Skip to main content

Menulis, Hobi yang Bernilai Dakwah

Dari sekian banyak listing hobi yang aku punya, aku lebih menekuni hobi menulis. Mengapa? Karena lewat menulis aku bisa memenuhi kebutuhan pribadi yang tidak bisa terpenuhi jika melakukan hobi yang lainnya. Bukan hanya kepuasan yang didapat, namun kebutuhan yang utama bagi wanita adalah healing. Pada umumnya wanita mengeluarkan setidaknya 22.000 kata perhari, dibanding dengan laki-laki yang hanya mampu mengeluarkan 7.000 kata perhari.

Lewat dunia tulis menulis juga banyak hal bermanfaat lain yang bisa di dapatkan. Selain  menemukan kesenangan dan passion, lewat menulis juga kita bisa menyampaikan apa yang tidak bisa diungkapkan lewat lisan. Sebuah nasihat dari Sayyid Qutbh berikut ini menjadi penyemangat awal aku menekuni dunia tulisan. 

"Satu peluru bisa menembus satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus ratusan bahkan jutaan kepala" 

Jika berbicara hobi menulis, aku sudah menyenangi dunia tulis-menulis sejak lama, bahkan sejak sekolah dasar sudah sering diikut sertakan dalam lomba mengarang dan ada beberapa yang menang. Dulu, belum mengenal istilah blog atau pun medsos seperti sekarang ini. Ya paling hebat bisa menulis di diary atau binder kenang-kenangan, anak tahun 90-an pasti tahu. Baru lah kemudian muncul medsos seperti Friendster dan Facebook. Tapi tidak banyak juga dimanfaatkan untuk menulis karena alasan kenyamanan. 

Kapan mulai menulis di blog? Nah mulai aktif menulis di blog semenjak mengikuti kelas lanjutkan Bengkel Diri Level 2 pada bulan April 2020. Dalam tugas akhir kelas blogging, syarat kelulusan adalah membuat tulisan di blog lewat Blogspot atau WordPress. Tapi saat itu lebih di rekomendasikan untuk menggunakan Blogspot, karena tidak ada iklan dan template-nya cenderung mudah dioperasikan bagi blogger pemula. Dari sana lah aku mulai berkenalan dengan dunia blogging. Jadi usia blog ini masih seumur jagung, belum setahun hehehe. 

Mengapa harus menulis? 

Ya itu pertanyaan yang selalu ditanyakan semua orang. Bisa di bayangkan sejak usia 0 tahun kita sudah belajar banyak sekali ilmu. Dan ilmu tersebut hanya diri kita yang mengetahui dan merasakan manfaatnya. Namun bagaimana dengan teman-teman kita yang kurang beruntung, atau juga memiliki pola kurikulum yang berbeda dengan kelas yang kita ambil? Misalkan pendidikan model customize semacam Home Schooling, tentu memiliki pembelajaran yang berbeda. Bagaimana agar ilmu yang kita dapatkan bisa juga bermanfaat bukan hanya untuk diri kita, tapi juga bermanfaat bagi orang lain? Ya, Tuliskan! Sebaiknya, apapun profesi yang sedang kita tekuni, maka menulislah, agar ilmu yang kita dapatkan juga bisa bermanfaat bagi orang lain dan bernilai pahala. 

✍️ Menulis adalah bentuk penyampaian ide/informasi yang tidak langsung

Dengan menulis, juga menjadi solusi bagi yang bermasalah apabila menyampaikan ide atau gagasan lewat kata-kata langsung. Ada tipe orang yang lebih nyaman jika menyampaikan suatu pendapat atau gagasan lewat tulisan, dengan berbagai alasan seperti tidak percaya diri, bermasalah dengan penampilan, maupun demam panggung. Atau juga bagi ibu rumah tangga yang kesulitan mengatur waktu bila menyampaikan sebuah pemikiran/gagasan secara langsung di forum, bisa melakukannya lewat sebuah tulisan di media atau justru membukukannya. Maka menyampaikan ide dengan menulis bisa menjadi pilihan tepat. 

✍️ Menulis bisa menjadi salah satu media dakwah

Alangkah nikmatnya apabila hobi yang dilakukan selain memiliki manfaat  untuk diri sendiri juga bernilai ibadah dan menjadi sumber pahala jariyah. Makanya apa yang kita tuliskan bisa saja menjadi sumber surga dan neraka bagi si penulisnya. Sebaiknya menulis lah yang baik-baik, berisi informasi yang bermanfaat, tips, cerita yang menginspirasi, ide/gagasan yang dapat berguna bagi orang lain. Selama tulisan kita dibaca orang lain dan dimanfaatkan maka akan menjadi amal jariyah bagi penulisnya. Menulis juga bisa menjadi ladang dakwah dan syiar agama Islam untuk melawan kesesatan dan kebodohan.

✍️Menulis bisa menjadi sumber penghasilan

Semakin majunya dunia tekhnologi digital, maka media online semakin banyak membutuhkan penulis-penulis lepas. Meski blog ini belum setahun, namun alhamdulillah sudah ada 1-2 job yang mampir dan minta di review. Dari penghasilan itu meski belum seberapa, namun bentuk apresiasi dari orang lain terhadap tulisan kita sangat berpengaruh pada semangat menulis, yang tadinya hanya sekedar berbagi pengalaman, ternyata bisa dimanfaatkan oleh orang lain dan menjadi salah satu sumber penghasilan. Alhamdulillah.  

✍️ Menulis tidak butuh tekhnik khusus

Menulis tidak harus menguasai teknik maupun teori tertentu, yang dibutuhkan hanya latihan, latihan, dan latihan. Latihannya bagaimana? Ya menulis! Menulis apa? Menulis apa saja yang ada didalam pikiran kita, namun perlu diingat juga bahwa tidak semua tulisan kita layak di publikasikan, sebelum memposting sebuah tulisan ke dalam media sosial kita pikirkan lagi bahwa menulis bisa menjadi surga dan neraka kita. Jadi berhati-hati juga dalam mempublikasikan sebuah tulisan, karena pertanggung jawabannya bukan hanya didunia namun juga di akhirat. 

✍️ Writing is healing

Menulis adalah obat hati yang paling mujarab. Menulis itu bisa dijadikan sarana meluapkan emosi, pikiran, kecemasan dan kegalauan yang ada didalam pikiran kita. Ketika tidak ada teman atau orang yang dipercaya untuk berbagi cerita, setidaknya masih ada tinta dan kertas yang siap menampung segala cerita. Menulis adalah media curhat yang paling jujur, kita bisa mengungkapkan apa saja isi hati kita tanpa rasa takut apakah cerita kita di dengar atau tidak, ada rasa canggung atau tidak, malu dan sebagainya. Kita juga tidak perlu khawatir cerita kita akan tersebar ke orang lain jika itu bersifat pribadi, karena semua keputusan bergantung pada si penulis mau di publish atau disimpan sendiri. Sebaiknya sebelum mempublikasikan sebuah cerita atau sekedar curhat sebaiknya pikirkan berulang kali dampak dari tulisan tersebut. Apakah layak dibagikan kepada orang lain atau justru menjadi boomerang? Jika bersifat pribadi sebaiknya disimpan saja, namun jika berupa ide atau gagasan yang bisa menginspirasi orang lain boleh-boleh saja dibagikan ke publik. 

✍️ Sharing is Caring

Sering dengar istilah "Sharing is Caring" khan? Ini maksudnya apa yang kita bagikan sebagai bentuk rasa peduli kita, rasa sayang kita kepada orang lain. Sharing atau berbagi cerita ini lebih mengarah kepada bagaimana cerita kita bisa menjadi inspirasi atau pelajaran bagi diri kita pribadi dan juga orang lain. Makanya jangan sungkan untuk selalu menulis dan membagikan informasi yang berguna di akun media sosial kita. Agar medsos kita lebih bermanfaat dan tidak melulu curhat tentang kegalauan semata.

Baca juga : DIY: Membuat Hamper Untuk Hantaran Nikah 

Meski begitu, ada beberapa kaidah yang harus diperhatikan dalam menulis sebuah gagasan atau ide sebelum mempublikasikannya. 


Kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam menulis antara lain :

1. Menulislah sesuai ilmu yang paling dikuasai

Seperti menulis tentang agama, keuangan, kecantikan, ilmu pengasuhan, kerajinan dan sebagainya. Mengambil hanya satu tema tertentu saja akan menjadikan kita ahli dibidangnya, dan mampu menjadi branding bagi diri kita nantinya. Jika dilihat secara keseluruhan isi blog ini lebih banyak berbagi ilmu tentang pengasuhan anak, karena memang bidang ilmu itu yang paling aku kuasai. Sekaligus bisa berbagi pengalaman dalam mengasuh dan mendidik anak-anak kepada Ibu-ibu yang lain. 

2. Penulis  itu berperan ganda yaitu sebagai Creator dan Editor. 

Kapan seorang penulis harus berperan menjadi Creator dan kapan harus menjadi Editor? Penulis berperan sebagai Creator saat mulai mencari ide tulisan, mengumpulkan referensi, meriset dan mulai menuliskannya dalam bentuk artikel. Nah sebelum sebuah artikel naik posting, disitulah penulis berperan sebagai Editor. Berperanlah sebagai Editor yang sesungguhnya, seolah-olah penulis adalah pembaca artikel kita. Maka dari sana akan muncul bagian mana yang layak ditambah, dikurangi atau justru dibuang. Namun, jangan melakukan kedua peran secara bersamaan dalam satu waktu. Berikan waktu khusus kapan saat menjadi Creator dan kapan saat menjadi Editor.

3. Jangan plagiat atau mencontek

Meski saat ini dengan teknologi yang ada mudah sekali mendapatkan sebuah referensi tentang suatu ide tulisan yang ingin di bahas. Namun dalam mengambil sebuah informasi yang ada hendaknya memunculkan sumber tulisan sebagai referensi. Jangan malu untuk menampilkan banyak referensi dalam suatu tulisan, karena itu merupakan sebuah ketetapan yang baku dan  termasuk ke dalam adab kesopanan bagi penulis. Meski sebuah tulisan bisa dicontek semudah copy-paste dalam komputer, setidaknya pilihan diksi kalimat haruslah diubah sesuai gaya bahasa penulis. 

4. Menulis itu seperti syurga dan neraka

Karena menulis itu bertujuan ibadah, ladang dakwah dan syiar agama Islam, maka tujuan menulis bagi seorang muslim bukanlah hanya menjadi terkenal, menerbitkan buku yang best seller, atau mendapatkan keuntungan materi semata. Tapi tujuan menulis bagi seorang muslim berarti adalah surga dan neraka. Pertanggungannya bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Rabb Sang Pencipta. Selain bisa menjadi amal jariyah, bisa juga menjadi dosa jariyah. Jadi tulislah apa-apa yang baik-baik, agar bisa dimanfaatkan orang lain. Harap berhati-hati dalam menulis apakah bertentangan dengan hukum-hukum islam atau tidak.

Baca juga : Manfaat bercocok tanam dan ide peluang usaha


Jadi sudah tahu khan bahwa menulis itu bukan hanya mendapat keuntungan materi namun juga bisa menjadi sarana ibadah dan dakwah kepada orang lain. Jika belum ada forum yang siap menampung sebuah ide atau gagasan kita, mengapa tidak coba menuangkannya dalam bentuk tulisan? Siapa tahu ada yang tertarik memanfaatkan tulisan kita, selama tulisan kita di baca dan dimanfaatkan pembaca maka selama itu pula amal kebaikan mengalir kepada penulisnya, insya Allah.


Salam,

Mom QueenMQ 


#indonesiancontentcreator #odopiccday19 #mamincasharing #maminca_hobi #maminca_resolusi #HobiYangBernilaiDakwah #Hobi #30HariBercerita

Comments

  1. Masya Allah, kadang aku suka gampang bosen nih mba kalau nulis hehe
    Boleh dong mba kapan-kapan share tentang mendapatkan job itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi jangan bosen semangaat Mba Zakia, niatkan ikhlas menulis karena berbagi insya Allah rezeki datang tepat pada waktunya. InsyaAllah nanti ya

      Delete
  2. Saya merinding Mbak, ketika membaca kalau menulis itu surga dan nerakanya kita. Mengena banget, apalagi jika tulisan kita dishare ke public artinya opini yang kita sampaikan berpotensi untuk memberikan pengaruh kepada kehidupan orang lain.
    Syukron sharenya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, makanya pertanggung jawabannya bukan cuma didunia tapi juga di akhirat

      Delete
  3. Setuju banget mba.. menulis sebagai bentuk healing.. Saya mempraktikkannya kalau sedang pikiran mumet, pekerjaan numpuk tapi ga tau mulai dari Mana yang jadinya Makin stress..Saya coba tulisan, memang bukan buat publikasi, tapi sebagai bahan renungan Saya. Jadi pikiran kusut bisa diurai Satu per Satu, pekerjaan bisa dicicil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa betul sekali, menulis bisa mengurai dan mengeliminasi stress juga, apalagi buat ibu RT duh penting banget ini

      Delete
  4. Masih PR buat aku nih bisa buat tulisan lebih rapi dan teratur. apalagi nulis yang panjang. hehe masih harus terus dilatih lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akupun juga masih belajar Mba, yang penting bergerak aja terus, sambil belajar dan memperbaiki bisa sejalan kok

      Delete
  5. Wah sama bgt nih momquen ma judul blog ku writing is healing, tpi aku kok masoh sting ngerasa ga mood mau nulis apa ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aku juga begitu sih, kadang kalau mood nulis bagus bisa ngalir gitu aja, tapi kadang blank sama sekali alias writing block.

      Delete
  6. Sama kayak aku mba. Menulis juga jadi salah satu healing therapy. Senang rasanya bisa melepas berbagai macam unek-unek lewat tulisan.
    Kalau aku selesai nulis, tulisannya aku biarkan dulu seharian baru diedit mba. Biar ga bias waktu ngeditnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ini tips bagus... Kadang kalau kecepetan antara nulis dan ngedit biasanya banyakan ga naik posting wkwk

      Delete
  7. Yup. Setuju. Menulislah. Walau terkadang berhenti sejenak, tak mengapa. Semoga itu menjadi energi yang akan membawa pada tulisan yang lebih baik lagi. Semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Umi Nunung penyemangat setia... Terima kasih inspirasi atas lahirnya blog ini um

      Delete
  8. Saya setuju dengan pendapat mbak. Untuk memulai menulis aja tidak harus ribet seperti cara coding atau memperbaiki benda saja. Menulis itu caranya gampang, tinggal langsung menulis apa saja yang sesuai dengan perasaan yang ada di pikiran kepala kita


    Semangat menulisnya mbak !

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Coding : memperbaiki/ menyusun kode html di website

      Delete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular Post

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua  untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai. Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :( Saya mencoba

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem

DIY: Cara Membuat Hamper Mudah dan Simple untuk Hantaran Nikah

Dewasa ini tradisi berkirim hadiah seperti sudah menjadi tren baru. Banyak orang mengabadikan momen khusus sebagai ajang untuk berkirim pesan lewat hadiah. Jika dulu berkirim parsel atau hamper hanya dihari besar keagaamaan seperti lebaran atau natal. Sekarang berkirim parsel juga di berbagai momen bersejarah seperti di hari ulang tahun, menyambut kelahiran bayi, wisuda kuliah dan sebagainya. Baca juga :  Manajemen keuangan keluarga anti bocor ala Maminca   Berkirim hadiah ini dulu dikenal dengan sebutan berbagi parsel, namun sekarang lebih banyak dikenal dengan sebutan berbagi hamper. Sebenarnya tidak ada beda antara keduanya, mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, jika kita melakukan pencarian untuk kata parsel maka akan berarti bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya. Pun begitu ketika kita mencari dengan kata hamper