header maminca sharing

Membiasakan anak berhijab sejak dini - Part 2

Konten [Tampil]

Queensha dan Khaily sudah terbiasa menggunakan hijab dalam keseharian mereka. Mau keluar rumah, mereka akan langsung gercep mengambil hijabnya. Saat melihat ibunya keluar rumah, mereka langsung minta dipakaikan hijab. Khaily, bayi yang berumur hampir 1.5 tahun kami akan langsung spontan menunjuk kearah tempat hijabnya biasa diletakkan sambil berkata :

"ibaak... Ibaak... Ibaak" ujarnya dengan maksud mengambilkan hijab dan memakaikan padanya. Pun begitu adanya dengan sang kakak, Queensha, 3 tahun 11 bulan, meski terkadang lupa tetapi dia akan langsung mengambil hijabnya saat keluar pintu rumah. Karena kami memang mensyaratkan, jika ingin keluar rumah harus memakai hijab dulu. Pernah suatu ketika Queensha menangis sendiri didalam rumah, tidak bisa ikut keluar karena dia tidak menemukan dimana letak hijabnya. 

Alhamdulillah anak-anak perempuan kami sudah mulai paham tentang konsep kaidah aturan berbusana dalam islam. Pengenalan perkara aurat pun sudah mulai sedikit-sedikit kami ajarkan pada mereka, terutama bagian-bagian tertentu yang tidak boleh terlihat sama sekali.

Awalnya kami mengajarkan konsep tarbiyyah jinsiyah dulu, baru masuk konsep pengenalan aurat, lalu sekarang dalam tahap aturan berbusana dan membentuk kebiasaan. Kebiasaan perlu terus digaungkan, agar kelak bisa menjadi karakter mereka. Sepengalaman kami, dalam konsep pengenalan aurat bisa dimulai dari masa newborn. Misalnya dengan sering mengajak bayi berbicara kita bisa mengenalkan bagian mana saja yang seharusnya boleh tampak maupun yang tidak. Bagian mana yang boleh disentuh orang lain maupun yang dilarang. Bayi itu cerdas, meski belum bisa berbicara dan menjawab dengan bahasa yang kita pahami, tetapi apa yang kita ajarkan pada mereka akan terekam sempurna didalam bawah sadar mereka. 

Setelah sering diajak berbicara mengenai konsep aurat, lalu mulai pelan-pelan sambil menerapkan dalam cara berpakaian sehari-hari. Sebenarnya cara membiasakan anak berhijab bagian 1 sudah pernah aku share di blog ini sebelumnya, bisa cek juga di sini. Artikel kali ini juga merupakan kelanjutan dari postingan 6 bulan lalu itu, masih seputar membiasakan anak berhijab sejak dini bagian 2. Hmm hampir 6 bulan, baru bisa lanjut membahas tema yang sama haha. 

Baik kembali lagi ke pokok bahasan, sejak awal menikah, aku dan suami sudah  sepakat bahwa jika nanti diamanahi anak-anak perempuan maka menutup aurat harus sudah ditekankan sejak awal kelahiran mereka. Alhamdulillah ternyata kedua anak-anak kami perempuan, semoga nanti yang ketiga laki-laki agar ada cerita cara mengenalkan konsep tarbiyyah jinsiyah ke anak lelaki. Doakan ya, amin. 

Meski awalnya saat kami mulai memakaikan hijab pada bayi kecil kami yang pertama, Queensha, banyak pendapat yang mengatakan, 

"ih, masih bayi sudah dipakein hijab, kasian bayinya gerah"

"tuh kan, anaknya nangis terus. Dia ga mau pake hijabnya tuh"

"ih kepanasan nih, pasti karena hijabnya" 

" Lepasin ajalah hijabnya dulu, masih bayi juga. Belum wajib menutup aurat full" 

dan masih banyak lagi pendapat miring yang  intinya menyuruh kami jangan dulu buru-buru dipakaikan hijab pada bayi, terutama bayi baru lahir.

Lantas bagaimana tanggapan kami? Terutama tanggapan aku sebagai ibunya? Kalau suamiku cuma menanggapinya dengan tersenyum, kalau aku kadang kujawab simpel dengan "ga apa-apa biar terbiasa nantinya" kadang cuma tersenyum. 

Ya, setiap keluarga memiliki pandangan dan aturan keluarga sendiri-sendiri. Hendak dibawa kemana arah keluarga ini nantinya, tergantung dari visi misi yang dianut oleh kedua pemimpin rumah tangga itu sendiri. Apapun itu, yang terpenting tujuan terbaik dari visi misi keluarga adalah bersama-sama menyelamatkan diri dari api neraka. Seperti tercantum dalam QS At-tahrim ayat 6. 

Ayat inilah yang menguatkan kami untuk terus menerapkan kepribadian islam dalam keseharian, dimulai dalam hal berbusana. Karena cara kita berbusana, berpakaian akan mencerminkan identitas siapa diri kita. Kami pernah berkunjung ke salah satu restoran di Singapore, ketika sedang berlibur kesana. Saat sudah sangat kelelahan dan merasa lapar, kami bergegas mencari resto terdekat untuk mengisi perut dan bersantai sejenak. Kami berada disekitar mall yang terintegerasi dengan MRT dan food court. Banyak sekali jenis makanan yang dijual di food court tersebut, makanan segala rupa dari berbagai negara ada disana. Yang menarik perhatianku adalah menu Korean taste. Saat baru melihat menu makanan yang ditempel di dinding toko, ternyata sang pelayan mengatakan "sorry, we are not halal" Ya Tuhan, padahal kami hanya ingin memakan mie, jenis yang biasa dimakan kalau di Indonesia ya.  

Astagfirullah hampir saja kami memasukkan makanan haram ke dalam tubuh ini jika saja sang pelayan tidak memberitahu. Langsung suamiku mengucapkan terima kasih dan beranjak mencari tempat lain yang menjual makanan halal. Dari mana sang pelayan tahu kami seorang muslim? Tentu saja dari cara kami berbusana, aku memakai hijab. Andai saja aku tidak memakai hijab, siapa yang peduli? Toh wajah kami hampir sama saja ( Iya kah hehe). Inilah manfaat hijab yang utama yang kurasakan, sebagai identitas diri sebagai seorang muslim sekaligus benteng dari kemaksiatan. 

Maka dari itu pelajaran penting ini selalu kami mengambil hikmah, bahwa tidak ada yang salah bila menerapkan pemakaian hijab sedini mungkin. Malah mempermudah pembiasaan ke anak-anak. Ketika mereka dewasa atau sudah mencapai baligh, kita tidak perlu repot lagi menyuruh mereka mengubah penampilan. 

Namun dalam penerapannya, pemakaian hijab pada anak meski sedikit tricky. Karena jika tidak memiliki cara-cara tertentu yang menarik bagi anak, maka bisa saja mereka menolak. Karena lingkungan disekitar kami masih minim bayi-bayi sudah berhijab. Anak-anak kerap mencontoh perilaku lingkungan sekitar. Makanya, perlu konsep pengenalan yang kuat dari lingkungan primer-nya dulu. Keluarga inti harus Menanamkan konsep aurat berulang-ulang dan konsisten dalam penerapan. 

Pengajaran yang bisa dilakukan dalam menerapkan konsep berhijab sejak dini berdasarkan pengalaman dalam keluarga kami, mungkin bisa menjadi referensi. Tidak mesti 100% diikuti, karena kami yakin setiap keluarga punya cara dan pandangan tersendiri dalam penerapan hijab dan tata cara berbusana. 

Mengajarkan konsep aurat

Dimulai dari masa bayi baru lahir sudah dikenalkan tentang pendidikan kejenisan (tarbiyyah jinsiyah). Konsep laki-laki dan perempuan. Bahwa Allah SWT menciptakan hanya ada 2 jenis kelamin. Caranya bisa beragam, dengan mengajak bayi mengobrol saat sedang mengganti popok, menyusui, sedang membacakan buku, mengajak bermain, mendongeng, dan lainnya. 

Baca juga : Ayo membaca nyaring (read aloud) bersama Lets Read 

Budayakan malu bila tidak menutup aurat. 

Kami sering mengajak anak anak-anak membaca dan bercerita. Didalamnya kami selipkan juga pelajaran tentang akidah, salah satunya konsep aurat dan budaya malu. Bisa juga juga dalam permainan bermain peran, intinya bagaimana kita membahas akan budaya malu bila tidak menutup aurat, tidak memakai hijab, dan sebagainya dengan bahasa anak-anak. 


Mengajarkan kaidah berbusana dalam islam. 

Didalam islam, sudah sangat jelas mana batasan aurat laki-laki dan mana batasan aurat perempuan. Inilah yang selalu disoundingkan ke anak-anak. Agar mereka selalu ingat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Membiasakan mengenakan hijab kemana pun pergi. 

Meski hanya keluar di teras depan rumah, biasakan pada mereka untuk terlebih dulu mengenakan hijab. Mungkin ini yang banyak belum bisa diterapkan semua orang, sepertinya sangat ekstrim sekali ya. Namun jika dilakukan meski masih kecil kelak dampaknya sangat besar pada kebiasaan mereka. Sekali lagi ini yang berlaku di keluarga kami, mungkin akan berbeda di dalam keluarga lain. 

Memberi teladan 

Ibu adalah role model bagi anak perempuan. Jadi apapun yang dikenakan ibu akan menjadi contoh bagi anak perempuannya. Maka usahakan ibu selalu mengenakan busana syarii yang sesuai dengan syariat islam. 

Kerja sama antara ayah dan ibu. 

Rulenya adalah apa yang diterapkan oleh ibu, ayahnya juga harus mengikuti. Tugas ayah adalah mengingatkan, membiasakan dan menerapkan pada anak-anak. Intinya kedua orang tua harus sepakat. Jangan sampai ibu sudah menerapkan dan memberi contoh, ayahnya tidak ikut membiasakan ke anak-anak. 

Misalnya, biasa anak-anak lebih dekat ke ayahnya, karena ayah senang mengajak mereka jalan-jalan. Saat akan pergi, ingatkan anak-anak untuk terlebih dulu mengenakan hijabnya, bila ingin ikut ayah. Atau bisa juga dengan menggunakan challenge kecil, siapa yang lebih dulu memakai hijab akan dapat hadiah dari ayah dan semisal. Kerja sama dan dukungan seperti ini akan sangat membantu membiasakan anak-anak berhijab.

Baca juga : membiasakan berhijab sejak dini part 1

Semoga apa yang kita ajarkan ke anak-anak akan menjadi ladang pahala jariyah bagi kita di sisi Allah. Sebaik-baik harta yang ditinggalkan adalah ilmu yang bermanfaat, dan sebaik-baik keturunan adalah anak-anak yang saleh dan salehah. Insya Allah.


Salam,

Mom QueenMQ


#odopicc #30hbcicc 

#indonesiancontentcreator 

#odopiccday3 #mamincasharing



Phai Yunita S Wijaya
Hi Im Yunniew, ibu dengan 3 orang anak yang memiliki hobby menulis dan literasi. Marriage and parenting enthusiast, Womanpreneur dan Consultant franchise Laundry and minimarket, ibu pembelajar, dan tukang review produk temen :)

Related Posts

Post a Comment