header maminca sharing

Ibu Karir dirumah

Konten [Tampil]


Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan

"nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan"

Suami membalas

"Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ."

Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak

" ibuu, ikuuutttt"

Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis.

Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru berencana dan Allah langsung mengabulkan doa kami.

Kemudian, sering berjalannya waktu kehamilanku memasuki bulan ke bulan dan akhirnya tiba saatnya mulai mengajukan cuti melahirkan, aku memperhitungkan dengan jeli kapan harus mulai cuti dengan kapan waktu perkiraan melahirkan. Aku memang sengaja mengambil waktu cuti diujung-ujung dekat dengan waktu kelahiran agar semakin banyak waktu dihabiskan mengurus anak kedua dan membersamai Queensha.

Ketika anak kedua lahir, aku mulai mendedikasikan waktu yang selama ini  kuhabiskan diluar, untuk mengurus dan mengasuh Queensha dan adiknya. Terutama Queensha, mengajak bermain, membacakan buku, membuat gelembung, menungguinya bermain difasum, dan banyak lagi. Pokoknya apapun yang penting membuat quality time bersama Queensha, hitung-hitung demi membayar kealpaanku didua tahun belakangan ini. Bahagia rasanya tatkala melihat Queensha tersenyum gembira sehabis bermain.

"Ah sungguh mami banyak kurangnya nak, semoga Allah masih memberi kesempatan untuk mengabadikan moment tumbuh kembangmu bersama mami yah"

Ini juga yang menguatkan keyakinan didalam hatiku  untuk mengundurkan diri dari hiruk pikuk dunia wanita karir. Walaupun dengan godaan masa depan karir yang saat itu terbilang bagus.Tapi demi melihat senyum anak-anak setiap hari terutama Queensha kecil ku, aku menjadi mantap untuk mundur teratur.

Menjelang berakhir masa 3 bulan cuti, Aku meminta bantuan pada mertuaku untuk menjaga anak-anak dirumah sembari aku membereskan pekerjaan ku di kantor dan bersiap untuk mengundurkan diri. Sedih? Tentu. Lebih dari 12 tahun aku berkarir dari satu perusahaan ke perusahaan lain hingga kutemui posisi nyaman saat ini. Namun dalam pikiranku, anak-anak ku dirumah adalah yang utama kupikirkan. Mereka lah masa depanku, tanggung jawab dan amanah ku sekarang.

Dua minggu setelah mulai normal bekerja, Aku menghadap atasan untuk menyerahkan surat pengunduran diriku. Dengan pertimbangan dan diskusi yang alot, mengingat keputusanku ini sangat mendadak dan tiba-tiba. Perusahaan juga  membutuhkan waktu untuk pergantian personil, belum lagi training yang memakan waktu 2 minggu dihead office Singapore bagi pengganti ku. Tetapi aku tetap kekeuh untuk resign dengan alasan mengurus keluarga.

Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa aku boleh mengundurkan diri dengan syarat penggantiku nanti harus sudah "PD" ketika menghandle pekerjaannya nanti. Kesepakatan kuterima, Toh anakku juga masih dalam pengasuhan nenek nya pikirku, jadi aku tidak begitu khawatir.

Setelah proses penerimaan kepegawaian dan training handover pekerjaan yang berjalan hampir dua bulan, dan sempat molor dari jadwal pengunduran diri yang seharusnya 1 Desember menjadi 15 Desember. Hal ini dikarenakan penggantiku masih membutuhkan pendampingan dalam pekerjaan terutama masalah shipping dokumen dan beberapa laporan bulanan. Butuh waktu untuk bisa meyakinkan penggantiku bahwa selepas aku tidak bekerja lagi pun dia masih bisa bertanya via telephone atau whatsapp padaku bila ada yang masih ingin ditanyakan. Meski terasa berat, akhirnya penggantiku mengatakan "Iya" dan kudapatkan keyakinan bahwa dia sudah bisa dilepas untuk memegang semua listing pekerjaanku

SAH! Terhitung tanggal 15 Desember 2019, aku resmi menjadi ibu karir di rumah, Ibu seutuhnya bagi kedua anak-anakku, Queensha dan Khaily. Ibu yang memberikan waktunya 24/7 mengawal tumbuh kembang anak-anak nya, ibu yang memasang radar paling sensitif terhadap makna suara tangisan buah hatinya. Dulu aku pernah bermimpi untuk mencapai karir diluar dengan capaian karir yang kutargetkan. Kupikir bisa sejalan antara karir diluar rumah dengan jam kerja yang padat 8 to 5 bahkan lebih. Namun banyak perang bathin dan pergolakan nuraniku sebagai seorang ibu dalam melaluinya. Aku lupa bahwa karir tertinggi seorang wanita adalah dirumah tangga suaminya. Sudah saatnya aku mengaplikasikan ilmu kehidupanku untuk mereka, mencari ridho Allah lewat ridho suami, mendidik anak-anak, membersamai mereka.Aku tidak ingin salah menempatkan prioritas antara yang mubah (berkarir) dan melewatkan yang wajib (mendidik anak-anak). Capaian target tertinggi dalam karirku sekarang adalah mendidik anak-anak untuk menjadikan mereka panji-panji generasi rabbani, berkontribusi untuk melahirkan generasi emas islam untuk menguasai dunia.

Aku juga ingin meneladani sikap seperti ummu Aiman yang sukses mendidik dan menjadikan Utsamah bin Za'id sebagai panglima besar diusia muda, atau seperti Ibunda Za'id bin Tsabit, An Nawwar binti Malik, yang dengan sentuhan keibuan nya sebagai madrasahtul 'ula, mampu melihat kecerdasan luar biasa pada buah hatinya. Menjadikan Za'id bin Tsabit sebagai salah satu tim penulis wahyu diusia muda, 13 tahun. Bahkan Za'id bin Tsabit juga mampu menguasai bahasa ibrani dan Suryani dalam waktu singkat. Semua tercatat dalam tinta sejarah islam, prestasi karir ibu sebagai pencetak generasi emas dimasanya.

Aku menuliskan ini bukan untuk membuat galau para ibu bekerja, ataupun membuat mereka merasa bersalah dengan pilihan mereka. Aku mengerti kondisi setiap keluarga tidak bisa di pukul rata. Ada juga ibu bekerja yang berhasil mengantarkan anak-anak nya menjadi orang sukses, menjadi penghafal qur'an, menjadi penemu, dan sebagainya walaupun tetap berkarir diluar rumah.Aku sungguh salut pada ibu bekerja yang tetap bisa membagi waktu antara bekerja dan membersamai keluarga, anak dan pasangan.Aku menguatkan dalam doa semoga Allah memberi jalan kebaikan bagi ibu bekerja dan Allah mencatatkan sebagai menjadi ladang pahala ibu bagi keluarga.

Bagiku yang sudah melewati kondisi ini, sebagai ibu bekerja yang full time kondisi ini sangatlah tidak mudah. Aku yang dengan anak-anak berusia dibawah 3 tahun dan seorang bayi, harus berjibaku membagi waktu antara tugas domestik dengan tugas pekerjaan.Detik demi detik terasa sangat berharga saat dirumah. Belum lagi, kegalauan dikala hujan,berpikir nanar tentang anak-anak sembari menatap jendela kantor, bagaimana mereka, menangiskah, mencari ibunyakah, laparkah, kedinginankah,  kutepiskan kecemasan ini dalam asa yang panjang, doa yang tiada henti.  Menjadi orang pertama yang bisa memeluk mereka dikala hujan, meniup luka disaat mereka terjatuh,bersegera menggendong ketika mereka menangis, menyuapi mereka makan, adalah perkara kecil yang sangat ingin kulakukan.

Semua kutulis dalam doa dan kuadukan pada Rabbku agar bersegera "memampukan kami" dalam membersamai anak-anak. Dan kini Allah menjawab doaku.

"Anak-anakku.. 
Melayani kalian adalah karir  tertinggi mami saat ini. Semoga Allah berkenan mengizinkan mami membersamai dan mendidik kalian hingga kita tetap bisa berkumpul kembali dijannah Allah."


Alhamdulillah alladzi bini'matihi tatimmush sholihaat 
(segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya semua urusan menjadi baik). 

" Terima kasih anak-anak ku, Queensha dan Khaily telah bersedia membantu mami, mendewasakan diri ini memilih yang terbaik, memberi kesempatan untuk mami bersama kalian setiap hari." 


Bagiku bisa menulis dan berbagi adalah bentuk rasa syukur ku kepada Allah dan menepis kerinduan akan 12 tahun masa-masa bekerja. Untuk ibu bekerja yang lain doa yang sama untukmu, aku menguatkanmu, aku paham posisimu, aku mengerti pilihanmu. Berdoa lah pada Allah, mintalah untuk dikuatkan, mintalah untuk diberi pilihan dan akhir yang indah, kehidupan yang lebih baik. Allah bersama Ibu-ibu hebat mampu mendidik anak-anak cerdas dari rumah.

____

Salam,

Mom Queen
ibu karir dirumah

Phai Yunita S Wijaya
Hi Im Yunniew, ibu dengan 3 orang anak yang memiliki hobby menulis dan literasi. Marriage and parenting enthusiast, Womanpreneur dan Consultant franchise Laundry and minimarket, ibu pembelajar, dan tukang review produk temen :)

Related Posts

24 comments

  1. wah! keputusannya yang berat mbak ya! tapi itu pilihan yang tepat kok. aku juga ntar kalau udah punya anak bakal resign dan kalau anaknya udah sekolah lanjut kerja lagi^^ heheeh selamat menjadi ibu rumah tangga ya mbak^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerr banget mb.. Ahaayy kayaknya kita sama😂

      Delete
  2. terharu banget bacanya. luar biasa pasti beratnya perjuangan itu. insyaallah ini yang terbaik ya. semoga kita semua mampu mendidik anak-anak kita menjadi anak anak soleh solehah penerus generasi. aamiin.

    ReplyDelete
  3. Masyaallah semoga pilihannya berkah ya mbaakuuuu :"

    ReplyDelete
  4. Masya Allah 😢
    Keputusan yang gak mudah ya mba tapi insya Allah itu yang terbaik ya mba

    ReplyDelete
  5. terharuuu, semoga kelak bisa seperti itu :)

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, emang nikmat jdi ibu rumah tangga ya mba, klo bukan menuruti perintah suami aku jga mgkin bsa kehilangan masa2 yg luar biasa dgn anakku ini mba

    ReplyDelete
  7. Keputusan yang sulit pasti ya mba.. semangatt

    ReplyDelete
  8. Masya Allah. Selamat menjalani karir barunya mba 😄

    ReplyDelete
  9. MasyaaAllah, Mami selalu menginspirasi, Jazaakillahu khairan.

    ReplyDelete
  10. MasyaAllah keputusan yang berat, apalagi dengan sudah ditemukannya kondisi nyaman dalam pekerjaan. InsyaAllah ini keputusan yang terbaik ya mbaa. Terimakasih untuk sharingnya

    ReplyDelete

Post a Comment