header maminca sharing

No TV, We are still happy

Konten [Tampil]

Pernah ga sih terbayang jika didalam rumah kita ga ada TV , ga punya HP, minim laptop dan sejenisnya? Aku jadi mengingat kenangan masa puluhan tahun lalu, diera 90an saat masih kanak-kanak. Saat itu jangankan TV , listrik saja baru beberapa rumah saja yang terpasang. Dan jika dirumahnya ada TV pastilah itu dari keluarga berada. Keluarga kami, termasuk keluarga pas-pasan, bisa makan saja udah pas banget itu. Jadi bisa di pastikan rumah kami tanpa TV sama sekali. Listrik pun baru terpasang beberapa tahun kemudian.

Ah saat itu, masa-masa yang sangat indah tapi hanya untuk dikenang. Kalau ditanya, mau kembali ke zaman itu lagi? Oh tentu tidak hehe. Makanya saat sudah dewasa, bisa mencari uang sendiri, bisa membeli fasilitas untuk hiburan seperti TV, HP, laptop dan ragam hiburan lainnya rasanya luar biasa. Keseharian pun sudah sangat akrab dengan benda-benda nan menghibur ini. Istilahnya "tiada hari tanpa screen time."

Baca juga : Pengalaman memutus candu gadget pada anak

Saat sudah menikah dan memiliki anak pun, mereka sangat 'akrab' dengan dunia screen time. Meski sudah dibatasi durasinya, tetap saja tidak bisa membendung animo mereka akan dunia screen time. Pernah anak pertamaku kecanduan gadget padahal usianya masih satu tahunan. Ya Allah, itu effort untuk melepas dari candu gadget luar biasa. Dengan usaha yang konsisten dan doa yang super kencang, akhirnya bisa juga berhasil melepaskan dari ketergantungan gadget.

Mengurangi candu TV

Dan sekarang, usaha untuk melepaskan anak-anak dari pengaruh nonton TV. Bermula dari tahun lalu anakku tiap hari nonton TV dengan rentang waktu yang lama. Biasanya sekali nonton bisa sampai 4-5 jam di pagi hari. Jika tidak di stop, maka akan terus berlanjut hingga dia kelelahan bahkan tertidur didepan TV. Belum lagi sore hari sekitar 2 jam, dan malam hari 2 jam. Jadi total waktu untuk nonton TV bagi anakku hampir 9 jam seharian. Ini sangat menjadi perhatian kami sebagai orang tua. 

Akhirnya, aku dan suami memutuskan untuk mengurangi 'jatah' nonton TV. Dimulai dari hanya nonton TV di pagi dan sore hari, itu pun dengan syarat-syarat tertentu. Beberapa minggu diterapkan, anakku mulai terbiasa. Dalam waktu sebulan durasi menonton TV hanya sekitar 3-4 jam sehari. Alhamdulillah sudah memangkas waktu screen time dan dia mulai aktif dan tertarik dengan dunia kecilnya, bermain, membaca buku, dan mengeksplor ragam mainan dirumah. 

Belajar bahasa lewat tontonan dan lagu di TV

Saat kami mengamati kemampuan berbicaranya, anak pertamaku cenderung terkategori anak dengan keterlambatan bicara atau speech delay. Dia baru bisa mengucapkan kata pertama di usia 2 tahun. Jadi bulan-bulan berikutnya PR-nya adalah melatih kemampuan bicaranya. Ini juga mungkin disebabkan aku yang tidak terlalu fokus mengamati tumbuh kembang anakku, karena saat itu masih bekerja hingga kemudian aku memutuskan untuk resign dan bekerja dari rumah sambil merawat anakku. 

Baca juga : Ibu karir dirumah 

Kemudian kami rutin membacakan buku, memilihkan tontonan yang berbahasa Indonesia (bukan tontonan bahasa lain), Tujuannya agar anakku fokus belajar satu bahasa dulu. Mengajak menyanyikan lagu, bercerita dan banyak lagi. 

Sekitar 6 bulan berjalan, barulah kelihatan dampak dari usaha kami. Dari yang bicaranya cadel, belum benar pelafalan, akhirnya bisa mengucapkan kata demi kata dengan jelas. Meski masih banyak kosakata yang perlu di ajarkan padanya. Anakku banyak belajar bahasa dari tontonan TV dan lagu-lagu yang didengarnya, tak heran kadang bahasa yang dikatakannya seperti kamus baku bahasa Indonesia. Tidak masalah, yang penting sudah jelas bahasa dan bicaranya. 

Menghilangkan kebiasaan menonton sama sekali 

Menjelang usianya 4 tahun ini, kami merasa sudah cukup banyak waktunya tersita hanya untuk menonton TV. Karena sebentar lagi kami berencana memasukkannya di sekolah TK, maka kami memutuskan untuk menghilangkan kebiasaan menonton sama sekali. Dan terpikirlah ide untuk memutus saja program TV berlangganan dirumah. Setahun mengajukan pemutusan TV langganan, barulah 12 bulan kemudian di approved (lama ya hehe). Sekitar pertengahan Desember kemarin TV berlangganan kami dicabut oleh pemilik provider. 

Perbanyak aktivitas anak 

Aku yang memang tidak terlalu suka menonton, tidak terlalu bermasalah. Tapi anakku, yang biasa menonton TV di pagi hari dan sore hari sempat bertanya-tanya "kenapa TV-nya banyak semut mami? " kujawab kalau TV-nya lagi rusak. Terlihat kecewa di wajahnya, namun aku mulai mengalihkannya dengan mengajak bermain dengan permainan yang sudah kusiapkan. Sehari dua hari masih juga dia ingin menonton TV. Namun di hari ke-7 dia sudah tidak lagi bertanya dan sepertinya sudah tahu kalau TV-nya rusak. Yeiy, sekarang saatnya bisa mengajarkannya banyak hal. Mulai lah aku menerapkan jadwal harian dengan ide-ide permainan baru setiap harinya. 

Yang terpenting sekarang fokusnya adalah banyak membacakan buku, mematangkan kemampuan bicaranya lagi, terutama kata-kata yang belum sempurna pelafalannya. Mengajaknya bernyanyi, melatih kepercayaan dirinya, mengasah kemampuan motoriknya, dan masih segudang PR lagi bagi kami.

Baca juga : Pola pengasuhan anak pertama 

Setelah hampir sebulan dirumah kami tidak ada TV ataupun acara menonton TV. Banyak hal baik yang kami rasakan. Terutama dampaknya bagi anak-anak yang bisa kami petik.

Anak-anak senang membaca dan eksplorasi aktivitas

Anak-anak sekarang lebih akrab dengan buku-buku bacaan. Dulunya buku yang kami punya paling dibaca 1-2 kali sehari. Sekarang setiap saat anak-anak selalu berinteraksi dengan buku. Pernah anak kami yang kecil 1,5 tahun ketika bangun tidur dengan mata masih mengantuk, sambil membawa botol susu, bantal guling, dan buku menghampiriku, minta dibacakan buku. Masya allah, ini pemandangan yang jarang terjadi selama ada TV. 


Foto membaca dan aktivitas cutting line

Bisa bersepeda

Karena saking sibuknya anak-anak selama ini dengan aktivitas menonton TV, mainan dirumah yang dibeli jarang sekali disentuh. Termasuk sepeda, sepeda ini dibeli saat anak pertama kami berusia 1 tahun. Masih mulus, karena memang jarang dipakai, apalagi dibawa keluar. Dan sekarang karena banyak jadwal mainnya, maka sepeda menjadi alternatif pilihan permainan. Dan hasilnya, baru beberapa hari dimainkan. Anak kami sudah bisa mengendarainya. Ya Allah rasanya terharu sekali, karena selama ini sudah susah payah mengajari namun tak kunjung bisa. Sekarang sudah bisa mengayuh sepeda sendiri tanpa perlu didorong-dorong lagi. 


Couple time dan family time

Tidak adanya acara nonton TV lagi di malam hari membuat aku dan suami lebih banyak waktu untuk diskusi seputar rumah tangga. Biasanya couple time kami di weekend saja, sekarang bisa kami lakukan setiap hari, diwaktu pagi dan malam hari. 


Kebersamaan dengan anak-anak pun juga terasa lebih intens. Biasanya dimalam hari suamiku sibuk menonton television dan mengamati berita. Sekarang saat-saat prime time benar-benar bisa bersama anak-anak tanpa jeda nonton TV. Suamiku bisa ada waktu membacakan buku untuk anak-anak, aku pun punya waktu untuk me-time barang 15-30 menit untuk menulis. Namun terkadang aku juga ikut nimbrung dalam kebersamaan mereka. 

Baca juga : Menerapkan disiplin pada anak

Lantas bagaimana kami mencukupi kebutuhan untuk meng-update informasi terkini? Kami masih bisa melakukannya lewat gawai dan laptop yang ada. Dan sesekali anak-anak pun kami sajikan lagu atau film edukatif yang kami donlot lewat youtube. Tapi durasi menontonnya masih sedikit. Fokusnya adalah menghilangkan kebiasaan nonton TV dan memperbanyak waktu bermain dan belajar untuk menyesuaikan dengan ritme waktu sekolahnya nanti. 

Sekali lagi ini cara dalam keluarga kami untuk membatasi anak-anak dalam menonton TV, agar nanti bisa fokus saat mulai bersekolah. Mungkin akan berbeda dalam prinsip dan penerapan di keluarga lain. Well, mau mencoba juga untuk menyetop TV juga dirumah? Siapkan sebaik-baiknya ya, ditunggu ceritanya. 


Salam, 

Mom QueenMQ


#odopicc #30hbcicc #indonesiancontentcreator #odopiccday5 #mamincasharing #maminca_parenting #maminca_resolusi



 






Phai Yunita S Wijaya
Hi Im Yunniew, ibu dengan 3 orang anak yang memiliki hobby menulis dan literasi. Marriage and parenting enthusiast, Womanpreneur dan Consultant franchise Laundry and minimarket, ibu pembelajar, dan tukang review produk temen :)

Related Posts

Post a Comment