obrolan kami dari yang santai sebelum tidur, hingga diskusi serius tentang keuangan.

Kalau diskusi santai biasanya kami lakukan sebelum tidur atau saat deep talk. Kami tidak membahas hal yang berat-berat, hanya menyeimbangkan visi misi saja. Sedangkan kalau sedang mood membahas hal serius, kami kerap menggunakan data dengan perhitungan tabel yang sebenarnya.

Cara Menyiapkan Tabungan Untuk Dana Masa Depan


Cara kami menyiapkan Tabungan untuk dana masa depan dimulai dengan melakukan beberapa hal ini. Saya merangkumnya sebagai berikut:

1. Aturan Alokasi Pengeluaran


Saya sudah sering mengikuti webinar financial literacy, secara umum aturan alokasi gaji adalah sebagai berikut:
  • 40% untuk biaya hidup bulanan
  • 30% untuk cicilan produktif seperti cicilan rumah, ruko dan sebagainya.
  • 20% untuk investasi, dana darurat, atau asuransi.
  • 10% dialokasikan untuk kebaikan misalnya zakat, infaq, qurban, atau kirim orangtua.
Jika beberapa pos keuangan di atas tidak terpakai, misal tidak ada cicilan tetap, maka pos ini bisa dimasukkan ke bagian investasi.

2. Menghitung Besaran Biaya Bulanan


Setelah mengetahui berapa alokasi biaya bulanan saya tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai 'manajer keuangan' keluarga saya mencatat jumlah pengeluaran rutin, biaya sekolah anak, transportasi, makan, jalan, jajan…semuanya saya hitung. Setelah semua dihitung, saya tambahkan 5-10% dari biaya kebutuhan rutin sebagai dana cadangan. Jika tidak terpakai, dana ini akan masuk ke pos dana darurat.

Oh ya besaran biaya bulanan termasuk cicilan/hutang tidak lebih dari 70% gaji. Jika besar biaya bulanan melebihi 70% gaji, pangkas yang tidak perlu atau (sebaiknya) mencari tambahan penghasilan.


3. Menahan Keinginan Sebagai Bentuk Pengendalian Diri


Seperti yang dikatakan oleh Mas Pandeka Perkasa dalam podcast ‘Room 4 Improvement’ bahwa kebanyakan orang Indonesia: kebelet pamer. Untuk itu sebaiknya keinginan untuk pamer dengan membeli barang-barang branded ini harus ditahan. Karena sesungguhnya orang lain tidak peduli atas apa yang kita lakukan. Jadi tidak perlu validasi orang lain, tahan keinginan sebagai bentuk pengendalian diri.

4. Pastikan Dana Darurat 'Selamat'


Kami coba dengan poin 1-3 selama tiga bulan. Jika dalam tiga bulan semua pos aman terkendali, kami harus memastikan dana darurat kami tetap aman. Kami coba bertahan 3 bulan lagi untuk melihat kondisi ekonomi rumah tangga ini stabil. Setelah berjalan 6 bulan, dan semua pos keuangan aman. Alhamdulillah ujian tahap 1 kami selamat. Setidaknya dana darurat sudah tersedia. Kami bergerak ke step selanjutnya.

5. Mulai Berinvestasi


Selama 6 bulan, pos keuangan bagian investasi sudah terkumpul setidaknya 80% dari gaji. Dari sini kami mulai melirik investasi. Investasi yang kami pilih ada beberapa instrumen. Jenis instrumen investasi yang bisa dipilih misalnya investasi pada logam mulia, deposito syariah, atau reksadana pendidikan. Tentunya kami memilih instrumen investasi yang sesuai dengan nilai keluarga serta tidak melanggar syariat.

Di momen penting pembahasan instrumen investasi ini kami tak bisa menghindarkan untuk membahasnya dengan bantuan layar. Entah itu laptop atau gadget. Yang penting, kalau kami sedang membutuhkan pemahaman yang tepat, peran layar sangat dibutuhkan disana.

Sering Berinteraksi Dengan Layar, Efek Sinar Biru Tak Terhindarkan


Tanpa sadar, ketika intensitas menatap layar terlalu sering, ada rasa tidak nyaman terasa di mata. Sepertinya, mata saya mulai menunjukkan kelemahannya. Apalagi bagi usia seperti saya.

Mata kering adalah

Seperti diketahui, layar laptop, tablet, maupun gadget mengeluarkan sinar biru (blue ray). Blue ray dapat menyebabkan mata kering. Apalagi kalau saya sudah sangat serius menatap layar. Mata nyaris tak berkedip. Saya mulai oleng melihat nilai uang plus efek sinar biru, semakin membuat mata bertambah payah.

Menurut penelitian dari Harvard University oleh David Ramsey pada Mei 2019, menyebutkan cahaya biru adalah cahaya dengan panjang 400 dan 450 nanometer. Cahaya biru ini paling banyak dihasilkan dari cahaya sinar LED warna putih terang dari sebagai warna latar layar gadget, laptop, maupun smartphone.

Mengapa cahaya biru jadi lebih berbahaya? Meskipun tidak menyebabkan kerusakan yang fatal pada retina mata, cahaya biru memiliki energi per foton cahaya yang lebih besar daripada warna lain dari spektrum cahaya. Jika diserap tubuh dalam dosis tinggi, bisa menyebabkan kerusakan sel di dalam tubuh.

Meskipun tingkat kecerahan layar pada gadget sudah diatur dengan tingkat keamanan mata, namun dengan intensitas yang tinggi serta durasi menatap layar yang cukup lama, efek cahaya biru dapat membuat mata tidak nyaman. Inilah yang terjadi dengan saya.

Efek terlalu lama menatap layar apalagi sering kami lakukan menjelang tidur merusak momen berharga kami.  Saya merasakan gejala mata kering ketika membahas masalah penting masa depan kami. Yang saya rasakan mata jadi SEpet, PErih. dan LElah (SePeLe). Ini tidak bisa dibiarkan, karena mengganggu kenyamanan. Pokoknya nggak bisa dibiarkan. Saya berpikir #MataSepeleJanganSepelin.


Diskusi untuk stabilitas keuangan memang salah satu momen penting bagi saya dan suami, namun mata SePeLe merusak diskusi serius kami. Apalagi jika dampaknya sudah terasa, jangan sepelekan mata kering akibat sinar biru. Ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, dan LElah segera ambil tindakan, atasi dan beri solusi.

Mata SePeLe Menjadi Saksi Perjalanan Kami Menyiapkan Biaya Masa Depan


Proses saya dan suami dalam menyiapkan dana masa depan semakin intens. Pada dasarnya kami bukan anak yang mewarisi kekayaan orang tua, segala sesuatunya harus kami usahakan sendiri.

"Kita berjuang dari nol ya," begitu kata suami di awal pernikahan kami.

Dan benar saja, memang semuanya kami mulai dari awal. Seperti menyiapkan dana masa depan ini. Kami semakin intens menyiapkannya. Sama gigih dalam mengusahakannya. Kami mengencangkan ikat pinggang serta menahan keinginan. Usaha kami serius, se-serius nominal yang harus dicapai. Jadi ketika mata kering melanda, saya tidak ingin ini menjadi kerikil yang merusak usaha kami.

Mengenal Mata Kering dan Gejalanya


Mata kering (dry eyes syndrome) adalah ketika mata tidak mendapat lubrikasi yang cukup dari kelenjar mata. Normalnya pada orang dewasa, mata akan berkedip 14-17 kali per menit (sumber Hello Sehat, September 2023). 

Pada saat berkedip, kelenjar mata mengeluarkan air mata untuk melumasi mata agar tidak kering, hal ini berfungsi melindungi mata dari efek cahaya biru. Namun, jika mata tidak berkedip karena terlalu fokus pada layar, maka akan mengalami mata kering.

Gejala Mata kering

Gejala mata kering pada umumnya seperti:
  • Mata terasa SEpet sehingga membuat mata terasa berat.
  • Mata juga terasa PErih seperti ada yang mengganjal dan berpasir.
  • Mata LElah hingga terlihat memerah.

Jika sudah begini maka pandangan menjadi buram. Saya pun akan kehilangan fokus.

Penelitian dari National Library of Medicine menyebutkan bahwa penggunaan layar dalam intensitas tinggi menjadikan mata jarang berkedip sehingga menyebabkan mata kering.

Cara Mengatasi Mata Kering Dengan Gejala SePeLe


Jika sudah mengalami kondisi mata SEpet, PErih, dan LElah seperti yang saya sebutkan di atas, saya segera melakukan beberapa cara untuk mengatasinya. 

Cara mengatasi Mata kering

Cara ini saya baca dari beberapa sumber artikel kesehatan, berikut cara mengatasi gejala mata kering:
  1. Menggunakan teknik 20-20-20 yaitu setiap 20 menit alihkan pandangan dari layar, kemudian lihatlah objek jauh sekitar 20 kaki (+/- 6 meter), lakukan selama 20 detik. Teknik ini berfungsi untuk mengurangi ketegangan yang terjadi pada otot mata.
  2. Melakukan kompres mata dengan air dingin, lakukan hingga mata terasa nyaman.
  3. Usahakan lebih sering berkedip. Meskipun terasa perih usahakan untuk berkedip sesering mungkin agar mata segera mendapat pelumas dengan baik.
  4. Stop mengucek mata meskipun terasa sangat gatal.
  5. Menggunakan tetes mata untuk membantu mata mendapat lubrikasi yang cukup.

Dalam hal memilih tetes mata yang tepat, saya mempercayakan pada tetes mata INSTO DRY EYES. Insto Dry Eyes telah dipercaya mampu mengatasi gejala mata kering. Simak pengalaman saya berikut ini ya.

Pengalaman Menggunakan Insto Dry Eyes Untuk #BebasMataKering


Jujur saja, saya tidak mudah percaya jika tidak mencobanya sendiri. Bermula dari anjuran suami yang menyarankan untuk menggunakan tetes mata. Pilihannya tertuju pada #InstoDryEyes. Menurutnya Insto Dry Eyes secara khusus mengeluarkan produk yang concern pada penanganan masalah mata kering.

Pengalaman pakai Insto Dry Eyes

Dirinya sudah sering menggunakan Insto Dry Eyes untuk penggunaan harian. Tindakan ini mampu mengatasi gejala mata kering. Nyatanya dirinya juga sering berhadapan dengan layar PC dan laptop di tempat kerja.

"Cobain ini: Insto Dry Eyes. Bisa mengurangi efek yang tidak nyaman pada mata," Ujarnya suatu kali.

Tanpa ragu lagi, saya pun mengikuti. Memberikan 1-2 tetes pada mata kiri dan kanan. Saya menutup mata setelah tetesan masuk ke bola mata. Saya biarkan sesaat agar mata terlumasi dengan sempurna.

Apa yang saya rasakan setelah mencoba Insto Dry Eyes?


Nyeess.. Sensasi dingin seketika terasa pada mata. Mata jadi seperti terendam air, dingin, namun nyaman sekali. Sesaat saya seperti habis menangis. Mata jadi lebih basah. Beberapa detik kemudian, saya merasa penglihatan menjadi lebih terang. Pandangan yang sebelumnya buram, kini berangsur fokus kembali. Rasa perih yang saya rasa sebelumnya perlahan mulai hilang. Ajaib nih tetes mata, begitu pikir saya.

Sejak hari pertama saya menggunakan Insto Dry Eyes. Kini Insto menjadi teman setia saya dalam beraktivitas di depan layar. Bisa dikatakan dengan adanya Insto Dry Eyes seperti amunisi wajib dalam membersamai momen penting kami. Apalagi, saya sebagai blogger dan penulis kurang lengkap rasanya jika tidak sedia Insto Dry Eyes. Insto Dry Eyes memang solusi mata kering.

Kesimpulan


Untuk kamu pasangan muda atau yang juga sedang mengusahakan keuangan keluarga yang stabil: mulailah mencari tahu berapa nominal yang tepat agar kondisi finansialmu stabil hingga masa tua nanti. Hitung dengan tepat, pelajari dengan cermat, dan usahakan untuk mulai mencapainya dengan cepat. Karena, bila kita bukan orang yang diwarisi money, maka jadikan anak cucu keturunan kita orang-orang yang stabil ekonomi.

Bagi kami diskusi investasi untuk dana masa depan adalah salah satu momen penting. Namun di tengah pentingnya mengejar jaminan keuangan, jangan sampai menyepelekan kondisi kesehatan sekarang. Apalah artinya semua yang kita usahakan saat ini bila kita harus mengorbankan kesehatan.

Jika mata mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah (SePeLe) jangan diabaikan. Pokoknya #MataSePeLeJanganSepeleintetesin Insto Dry Eyes untuk #BebasMataKering. Kamu bisa beli di Indomaret terdekat di kotamu ya. Jangan biarkan mata kering merusak momen penting. Tetap usahakan masa depan, namun jangan korbankan kesehatan.

Salam,
MQ

Referensi:
Will blue light from electronic devices increase my risk of macular degeneration and blindness? (diakses Agustus 10, 2026)
https://www.health.harvard.edu/blog/will-blue-light-from-electronic-devices-increase-my-risk-of-macular-degeneration-and-blindness-2019040816365
Mata Sering Berkedip, Ketahui 7 Penyebab dan Cara Mengatasinya (diakses Agustus 10, 2026)
https://hellosehat.com/mata/mata-lainnya/penyebab-mata-sering-berkedip/
Manfaat dan Tips Menyusun Dana Darurat untuk Keuangan Kita (diakses Agustus 10, 2026) https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/dana-darurat-apakah-penting
Cara Menyiapkan Anak Punya Aset Miliaran Sebelum Usia 18 Tahun (diakses Agustus 10, 2026)
https://youtu.be/ZFAFmAEQB5I?si=x68O2P20hLUx05hc
Phai Yunita S Wijaya
Hi Im Yunniew, ibu dengan 3 orang anak yang memiliki hobby menulis dan literasi. Marriage and parenting enthusiast, Womanpreneur dan Consultant franchise Laundry and minimarket, ibu pembelajar, dan tukang review produk temen :)

Related Posts

2 comments

  1. Terima kasih atas pencerahannya tentang literasi keuangan kak. Artikel ini membuat saya lebih paham bagaimana cara mengatur keuangan dan menyiapkan dana pensiun untuk hari tua. Dan untuk mengetahui dan menambah wawasan semua itu mau tidak mau harus selalu mencari informasi lewat internet dll, yg mengharuskan menatap layar secara terus menerus. Alhamdulillah ada insto dry eyes yg dapat mengatasi gejala mata kering.

    ReplyDelete
  2. Wah keren banget mbak, sudah mulai mencerdaskan diri dan keluarga tentang literasi finansial. Aku dapat banyak insight dari tulisan ini, termasuk tentang cara menghitung dana pensiun. Kita sama-sama bukan pewaris, jadi untuk mencapai dana pensiun ini memang butuh perjuangan yang luar biasa. Apalagi in this economy semua serba mahal dan tidak bisa diprediksi menurutku. Alokasi dana pensiun dan sana darurat penting banget disiapkan dan tidak diganggu gugat. Tapi kalo ada yang bilang, hari gini semua darurat kalo tinggal di Indonesia, itu yaaa menurut ku bener juga. Jadi pusing wkwk. Yah intinya tetap ikhtiar sambil Ya Allah Ya Allah aja mah sekarang...

    ReplyDelete

Post a Comment