Skip to main content

Mengenai konflik dalam rumah tangga

Pic from google

Rumah tangga mana yang tidak berkonflik? Adakah? Bahkan rumah tangga Rasulullah pun berkonflik. Konflik dalam rumah tangga bukanlah sebagai ajang menang-menangan siapa kuat siapa lemah. Tapi bisa menjadi satu sisi positif yang saling mengisi dan introspeksi ke dalam diri masing-masing. Mengambil sisi baiknya, menambal bagian yang bolong, memperbaiki sikap yang salah dan mencari solusi atas akar masalah.

Yang paling utama dalam mencari dan mencapai sisi baik alias hikmah dibalik konflik rumah tangga adalah dengan mengulik lebih dalam akar masalah (root causes) dan mengurai nya menjadi lebih detail dan mendalam demi mencari penyelesaian yang fundamental.

Ada beberapa point penting yang harus dilakukan  ketika terjadi konflik didalam rumah tangga dan anak-anak menjadi saksi atas drama rumah tangga ini. Jangan berlarut dalam kesedihan karena hanya akan menambah luka dan bisa menggiring kearah depresi, menurut Tiffani Field, Ph.D, MMS. anak yang dilahirkan oleh ibu yang Mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stress yang tinggi, dan jika tidak ditangani bisa membawa kepada keinginan bunuh diri. 

Maka untuk mengurai rasa bersalah dan mencari solusi akar masalah Ingat point-point penting ini ini :

1.Memaafkan

Jika terjadi sampai konflik yang pecah antara pasangan suami istri, hingga terjadi pertengkaran hebat dan tidak dapat dihindarkan bahkan didepan anak-anak padahal itu sudah sangat di hindari. Maka yang harus dilakukan adalah memaafkan diri sendiri. Maafkanlah bahwa itu adalah sunatullah, manusiawi , bahwa ada beberapa hal yang sangat kita hindari namun tidak terelakkan terjadi juga, karena control emosi yang melebihi ambang batas. Anak-anak memang tidak seharusnya menyaksikan konflik antar orangtuanya, karena akan berpengaruh pada psikologi mereka kemudian hari. 

Cara orangtua dalam menyelesaikan masalah akan menjadi cara mereka juga dalam menyelesaikan. Apabila orangtua menyelesaikan dengan menangis, kemungkinan besar mereka juga akan sama. Pun begitu apabila orangtua menyelesaikan konflik dengan baku hantam, debat kecil,nada tinggi, atau dengan cara yang arif berbicara heart to heart. Semua Metode ini akan terekam sempurna dalam memori anak, yang suatu hari ketika mereka facing same problem memori tersebut akan di callback oleh alam bawah sadar mereka. 

Sebisa mungkin gunakan cara yang arif dan bijaksana, minim teriakan, tangisan, hindari pukulan dan lain-lain yang semisal dalam menyelesaikan konflik. Jika cara seperti ini sudah terlanjur terjadi, Jangan berlarut dalam penyesalan, segera bangkit dan memaafkan diri sendiri. 

2.Anak-anak butuh Lingkungan keluarga yang kondusif 

Hak nya anak-anak adalah bermain dan bahagia. Berikan hak mereka sesuai dengan fitrahnya. Jangan merebutnya dari mereka, apalagi menyuguhi mereka dengan tontonan konflik orangtuanya yang tidak bisa dijadikan teladan. Jauhkan anak-anak ketika konflik terjadi, namun Jika tidak bisa dihindari sebisa mungkin redam keadaan dengan mengontrol emosi apalagi sampai blamming(menyudutkan) pasangan didepan anak-anak . Ini hanya akan menambah citra buruk anak terhadap orangtuanya. 

Rendahkan suara, bersegera memeluk anak-anak saat konflik terjadi diluar kontrol. Katakan pada mereka bahwa anda sangat menyayangi mereka dan apa yang mereka lihat adalah pelajaran hidup, namun tidak semua pelajaran itu menyenangkan hati. Ada yang membahagiakan namun ada juga yang menyedihkan. Bila hari itu terpaksa mereka menyaksikan misalnya anda menangis katakan pada mereka bahwa "Anda sangat mencintai mereka. menangis adalah cara terakhir saat kata-kata tak mampu terucap. Namun jangan gunakan tangisan sebagai senjata utama, karena yang utama adalah penjelasan dengan kata-kata"
Selebihnya kuasai keadaan dan jangan biarkan konflik terekspos didepan mereka. 

3.Konflik adalah luapan emosi atas masalah yang tidak terselesaikan 

Sebisa mungkin, sekecil apapun masalah segera dicarikan solusi. Bukan dipendam dan dibiarkan menguap tanpa solusi. Setelah menemukan root cause (akar masalah) segera lah menyelesaikan dan membicarakan solusi yang lahir dari keinginan kedua belah pihak. Walaupun tidak bisa mengakomodir keinginan kedua belah pihak, namun setidaknya ada kesepakatan yang dicapai atas masalah yang terjadi. 


4.Jalan tengah, cari penengah

Jika telah terjadi konflik yang berkepanjangan jangan segan untuk mencari third party (pihak ketiga) sebagai pihak yang menengahi konflik antar pasangan.Dalam mencari pihak penengah hendaknya Jangan dari pihak keluarga masing-masing, karena khawatir akan memberi keputusan yang tidak berimbang dan cenderung menambah stigma negatif terhadap pasangan. Penengah konflik setidaknya adalah orang yang paling disegani oleh kedua belah pihak, bisa Ustadz Ustadzah atau orang yang dituakan bukan dari keluarga. 

Semoga kita bisa belajar dan bijak atas setiap masalah yang kita hadapi. Semoga setiap detik adalah manfaat, memetik hikmah, demi mencari ridho Allah SWT menuju syurgaNYA aamiin. 


Salam Sayang, 
Mom Queen 



Comments

  1. Aamiin....
    Semoga kita semua bisa membangun keluar yang SAMARA penuh kebahagiaan.

    ReplyDelete
  2. Amiiin y rabb..semoga kita bisa dijauhkan dari masalah yang tidak segera terselaikan dan dari sikap egois serta kekanak kanakan dalm rumah tangga amiin :"

    ReplyDelete
  3. Jazakillah mba remindernya. Akan dipraktekan kala bertemu konflik, ya Allah jangan biarkan kami tergelincir pada kesesatan syaitan dalam rumah tangga kami. aamiin.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah jd reminder lg sama komunikasi dan materinya BD
    makasi mbaa sudah berbagi

    ReplyDelete
  5. Terimakasih atas sharingnya mbaa, ilmu yang harus diterapkan saat menghadapi konflik ketika berumah tangga nanti..

    ReplyDelete
  6. Aamiin Ya Rabb...
    Jazakillah dah mengingatkan Mbaa

    ReplyDelete
  7. Terima kasih tulisannya mba. Jadi ilmu baru 😄

    ReplyDelete
  8. Ilmu baru ini mba.. terimakasih bnyak.. emang emosi ini klo g d manaje dgn baik bisa bikin runyam yaa

    ReplyDelete
  9. Nice tips. .. Begitulah adanya kehidupan rumah tangga. Pastinya ada konflik. Baik kecil maupun besar. Kudu saling sinergi dan niat untuk terus bertahan. Hadapi konflik dan tuntaskan segera.

    ReplyDelete
  10. MasyaaAllah, semoga kita dimudahkan untuk selalu mencari hikmah dalam menghadapi segala sesuatu. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Nice sharing mbaa, jadi inget pelajaran bengkel diri tentang manajemen konflik. Semoga kita semua bisa mengamalkannya dan jangan sampai melukai anak2 kita dgn konflik kita ya mbaa..

    ReplyDelete
  12. Aamiin, anak yg biasanya jdi korban dri konflik orantua, smoga kita smua mampu mengamalkannya ya mba

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular Post

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua  untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai. Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :( Saya mencoba

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren