Skip to main content

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google

Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai.

Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :(

Saya mencoba menuliskan beberapa dampak negatif atas penggunaan gadget pada usia dini, diantaranya 
  • Efek radiasi yang bisa mengganggu kinerja retina mata, 
  • Keterlambatan dalam perkembangan kemampuan gerak (motorik) dan bahasa anak (speech delay), 
  • Mengurangi kemampuan anak dalam bersosialisasi, 
  • Menjadikan anak cenderung pasif akibat pemberian informasi yang satu arah, 
  • Emosi anak yang tidak stabil cenderung mudah tantrum, 
  • Belum lagi dampak negatif apabila anak-anak yang rentan terpapar konten kekerasan hingga pornografi, naudzubillah

Untuk menghindari penggunaan gawai yang berlebihan pada anak sangat diharapkan supermom untuk terbiasa menjadi ibu kreatif. Intinya jangan malas, jangan berdalih dengan banyaknya tumpukan to do list domestik sehingga menyerahkan perhatian anak pada gadget. 

Saya termasuk ibu yang big no pemberian gadget pada anak (tanpa pendampingan) apalagi usia balita. Namun anak pertama Saya, Queensha, sempat terpapar bahkan sudah sedikit mengarah pada kecanduan gadget diusianya belum genap 2 tahun :( 

Saat itu ketika Saya masih bekerja dan Queensha berada dalam pengasuhan nanny. Setiap hari diberi "asupan" gadget, walaupun dengan dalih hanya lagu-lagu anak. Saya kemudian mengingatkan pada pengasuhnya bahwa Saya tidak mengizinkan anak bermain gadget meski hanya menonton lagu sekalipun. Namun mungkin karena terlalu sering ya melihat pengasuhan dan sekelilingnya interaksi dengan gadget membuatnya mulai tertarik. Saat dirumah, setiap melihat abi nya memegang handphone ketika membalas percakapan pribadi atau sekedar menjawab telepon, dia yang paling aktif sekali ingin turut serta melihat dan memegang gadget, dan kemudian minta diputarkan lagu-lagu diyutup. Bahkan dia sangat hafal lagu mana untuk diputarkan. Jika tidak dituruti emosinya bisa meledak-ledak, menangis sejati-jadinya. Satu dua kali masih kami tolerir, tetapi kemudian Saya dan Suami melihat ini sudah tidak sehat lagi bagi buah hati kami. Kemudian kami mengambil keputusan untuk menyetop perilaku sebelum menjadi candu. 

Awalnya usaha ini penuh dengan drama tantrum dan kami betul-betul dituntut untuk memiliki kesabaran ekstra demi memutus mata rantai "nutrisi" gadget ini. Kami berdua sepakat bahwa anak-anak tidak seharusnya menerima paparan gadget apalagi konten video yang berdurasi lebih dari 30 menit. Sekalipun hanya untuk menerima telepon tentang pekerjaan, bahkan suami harus mencari tempat yang aman hingga keluar rumah. Saya pun, praktis sepulang kerja tidak akan memegang gadget hingga Queensha tertidur. Beruntung dia memiliki ritme tidur yang sangat teratur, jam 9 sudah terlelap, jikalau pun terlewati maksimal 30 menit dari jadwal.Saat itulah bagi kami bebas bergadget, sekedar mengecek pekerjaan atau melihat berita trending hari itu. 

Diawal fase ini adalah fase tega dan kesabaran kami diuji, namun sebagai orangtua kami harus tegas dan mampu mengontrol emosi. Alhamdulillah lebih kurang 3 bulanan kami baru bisa merasakan Queensha benar-benar lepas dari gadget. Sekarang diusianya 3 tahun 5 bulan, dia benar-benar (tidak begitu) tertarik dengan pesona gadget lagi. Alhamdulillah tidak Ada usaha yang mengkhianati hasil. Laa hawla wala quwwata illa billah.

Beberapa cara yang kami lakukan untuk memutus perilaku kecanduan gadget pada Queensha diantaranya akan Saya sharing dibawah ini :

1. Segera memutus langsung penggunaan gadget pada anak. 
Akan sangat berbeda perlakuan terhadap anak balita dengan anak remaja dalam menggunakan cara ini. Karena anak Saya baru berumur 2 tahunan saat itu, maka kuasa penuh dalam kendali kami. Praktis cara ini sangat efektif. 

2. Perbanyak mainan.
 Saya sebagai ibu bekerja (saat itu) tentu memiliki waktu yang sedikit dengan anak (ini juga yang kemudian mendorong Saya untuk resign dari perusahaan ) maka yang Saya lakukan adalah memberikan banyak mainan pada nanny nya dan mengatakan bahwa Queensha tidak boleh terpapar gadget sampai usia minimal 5 tahun, jadi sebisa mungkin hindari penggunaan gadget didepan dia. Mainan yang Saya berikan waktu itu adalah buku-buku animasi tipe board book. 

3. No gadget selama anak belum tidur.
Karena ekstrimnya keinginan Queensha ketika melihat gadget, maka kami sebisa mungkin menghindarkan perhatiannya pada gadget. Agak sedikit mengganggu ketika suami saya masih ada pekerjaan dengan klien yang komunikasi via online telepon dan email. Suami terpaksa harus kucing-kucingan deh :D

4. Bekerja sama dan koordinasi dengan circle inti dalam keluarga.
Terkadang om atau tantenya kala bertandang sambil bermain gadget. Disini lah pola komunikasi diperlukan. Kami meminta kerjasama dari mereka untuk tidak bermain gadget didepan Queensha. Walau susah, namun mereka mengikuti rules keluarga kami. 

Pics from google


5. Perbanyak quality time bersama anak.
Percayalah ketika anak mendapat perhatian penuh dari orangtuanya, seketika itu juga keinginannya untuk bergadget ria akan hilang, apalagi kondisi anak balita. Quality time ini bisa dengan mengajaknya bermain, menggendongnya, mendengarnya bercerita, menanyakan tentang beragam aktifitasnya seharian , ataupun sekedar mendampinginya menonton TV. (ini akan menjadi bahasan khusus mengenai pengaturan screen time pada anak ala keluarga kami) 

Namun yang paling penting dari semua ini adalah adanya niatan yang kuat antara suami istri untuk segera menghentikan kebiasaan candu gadget ini. Suami istri harus satu bahasa, tidak bisa hanya istri(atau sebaliknya) saja yang memiliki keinginan kuat untuk memutusnya sedangkan pasangan masih ada perasaan tidak tega, ungkapan seperti "ah sekali ini juga" harus di hindari, atau hal semisal yang bisa meruntuhkan pertahanan anti gadget dirumah. Karena ini menyangkut bagaimana mempola kebiasaan yang kemudian bisa menjadi perilaku dan karakter anak kelak.

____


Semoga kita bisa menjadi orangtua yang arif untuk memberikan gadget pada anak tepat pada waktunya. Tidak tergoda dengan trend lingkungan. Anggapan bahwa semakin muda anak bergadget semakin keren dan gaya adalah pembunuhan minat dan potensi anak. 




Comments

  1. Noted banget mba.. terima kasih udah sharing

    ReplyDelete
  2. Waah berguna banget ni sharing pengalamannya..terima kasih banyak mbaaaaa :D

    ReplyDelete
  3. aku juga pernah punya pengalaman serupa mom. awal awal memang harus komitmen untuk anak stop gadget karena kecanduan cukup sulit untuk merubahnya.

    ReplyDelete
  4. Kuncinya emg bgn terakhir, harus komit dgn suami dan keluarga serumah, klo ibu nya aja yg disiplin tpi yg lain kasih gadget maka akan sulit ya mba

    ReplyDelete
  5. Intinya kita harus terus aktif untuk membiarkan anak2 tidak tinggal diam ya mba, terus putar otak cari cara kreatif buat kebaikan anak. Quality time memang penting sih, karena masa kanak2 tidak akan terulang ya mba. Jazakillah infonya.

    ReplyDelete
  6. Harus ngelatih diri sendiri biar ngga sering-sering mainan gadget ni
    aku :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akuu jugaa (kadang) makanya lebih milih bnulis atau buka hp dini hari atau shubuh hihi

      Delete
  7. Kadang, para ortu ga sadar gadget merusak komunikasi anaknya dgn sesama. Semua anak dpt gadget 1org 1 miris ngeliatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaah banget aku pernah Lihat situasi begini, dan aku miris Lihat keadaan mereka, semua fokus dgn 'pegangan' masing-masing saat dirumah.

      Delete
  8. Banyak belajar tentang pembatasan gadget pada anak. Terima kasih sharingnya mbak...

    ReplyDelete
  9. Makasih sharingnya.. bisa dicoba juga nih biar anak gak kecanduan gadget.

    ReplyDelete
  10. Terima kasih sharingnya mbaa ๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
  11. Strugglenya pasti sesuatu ya mba, alhamdulillah udah berhasil. Semoga bisa menjadi pelajaran dan penyemangat bagi yang lain..

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah dapat ilmu parenting (lagi), jazaakillahu khairan๐Ÿ™

    ReplyDelete
  13. aku pernah melewati fase ini beberapa tahun yg lalu. dulu sempet merasa jadi ibu yg gagal. tapi emang perkembangan teknologi juga gak bisa dihindari ya mbak. meski balitaku kadang baca buku dari gadget, alhamdulillah ngga kecanduan lagi :')

    ReplyDelete
  14. Terimakasih atas sharingnya mbaa :). Mengatur penggunaan gadget ini menjadi tantangan ya baik bagi anak-anak maupun orang dewasa..

    ReplyDelete
  15. Wih bener banget mba.. ini tuh tantangan banget di jaman sekarang... Barakallah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, yg penting kita nya yah yg membentengi keluarga kita

      Delete
  16. harus kuat memang dukungan dari lingkungan sekitar...

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular Post

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem

DIY: Cara Membuat Hamper Mudah dan Simple untuk Hantaran Nikah

Dewasa ini tradisi berkirim hadiah seperti sudah menjadi tren baru. Banyak orang mengabadikan momen khusus sebagai ajang untuk berkirim pesan lewat hadiah. Jika dulu berkirim parsel atau hamper hanya dihari besar keagaamaan seperti lebaran atau natal. Sekarang berkirim parsel juga di berbagai momen bersejarah seperti di hari ulang tahun, menyambut kelahiran bayi, wisuda kuliah dan sebagainya. Baca juga :  Manajemen keuangan keluarga anti bocor ala Maminca   Berkirim hadiah ini dulu dikenal dengan sebutan berbagi parsel, namun sekarang lebih banyak dikenal dengan sebutan berbagi hamper. Sebenarnya tidak ada beda antara keduanya, mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, jika kita melakukan pencarian untuk kata parsel maka akan berarti bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya. Pun begitu ketika kita mencari dengan kata hamper