Langsung ke konten utama

Kriteria Memilih Provider Persalinan


Melahirkan adalah proses yang sakral bagi seorang wanita, maka dalam proses ini hendaknya terjadi secara alami dan minim intervensi. Tubuh wanita dirancang sedemikian rupa untuk bisa hamil dan melahirkan dengan sempurna. Saat dalam kondisi hamil rahim wanita bisa membesar hingga 50 kali lipat dari ukuran biasa, sedangkan tubuh wanita bisa menahan sakit hingga 57 del (normal hanya sampai 45 del) saat melahirkan yang mana setara dengan 20 tulang patah bersamaan.  

Proses hamil dan melahirkan adalah kodrat seorang wanita, semua terjadi sesuai fitrahnya. Tidak ada wanita yang tidak tahu caranya melahirkan jika sudah saatnya melahirkan. Sebenarnya tidak ada langkah yang pas untuk setiap wanita cara melahirkan yang baik, tidak banyak robekan perineum, gentle, tidak panik, tidak takut dan semisal. Namun persalinan yang diupayakan dengan ilmu akan menjadi persalinan yang gentle dan minim trauma. Memang proses melahirkan terjadi begitu saja, mengalir seperti air. Jika bayi didalam kandungan sudah waktunya dilahirkan maka dia akan memilih caranya sendiri untuk keluar, entah lewat operasi sesar atau normal spontan pervaginam. 

Untuk mencapai kelahiran yang gentle dan minim trauma bisa diusahakan dengan memberdayakan diri dengan ilmu seputar hamil dan melahirkan. Sehingga ketika nanti diamanahi Allah buah hati tidak serta merta kaget dengan kejadian ini itu. Selagi masih bisa belajar, pelajari semua bidang ilmu seputar keibuan. 

Baca juga : Treatmen alami selama kehamilan agar persalinan lancar

Makanya saat mengetahui sudah positif hamil hendaknya diperhatikan sekali mau memilih rumah sakit mana yang hendak dituju dalam membantu proses persalinan buah hati nantinya. 

Berdasarkan pengalaman pribadi, aku akan sharing mengenai beberapa kriteria dalam memilih rumah sakit atau klinik bersalin untuk membantu proses persalinan.

 


1.Kenyamanan (Pelayanan)

Bisa mencari tahu dari referensi orang yang sudah pernah berobat atau melahirkan di klinik tersebut. Bisa menanyakan juga mengenai pelayanan dan cara penanganan saat melahirkan, lebih tepatnya minta ulasan tentang klinik atau rumah sakit tersebut. Atau sebaiknya minta rekomendasi dari orang-orang terdekat tentang rumah sakit yang pernah dijadikan tempat bersalin. 

2. Kualitas Provider

Nah ini sejalan dengan baik buruknya pelayanan suatu rumah sakit atau klinik. Jika tenaga kesehatan seperti bidan atau dokternya memiliki sikap dan pelayanan yang ramah, sabar, profesional, penanganan cepat dan tepat, pro normal, dan sebagainya tentulah kita sebagai pasien tidak segan untuk merekomendasikan atau memberi 'iklan' gratis ke sesama teman dekat. Apalagi bagi ibu baru, pelayanan yang baik, nakes (tenaga kesehatan) yang sabar, dan ramah tentu menjadi modal utama dalam menentukan tempat melahirkan. 

3.Jarak

Jarak menjadi urutan ke-3 dalam menentukan klinik atau rumah sakit mana yang hendak dituju. Karena ketika kontraksi menyerang, perasaan seorang wanita inginnya segera ditangani dan di cek oleh ahlinya. Terbayang jika jarak dari rumah ke rumah sakit saja memakan waktu berjam-jam, duh semakin panik nantinya. Aku merekomendasikan jarak maksimal 5 km untuk menuju tempat bersalin, pengalaman aku jarak 1 km saja dari rumah ke klinik, rasanya lama sekali hehe

4.Fasilitas 

Berbicara mengenai fasilitas, yang menjadi bahan pertimbangan seperti ketika ada keadaan emergency dan mengharuskan untuk dilakukan tindakan medis tertentu, maka bagaimana dengan fasilitas yang ada. Apakah faskes tersebut memiliki fasilitas untuk tindakan emergency semacam ruang operasi, tenaga kesehatan yang mumpuni, atau koneksi ke rumah sakit tertentu atau tidak. Sebagian besar klinik bersalin memiliki kerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit besar. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk bahan pertimbangan dalam memilih faskes. 

5.Biaya 

Biaya melahirkan normal untuk sebuah klinik bersalin berkisar antara 1,5 juta - 2,5 juta. Sedangkan untuk biaya persalinan dengan tindakan operasi sesar berkisar antara 5 juta - 10 juta untuk kelas standar, harga akan menjadi lebih tinggi lagi tergantung dari pilihan kelas rawat yang dipilih nantinya. Sebaiknya jika terjadi tindakan emergency saat melahirkan lebih baik jika menggunakan asuransi kesehatan baik yang disediakan pemerintah atau pun asuransi mandiri. Karena biaya persalinan akan semakin membengkak jika menggunakan jaminan sebagai pasien umum, daripada bingung saat didepan kasir lebih baik persiapkan kebutuhan biaya sejak awal kehamilan. 

Baca juga : Buah yang baik di konsumsi saat hamil

Bukan hal aneh jika seorang wanita yang akan melahirkan akan lebih tenang apabila biaya melahirkan semua di cover asuransi. Karena dibutuhkan budget tersendiri dalam biaya persalinan yang tentunya lumayan. Maka perhatikan juga apakah provider persalinan yang dituju bisa menggunakan 'kartu sakti' semacam asuransi atau tidak. Jika tidak bisa, berarti biaya persalinan 100% di cover secara pribadi. Informasi ini sebaiknya diketahui jauh hari sebelum persalinan. 

Demikianlah sedikit catatan mom Queen dalam memilih provider persalinan. Semoga tulisan singkat ini bisa membantu para calon ibu dalam menentukan tempat bersalin yang nyaman, dan semoga persalinan moms semuanya lancar, normal dan minim trauma, amin. 


Salam, 

Mom QueenMQ 


#indonesiancontentcreator #odopiccday20 #mamincasharing #maminca_providerpersalinan #menulis #yuknulis #maminca_resolusi #KlinikBersalin #KriteriaProviderPersalinan #melahirkan #30HariBercerita


Komentar

  1. Aamiin, mudah2an lancar buat yg akan melahirkan.
    Aku jg suka observasi dlu mana provider yang cocokk dan nyaman.

    BalasHapus
  2. wah memang belanja provider itu kudu wajib banget pas di awal2 ya mbak . tidak hanya review, bener2 harus dateng ngobrol dan riset kecil2 biar tau providernya cocok apa engga ya mbak

    BalasHapus
  3. Penting banget ya kak belanja provider ini, harus yang cocok juga pastinya.. semangat selalu mbaaak... Salam kenal ya dari Iconcent creator 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul kak, waalaikumsalam Salam kenal juga kak, senang sudah berkunjung

      Hapus
  4. persalinan bukan hal yang sederhana ya, harus di rencanakan dengan matang. soalnya aku pernah selama hamil ngecek kehamilan dimana, ngelahirin dimana, beda tempat. soalnya ternyata pas hari H melahirkan si bidan ini malah bikin saya gak nyaman. akhirnya malah pindah dadakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuhh jangan sampe gitu ya teh, semoga ga trauma ya

      Hapus
  5. Bener nih. Untuk memilih provider persalinan memang perlu pertimbangan. Jangan asal memilih. Soal kenyamanan itu yang utama. Alhamdulillaah dua kali melahirkan dapat provider yang bagus dan mendukung buat lahiran normal. Even gak sampai menerapkan gentle birth tapi setidaknya persalinan yang saya jalani terasa nyaman dan minim trauma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah senangnyaa ya kak kalau bisa lahiran normal

      Hapus
  6. Bener banget nih 5 kriteria di atas untuk memilih provider persalinan, sebaiknya memang disiapkan sejak awal hamil ya. Jadi udah nggak ribet saat mau menjelang lahiran.

    BalasHapus
  7. Setuju banget nih mom sama 5 kriteria diatas, kaya aku pas lahiran yang pertama kurang adanya survey ke provider jadinya kecewa banget sama pelayananya huhhhhy

    BalasHapus
  8. Betul banget. Saya setuju. Apalagi untuj yang pertama kali melahirkan, wajib mempersiapkan seperti ini.

    BalasHapus
  9. Wah masih ingat dulu melahirkan 3 anakku pakai kartu kesehatan, apaya askes klo tak salah, prosedurnya gampang banget, nggak kayak sekarang ribet.

    BalasHapus
  10. Infonya menarik banget nih. Memang pemilihan provider yg tepat membuat sangat ibu nyaman pas Hari H nya ya.. Aku dl jg compare dl antara diantara beberapa provider baru diambil yang sekiranya sesuai pilihan hati baik aku maupun suami

    BalasHapus
  11. wah ga boleh asal milihnya ya kak, ilmu baru buat cewek single yang nnti bakal jadi ibu, hihihihi thx bundaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sama-samaa maaf atas segala kekurangan kak

      Hapus

Posting Komentar

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Postingan populer dari blog ini

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem