Skip to main content

Cara Menerapkan Toilet Training pada si Kecil


Beberapa bulan lagi si middle love, Khailyakan berusia 2 tahun nih, kayaknya mom Queen harus mulai menerapkan kurikulum life skill buat si bayi kecil ini. Life skill yang cukup menguras emosi dan tenaga, yes Toilet Training (TT). Adakah yang sama dengan mom Queen mau memulai (lagi) episode toilet training pada si kecil? Yuk sini simak apa saja yang harus diperhatikan sebelum memulai toilet training pada anak. 

Menurut mom Queen masalah toilet training ini bukan masalah kecepatan tapi masalah kesiapan. Sebelum lebih jauh bicara tentang praktik toilet training ada baiknya kita membahas tentang pra toilet training dulu. 

Pra toilet training 

Moms jangan terburu-buru menerapkan praktik toilet training pada anak. Ibarat sekolah, toilet training adalah ujiannya, sedangkan pra toilet training adalah materinya. Jadi sebelum ujian dimulai, lebih baik moms melakukan 'pembekalan' pada fase pra toilet training. Apa yang harus dilakukan dalam masa pra toilet training, yuk kita bahas satu per satu berikut ini. 

1. Sounding

Sebelum melakukan toilet training dianjurkan moms melakukan sounding ke anak terlebih dahulu. Moms bisa menarik waktu satu bulan sebelum pelaksanaan. Sounding ke anak bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya dari yang paling simpel melalui buku cerita. Ya, buku cerita bergambar bisa menjadi hal yang menarik bagi anak. Ceritakan tentang apa-apa yang menarik tentang pipis atau pup di toilet. Misalnya tentang kenyamanan tanpa diapers, bisa buang air sendiri merupakan ciri anak yang cerdas, anak yang mandiri dan sebagainya. Usahakan bahasa yang dipilih merupakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. 

2. Simulasi toilet training 

Simulasi aktivitas buang air ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kesiapan anak. Moms bisa mencoba untuk mulai melatih si kecil untuk pipis atau pup di kloset. Tunjukkan mulai dari adab memasuki toilet diawali dengan membaca doa, masuk dengan kaki kiri, duduk di kloset, menyiram, membersihkan area intim, mencuci tangan selepas buang air, hingga adab keluar toilet dengan kaki kanan disertai dengan doanya. Lakukan simulasi ini minimal 1x dalam sehari selama 1 bulan sebelum praktik toilet training. 

Baca juga : Tips memilih gendongan yang pas buat anak 

3. Perlengkapan pendukung

Selain dua poin penting diatas, hal lain yang perlu moms siapkan sebelum memulai toilet training adalah menyediakan perlengkapan pendukung seperti potty training (kloset anak), alas ompol atau sprei waterproof dan training pants (celana dalam). Pilih potty training dengan gambar-gambar yang menarik minat anak, misal gambar kartun favorit, hewan kesukaan dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian anak untuk menjadikan mereka semangat dengan aktivitas toilet training ini. Selain itu moms juga harap menyediakan alas ompol atau sprei waterproof pada tempat tidur si kecik. Sediakan juga training pants lebih banyak dari biasanya. Jika biasanya satu hari sikecil hanya menghabiskan 1-2 celana, namun saat mulai memberlakukan toilet training si kecil akan menghabis setidaknya 5-6 celana dalam sehari. Makanya siapkan stok training pants lebih banyak dari jumlah biasanya ya. 

4. Ciptakan rutinitas

Anak-anak sangat senang dengan kegiatan repetisi. Bahkan untuk hal-hal kecil yang menurut kita sangat membosankan. Lihat saja bagaimana anak dengan bahagianya saat memainkan mainannya berulang-ulang setiap hari tanpa bosan. Sama halnya dengan kegiatan bebersih diri. Ciptakan rutinitas bersih-bersih diri ini di waktu yang sama setiap hari hingga menjadi kebiasaan, misalnya sebelum tidur, sehabis makan atau minum susu, dan lainnya. Ajak juga si kecil untuk belajar membasuh tangan sendiri. Kegiatan ini akan sangat menarik perhatian si kecil. 

Kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training?

Ditinjau dari aspek utama yang paling mendasar dalam melihat kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training, maka ada 2 hal yang paling penting yang bisa dijadikan tolok ukur, yang pertama kesiapan anak dan yang kedua kesiapan ibu. 

Baca juga : 10 Ide jenis kado ibu dan bayi

1. Kesiapan Anak 

◾ Bahasa

Kemampuan berbahasa dan paham akan perintah tentu menjadi modal dasar dalam praktik toilet training ini. Tidak perlu terlalu lancar bicara minimal dia tahu bagaimana si kecil bisa menunjukkan keinginannya untuk buang air, serta bagaimana cara dia mengerti dan mengeksekusi perintah dari moms nantinya. Pengalaman mom Queen dulu si teteh, Queensha, mulai toilet training saat usia 2,5 tahun karena dari dari segi bahasa yang belum begitu jelas, dan bagaimana cara dia menunjukkan keinginannya untuk buang air belum begitu mumpuni. Setelah dilatih terus menerus, satu bulan melakukan pra toilet training dan praktik toilet training selama 1 minggu, alhamdulillah Queensha sudah menyandang predikat lulus toilet training. Secara pribadi, kunci keberhasilan toilet training adalah pada pembekalan pra toilet trainingnya. 

◾ Fisik anak

Pastikan kemampuan fisik anak juga sudah mendukung. Kemampuan ini bisa di lihat dari kemahiran fisik anak sudah bisa dan mau duduk di kloset tanpa jatuh. Ada yang sudah mampu duduk dikloset namun masih belum mau duduk disana. Ini juga menjadi bagian yang patut di cek. Poin lainnya yang mesti diperhatikan adalah memastikan anak dalam kondisi sehat saat memulai praktik TT ini artinya tidak sedang sakit. 

Baca juga : 7 Hari Menyapih Dari Botol Dot 

◾ Mental dan emosi anak

Mengetahui kondisi emosi anak juga penting, apakah anak sudah bisa mengelola emosinya alias tidak tantrum saat disuruh pipis atau pup di toilet. Atau justru nangis kejer saat dibangunkan malam untuk pipis. Jika anak masih belum bisa mengelola emosi alias masih suka tantrum, sebaiknya tunda dulu untuk melakukan toilet training ini. 

◾ Jangan bersamaan dengan training lain

Sebaiknya jangan melakukan dua training sekaligus pada anak. Contohnya toilet training dilakukan bersamaan dengan proses menyapih dari ASI/dot, atau toilet training sekaligus training makan sendiri. Jadi hanya melakukan toilet training saja atau menyapih saja. Hal ini sebaiknya dihindari untuk mencegah anak stress sehingga berimbas pada perilaku tantrum dan juga menjaga emosi ibu tetap stabil. 

2. Kesiapan Mental dan emosi Ibu

Kita paham bahwa program life skill ini sangat menguras energi dan emosi bukan hanya pada anak namun juga pada ibu. Makanya diperlukan kesiapan yang matang dari sisi emosi ibu. Apakah ibu sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi ketika memutuskan tidak memakaikan diapers lagi pada anak. Konsekuensi yang utama adalah siap ketika anak tiba-tiba masih pipis sembarangan. Siap tidak berubah emosi saat anak membasahi kasur atau karpet dengan bau ompolnya. Sekali lagi ini tidak mudah. Sehingga perlu kesiapan mental dan kemampuan mengelola emosi yang baik oleh ibu. 

Baca juga : Pola pengasuhan anak pertama 

Praktik Toilet Training 

Apa yang harus diperhatikan sebelum praktik toilet training pada si kecil ?

◾ Siapkan lingkungan

Rumah yang minim perabotan yang rentan terkontaminasi dengan najis seperti karpet, bantal, kasur dan sebagainya. Anggota keluarga yang lain juga turut diinformasikan untuk mendukung pelatihan pada si kecil ini. Ayah dan  kakak-kakak (jika ada) yang lebih tua bisa turut mengingatkan untuk memberikan pengertian pada anak tentang konsep pipis dan pup harus di toilet. 

◾ Siapkan faktor pendukung

Faktor pendukung yang mesti juga disiapkan meliputi toilet kecil khusus anak, alas ompol atau sprei waterproof, celana dalam yang banyak, serta cek list pemantau pelaksanaan toilet training. Cek lis ini bisa dibuat sendiri kok, hanya berisi poin-poin bisa pipis/pup dengan benar atau tidak. 

◾ Sediakan reward

Anak akan sangat senang dengan segala sesuatu yang baru. Pemberian reward sesuai minat dan kesenangannya bisa menjadi pilihan. Seperti pemberian stiker gambar buah atau hewan favorit sikecil ketika dia berhasil pipis atau pup di toilet. Atau juga memberinya kelonggaran dengan membiarkannya memilih mainan kesukaan saat berhasil tidur tanpa ngompol. 

◾ Turunkan ekspektasi 

Sekali lagi, karena fase ini membutuhkan kesiapan dari ibu dan anak, maka diharapkan jika keduanya telah siap, bisa meminimalisir dampak stress dalam praktiknya. Salah satu cara menurunkan tingkat stress pada saat toilet training adalah menurunkan ekspektasi. Ibu jangan memasang target waktu kelulusan. Percayalah saat training ini dilakukan tanpa target waktu, maka akan dijalani dengan penuh cinta. Dan moms akan melihat hasilnya bahkan jauh lebih cepat dari prediksi lho. 

Baca juga : Treatmen alami selama kehamilan agar persalinan lancar

Menurut moms apa yang harus diperhatikan sebelum hingga saat memulai toilet training pada anak? Sharing dunkπŸ˜‰


#toilettraining #pratoilettraining #mamincasharing #tt #khailytoilettraining #middlelove



Comments

  1. toilet training kalau dinikmati malah ngangenin heuheu...

    challenging banget soalnya moms.. aku minta do'a ya... sekarang lagi challenge diri untuk menyapih.. ampun banget yang ini.. walau sudah anak ketiga ternyata selalu mulai dari nol terus ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, semangat moms.. Saya juga baru mulai TT juga, masih di fase pembekalan. Kontrol emosi dan banyakin stok sabar ya. πŸ’“

      Delete
  2. Anakku juga waktunya toilet training nih, pas banget deh baca ini. Sekarang masih training sikat gigi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah sama kita mom... Semangat dan sabar buat kita yak

      Delete
  3. Perjuangannya luar biasanya ya mba hehe
    Aku belum punya anak tapi bisa jadi ilmu biar gak kaget nantinya

    ReplyDelete
  4. Wahhh alhamdulillah fase itu sudah lewat heheh

    ReplyDelete
  5. Sama niihh, si bontot lagi terrible two dan memasuki tahapan TT. Alhamdulillah udah bisa ngomong kalo mau atau udah pup. Meski kadang sering kecolongan juga. Harus stok sabar ekstraaaa banyaaakk beneraaann. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah hebat mom, anakku masih tahap pra TT ini,masih belajar dia nya.

      Delete
  6. Pas banget ini mbak, aku lagi butuh tips tt buat anak. Makasih ya sharingnya

    ReplyDelete
  7. Sangat pas diajarkan pada anak usia 2 tahunan ya Kak. Mengurangi penggunaan popok sekali pakai.
    Otomatis si anak belajar mencintai lingkungan dari dini. Meski belum paham.

    ReplyDelete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular posts from this blog

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua  untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai. Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :( Saya mencoba

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

DIY: Cara Membuat Hamper Mudah dan Simple untuk Hantaran Nikah

Dewasa ini tradisi berkirim hadiah seperti sudah menjadi tren baru. Banyak orang mengabadikan momen khusus sebagai ajang untuk berkirim pesan lewat hadiah. Jika dulu berkirim parsel atau hamper hanya dihari besar keagaamaan seperti lebaran atau natal. Sekarang berkirim parsel juga di berbagai momen bersejarah seperti di hari ulang tahun, menyambut kelahiran bayi, wisuda kuliah dan sebagainya. Baca juga :  Manajemen keuangan keluarga anti bocor ala Maminca   Jika dulu tradisi berkirim hadiah ini lebih dikenal dengan sebutan berbagi parsel, namun sekarang lebih banyak dikenal dengan sebutan berbagi hamper. Sebenarnya tidak ada beda antara keduanya, mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, jika kita melakukan pencarian untuk kata parsel maka akan berarti bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya. Pun begitu ketika kita mencari

Jasa Pengiriman Barang Murah dan Efisien dengan LJR Logistics

Kebutuhan untuk jasa pengangkutan barang dewasa ini menjadi kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan. Semakin berkembangnya dunia usaha baik lokal maupun international menjadikan kebutuhan untuk jasa angkutan barang dengan biaya murah dan cepat menjadi prioritas. Apalagi jika kita berbicara mengenai perpindahan barang dalam jumlah yang besar seperti jasa kirim dengan menggunakan Full Container Load (FLC) ataupun Less Container Load (LLC) . Minimnya informasi yang bisa didapatkan terutama oleh pelaku usaha mikro yang baru berkembang menjadikan hanya sedikit saja yang bisa memanfaatkan jasa kirim ini. Padahal jika dicermati pengiriman dengan menggunakan logistik berbiaya murah bisa menghemat biaya produksi. Penghematan yang besar pada biaya produksi tentu bisa meraup laba yang lebih besar. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dunia bisnis seperti Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sedang dalam perhatian pemerintah. Sebut saja seperti Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM), ditahun 2021

Asal Kata Lebaran dan Tradisi Idul Fitri 2021 di Indonesia, ketika wabah Covid-19 yang masih meningkat

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Hai  teman-teman blogger bagaimana puasanya? Sudah hampir dipenghujung bulan Ramadan nih, masih semangat mengejar pahala? Insya allah, semoga Allah memudahkan langkah kita semua mencapai keberkahan dibulan Ramadan ini. Dalam rangka ngeblog bareng bersama komunitas blogger Bengkel Diri kali ini mengangkat tema hari Raya Idul Fitri. Pada kesempatan ini saya ingin mengulas tentang Asal Kata Lebaran dan tradisi Idul Fitri 2021 di Indonesia, ketika wabah Covid-19 yang masih meningkat. Alhamdulillah  dalam hitungan beberapa lagi kita akan merayakan hari raya Idul Fitri 1442 H. Segala persiapan tentu sudah mulai semarak dan geliat bau kue sudah mulai semerbak di sekitar perumahan.  Hmm  rasanya sudah tidak sabar menyambut datangnya hari kemenangan. Pusat perbelanjaan pun tak kalah semaraknya dalam menyambut datangnya hari nan fitri ini. Segala jenis kue, makanan ringan, dan aneka minuman kaleng pun sudah ramai menghiasi supermarket.  Melihat seje

Membuat Parcel (Hampers) Low Budget

Membuat Hampers Rumahan Hampers ala Mom Queen  πŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ Alhamdulillah Lebaran sebentar lagiiπŸ’• MasyaAllah tak terasa yaah, kita akan berpisah dengan Ramadhan bulan mulia,dan bersiap menuju hari kemenangan, aamiin. Lebaran atau hari-hari besar lainnya biasa identik dengan saling berkirim pesan, makanan bahkan hadiah sebagai bingkisan kepada kerabat, sanak saudara bahkan orangtua untuk mewakili betapa syukurnya kita bisa di berikan segala kenikmatan oleh Allah Subhanahu Wata'Ala. Terlebih seperti sekarang ini, ketika diri tidak bisa bertemu muka, mengulurkan tangan, memeluk fisik maupun bersimpuh dihadapan orang-orang terkasih, sebagai wujud perwakilan itu biasa disimbolkan dengan mengirimkan 'pesan cinta' lewat transperan atau bingkisan (hampers) atau biasa dikenal dengan parcel. Nah, saat semua terasa sulit untuk dilakukan, apalagi harus bepergian memilih dan membawa hampers yang lumayan besar, dan biaya yang dikeluarkan juga lumayan