Konten [Tampil]
Hi Moms!
Musim libur sekolah ini biasanya ngapain ya? Kalau bicara liburan mahal, pasti sudah banyak yang mengulas maupun memberi rekomendasinya. Kali ini Mom Queen mau cerita liburan di Batam yang low budget.
Batam adalah salah satu kota industri terbesar di Indonesia. Pulau Batam bahkan termasuk salah satu pusat industri paling banyak ke-3 dalam menyerap investasi asing di Indonesia. Jadi sudah lazim bahwa cerita liburan di Batam akrab dengan liburan berbayar tinggi.
Kalau cerita liburan murah di Batam yang low budget ini penting untuk dibagi. Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya sering memutar otak bagaimana momen liburan ini tidak sampai membuat kantong bolong hehe.
Saya memilih liburan mana yang boleh berbayar tinggi, namun tak lupa juga mengenalkan liburan berbiaya murah. Saya ingin suatu hari nanti anak-anak juga memiliki pembekalan ilmu survival, sehingga apapun keadaan finansial mereka, mereka tetap menjalani hidup yang berimbang.
Saya ingin mengajarkan bagaimana momen liburan tidak hanya menghabiskan energi dan biaya, tetapi ada nilai edukasinya (juga). Maka ketika berlibur, saya juga kerap menyelipkan berbagai misi pembelajaran: bukan hanya tentang kesenangan, tetapi pembekalan life skill.
Liburan di Batam yang Low Budget
Moms, sebagai orang tua, kita sering merasa harus memberikan yang terbaik untuk anak. Namun, terbaik tidak selalu berarti mahal. Liburan murah justru seringkali menghadirkan kebahagiaan yang lebih bermakna. Tanpa ekspektasi tinggi, tanpa terasa bocor di pos pengeluaran, semuanya benar-benar kesenangan khas liburan.
Minggu kedua libur sekolah ini saya sudah merencanakan untuk mengajak anak-anak melakukan city tour Batam. City tour mengacu pada arti liburan yang berfokus pada tujuan mengelilingi kota. Karena kami tinggal di Batam, tentu saja tujuannya adalah dalam kota Batam.
Saya mengadopsi konsep city tour ini dari travel agent ketika berkunjung ke negeri tetangga. Kami berkeliling kota menggunakan bus, mengunjungi berbagai tempat terkenal. Hanya singgah dan melihat-lihat saja. Jika ingin berswafoto: dipersilahkan. Tour ini memakan waktu seharian. Ini menjadi pengalaman berharga bagi saya: bisa mengunjungi berbagai tempat sekaligus dalam satu hari penuh.
Untuk mendapatkan paket liburan city tour ini, saya harus membayar sejumlah uang sesuai paket yang ditetapkan. Berkaca dari pengalaman, ini saya pun menganggap hal yang sama bisa saya terapkan pada anak-anak. Rencana pun dibuat. Hari keberangkatan sudah ditentukan. Tujuan kami jelas: city tour Batam by bus. Low Budget kan?
Pengalaman Pertama City Tour Mandiri Dalam Kota Batam Bersama Anak-anak
Hari yang ditentukan tiba. Sedari pagi saya sudah menyiapkan sarapan dan makanan anak-anak. Saya mulai dengan menyiapkan menu sederhana sesuai isi stok di kulkas. Memberi mereka makan, dan membawa perbekalan camilan dan air minum secukupnya.
Untuk camilan, saya memang tidak mempersiapkan terlalu banyak. Pikir saya: di sela tujuan kami ada mall untuk membeli jajanan. Yang terpenting bagi saya adalah air minum untuk bocah. Kalau makan bisa ditahan, tapi haus? Susah. Dua botol tumbler ukuran 600 ml sudah cukup menghidrasi selama perjalanan.
Beberapa barang penting yang saya sertakan dalam perjalanan ini seperti:
- Topi untuk anak-anak.
- Tisu wajah (sebaiknya juga dilengkapi dengan tisu basah).
- Air minum selama perjalanan.
- Payung, serta
- Uang digital dan uang cash secukupnya. (Uang digital digunakan untuk pembayaran transum (transportasi umum). Transum di Batam dikenal dengan Trans Batam yang hanya menerima pembayaran via QRIS atau e-card)
Hari itu saya mengajak serta adik ipar dan anaknya untuk tujuan city tour seputar Batam Kota atau lebih dikenal dengan Batam Centre. Batam centre merupakan pusat pemerintahan kota Batam. Disana tersedia banyak destinasi wisata gratis yang bisa dikunjungi.
Kami sepakat berangkat pukul 10 pagi. Sesuai jadwal, kami segera menuju halte bus yang tak jauh dari rumah. Sebelumnya saya sudah mengecek jadwal keberangkatan bus via aplikasi SIP TB. Dari sini kita bisa melacak posisi bus terdekat. Jadi tidak perlu lama menunggu di halte.
Musim liburan seperti ini membuat bus Trans Batam menjadi modal transportasi favorit. Setidaknya ini yang saya rasakan. Sepanjang jalan, bus selalu berhenti di halte untuk menaikkan penumpang. Meski tidak sampai berdiri, namun semua kursi terisi penuh.
“Mamii….enak ya naik bus!” Seru si Bungsu yang baru kali kedua naik bus. Saya tersenyum. Lain lagi dengan si Anak Tengah, dirinya asik menunjuk berbagai jenis gedung yang dilihatnya sepanjang perjalanan.
“Itu gedung Pollux (Habibie) lho…kamu tahu nggak gedung Pollux?” Ujar gadis kecil itu pada sepupunya yang berusia 4 tahun.
Si Anak 4 tahun tentu saja tidak paham. Langsung saja dirinya ditimpali dengan berbagai pernyataan dengan mode senior.
“Masa gedung Pollux kamu nggak tahu sih?” Lalu dilanjutkan dengan penjelasannya tentang gedung tertinggi di Batam itu.
Gedung Pollux Habibie
Gedung Pollux merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara keluarga besar BJ Habibie serta PT Pollux Properties Indonesia Tbk. Sejumlah 4 gedung dengan tinggi kurang lebih 175 meter dibangun di kawasan kompleks Meisterstadts, Batam Centre.
Gedung ini merupakan komplek hotel, apartemen, mall, perkantoran, ruko (rumah toko), dan kedepannya akan ada rumah sakit dalam satu kawasan. Saat ini Pollux Habibie merupakan salah satu gedung tertinggi dengan 100 lantai di Batam. Wajar bila banyak wisatawan akan langsung mengenal Pollux Habibie sebagai ikon pencakar langit di Batam.
Sekira 30 menit perjalanan, bus kami tiba di tujuan pertama. Mega Mall Batam. Mega Mall Batam merupakan salah satu mall paling ramai di Batam. Selain warga lokal, mall ini juga banyak dikunjungi turis asing dari negeri tetangga. Mall ini memiliki jembatan penghubung menuju Pelabuhan Ferry International Batam Centre.
Kalau singgah ke Mega Mall, kamu bisa langsung melihat pelabuhan ferry Batam-Singapore yang padat. Kalau membawa kendaraan, kamu harus datang pagi hari agar mendapat parkir yang strategis.
Saya memang memutuskan berhenti di Mega Mall Batam Centre, tujuan utama kami adalah Pelabuhan Ferry International Batam Centre. Disini kami langsung menuju ke lantai 2, menggunakan jembatan dari dalam mall untuk menuju ferry terminal Batam Centre.
Di ferry terminal, anak-anak saya perkenalkan bagaimana mereka bisa pergi ke Singapore atau Malaysia dari Batam. Tidak perlu menggunakan pesawat. Waktu tempuh perjalanan Batam-Singapore hanya 65 menit. Sedangkan Batam-Stulang Laut, Malaysia sekitar 1 jam 45 menit saja.
Saya juga menunjukkan dimana bisa membeli tiket offline dan menuju bagian imigrasi hingga ruang tunggu untuk boarding. Pengetahuan ini perlu saya tekankan agar anak-anak tidak gagap ketika di sekolah ada field trip ke negara tetangga. Untuk pengalaman trip ke Singapore baru si Sulung yang berkesempatan ke sana.
Puas berkeliling di seaport, kami bergegas menuju tujuan kedua. Museum Raja Ali Haji. Namun, sebelum menuju ke museum, anak-anak terlebih dahulu meminta jajanan. Mereka memilih beberapa snack di sekitar pelabuhan. Puas memilih, kami balik lagi ke Mega Mall. Anak-anak duduk di public bench. Bentuk modular seating dipilih mereka alih-alih kursi panjang biasa. Mungkin juga kursi ini membuat mereka leluasa duduk.
Selesai menghabiskan makanan, kami bersiap menuju rute selanjutnya. Dari Mega Mall, kami cukup jalan kaki menuju Museum Raja Ali Haji. Letak museum ini bersebelahan dengan Mega Mall, tepatnya di Alun-alun Engku Putri (Dataran Engku Putri).
Alun-alun Engku Putri merupakan taman luas di sekitar kawasan pemerintahan kota Batam. Di Wilayah ini berdiri gedung-gedung pemerintahan. Alun-alun Engku Putri sering juga disebut Dataran Engku Putri.
Dataran Engku Putri memiliki 3 gerbang utama, yaitu:
Tetapi, tidak semua gerbang terbuka bersamaan. Untuk kepentingan event atau acara besar barulah semua gerbang dibuka. Hari itu kami harus berjalan berputar hingga ke gerbang utama. Barulah kami bisa masuk menuju Museum Raja Ali Haji.
Museum Raja Ali Haji merupakan bangunan khas melayu di kompleks Dataran Engku Putri. Disini terdapat pengetahuan sejarah Batam dari zaman kerajaan Melayu Riau hingga bertransformasi menjadi kota industri yang modern. Bangunan berwarna putih lengkap dengan ornamen khas Melayu ini baru diresmikan sejak 18 December 2020 oleh walikota saat itu Muhammad Rudi.
Disini terdapat banyak peninggalan sejarah seperti alat musik tradisional Melayu seperti Nafitri (terompet kuningan istana), Gendang, Kompang, Marwas, serta Akordeon. Ada juga peninggalan botol keramik kuno, piringan hitam, mata uang lama, serta meriam kolonial yang ditemukan di Pulau Buluh.
Masih banyak lagi berbagai pengetahuan yang bisa didapatkan ketika mengunjungi museum ini bersama anak-anak. Saya sudah membayangkan serunya belajar sejarah Seni Budaya Melayu dari sumbernya langsung. Namun sayangnya, kami harus menelan kecewa ketika mendapati museum ini ditutup. Padahal anak-anak sudah exited untuk masuk ke museum.
Tutupnya museum ini tak mengurungkan niat kami mengelilingi kawasan museum. Terlihat beberapa orang sedang mondar mandir di sekitar lokasi, sepertinya ada perbaikan. Mengingat waktu masih panjang, saya pun mengambil keputusan mengajak anak-anak melanjutkan ke rute berikutnya yaitu Nagoya-Jodoh.
Moms, meski agenda liburan city tour ini tak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, namun saya melihat anak-anak tetap bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan yang saya buat.
Dari sini saya paham bahwa bagian terbaik dari liburan di Batam low budget adalah ternyata banyaknya tempat wisata Batam yang bisa dinikmati tanpa harus keluarg biaya. Dan jujur saja, tempat-tempat ini lebih diminati anak-anak karena kaya eksplorasi.
Dari perjalanan sederhana ini, saya semakin yakin bahwa liburan murah bukan berarti murahan. Justru dengan perencanaan yang tepat, kita bisa mendapatkan pengalaman yang lebih autentik.
Beberapa hal yang selalu saya lakukan:
Rencana perjalanan (itinerary) kami memang saya buat tidak kaku. Seperti awalnya kami hanya ingin mengunjungi seputar Batam Centre, kemudian karena museumnya tutup, kami menambah rencana perjalanan city tour berikutnya ke wilayah pusat hiburan: Nagoya - Jodoh. Untuk rute ini, saya akan posting di artikel terpisah. Cukup banyak destinasi wisata gratis dan ikonik disini.
City tour Batam yang kami lakukan secara mandiri ini hanya menghabiskan budget minimal. Untuk biaya transportasi hanya Rp 5.000,- per orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak di atas usia 5 tahun biayanya Rp 2.500,- per orang untuk satu kali tujuan.
Biaya makan dan camilan sangat minim karena sebagian kami bawa dari rumah. Selama perjalanan ini, anak-anak tidak fokus mengisi perut atau membeli sesuatu yang kurang berguna, mereka terlalu asik dengan serunya berlibur dengan transportasi umum.
Saat perjalanan pulang, anak-anak tertidur di dalam bus. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi saya paham bahwa apa yang mereka rasakan adalah kebahagiaan. Mereka sudah mengisi waktu seharian ini dengan petualangan seru bersama ibu dan sepupunya.
Pulang ke rumah pun, mereka tak henti-hentinya saling bercerita tentang liburan hari ini. Liburan ini tidak mahal, namun penuh pengalaman.
Dari sini saya bisa memetik kesimpulan bahwa yang dibutuhkan anak-anak bukan tentang liburan mahal, tetapi tentang bepergian yang menimbulkan kesan mendalam. Kapan-kapan kita city tour Batam ke wilayah yang lebih ikonik lagi ya anak-anak. Insya Allah.
Salam,
Mom Queen
Mega Mall Batam
Sekira 30 menit perjalanan, bus kami tiba di tujuan pertama. Mega Mall Batam. Mega Mall Batam merupakan salah satu mall paling ramai di Batam. Selain warga lokal, mall ini juga banyak dikunjungi turis asing dari negeri tetangga. Mall ini memiliki jembatan penghubung menuju Pelabuhan Ferry International Batam Centre.
Kalau singgah ke Mega Mall, kamu bisa langsung melihat pelabuhan ferry Batam-Singapore yang padat. Kalau membawa kendaraan, kamu harus datang pagi hari agar mendapat parkir yang strategis.
Saya memang memutuskan berhenti di Mega Mall Batam Centre, tujuan utama kami adalah Pelabuhan Ferry International Batam Centre. Disini kami langsung menuju ke lantai 2, menggunakan jembatan dari dalam mall untuk menuju ferry terminal Batam Centre.
Ferry Terminal Batam Centre
Di ferry terminal, anak-anak saya perkenalkan bagaimana mereka bisa pergi ke Singapore atau Malaysia dari Batam. Tidak perlu menggunakan pesawat. Waktu tempuh perjalanan Batam-Singapore hanya 65 menit. Sedangkan Batam-Stulang Laut, Malaysia sekitar 1 jam 45 menit saja.
Saya juga menunjukkan dimana bisa membeli tiket offline dan menuju bagian imigrasi hingga ruang tunggu untuk boarding. Pengetahuan ini perlu saya tekankan agar anak-anak tidak gagap ketika di sekolah ada field trip ke negara tetangga. Untuk pengalaman trip ke Singapore baru si Sulung yang berkesempatan ke sana.
Puas berkeliling di seaport, kami bergegas menuju tujuan kedua. Museum Raja Ali Haji. Namun, sebelum menuju ke museum, anak-anak terlebih dahulu meminta jajanan. Mereka memilih beberapa snack di sekitar pelabuhan. Puas memilih, kami balik lagi ke Mega Mall. Anak-anak duduk di public bench. Bentuk modular seating dipilih mereka alih-alih kursi panjang biasa. Mungkin juga kursi ini membuat mereka leluasa duduk.
Selesai menghabiskan makanan, kami bersiap menuju rute selanjutnya. Dari Mega Mall, kami cukup jalan kaki menuju Museum Raja Ali Haji. Letak museum ini bersebelahan dengan Mega Mall, tepatnya di Alun-alun Engku Putri (Dataran Engku Putri).
Alun-alun Engku Putri
Alun-alun Engku Putri merupakan taman luas di sekitar kawasan pemerintahan kota Batam. Di Wilayah ini berdiri gedung-gedung pemerintahan. Alun-alun Engku Putri sering juga disebut Dataran Engku Putri.
Dataran Engku Putri memiliki 3 gerbang utama, yaitu:
- Gerbang Barat yaitu gerbang yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Engku Hamidah Batam (dulunya disebut masjid raya Batam).
- Gerbang Selatan yaitu gerbang yang berhadapan ke arah jalan besar atau jalur Bus Trans Batam (arah Mega Mall).
- Gerbang Utara yaitu gerbang yang mengarah ke area perkantoran pemerintahan.
Tetapi, tidak semua gerbang terbuka bersamaan. Untuk kepentingan event atau acara besar barulah semua gerbang dibuka. Hari itu kami harus berjalan berputar hingga ke gerbang utama. Barulah kami bisa masuk menuju Museum Raja Ali Haji.
Museum Raja Ali Haji Batam
Museum Raja Ali Haji merupakan bangunan khas melayu di kompleks Dataran Engku Putri. Disini terdapat pengetahuan sejarah Batam dari zaman kerajaan Melayu Riau hingga bertransformasi menjadi kota industri yang modern. Bangunan berwarna putih lengkap dengan ornamen khas Melayu ini baru diresmikan sejak 18 December 2020 oleh walikota saat itu Muhammad Rudi.
Disini terdapat banyak peninggalan sejarah seperti alat musik tradisional Melayu seperti Nafitri (terompet kuningan istana), Gendang, Kompang, Marwas, serta Akordeon. Ada juga peninggalan botol keramik kuno, piringan hitam, mata uang lama, serta meriam kolonial yang ditemukan di Pulau Buluh.
Masih banyak lagi berbagai pengetahuan yang bisa didapatkan ketika mengunjungi museum ini bersama anak-anak. Saya sudah membayangkan serunya belajar sejarah Seni Budaya Melayu dari sumbernya langsung. Namun sayangnya, kami harus menelan kecewa ketika mendapati museum ini ditutup. Padahal anak-anak sudah exited untuk masuk ke museum.
Tutupnya museum ini tak mengurungkan niat kami mengelilingi kawasan museum. Terlihat beberapa orang sedang mondar mandir di sekitar lokasi, sepertinya ada perbaikan. Mengingat waktu masih panjang, saya pun mengambil keputusan mengajak anak-anak melanjutkan ke rute berikutnya yaitu Nagoya-Jodoh.
Moms, meski agenda liburan city tour ini tak sepenuhnya berjalan sesuai rencana, namun saya melihat anak-anak tetap bersemangat mengikuti rangkaian kegiatan yang saya buat.
Dari sini saya paham bahwa bagian terbaik dari liburan di Batam low budget adalah ternyata banyaknya tempat wisata Batam yang bisa dinikmati tanpa harus keluarg biaya. Dan jujur saja, tempat-tempat ini lebih diminati anak-anak karena kaya eksplorasi.
Menyusun Liburan Murah yang Tetap Berkesan
Dari perjalanan sederhana ini, saya semakin yakin bahwa liburan murah bukan berarti murahan. Justru dengan perencanaan yang tepat, kita bisa mendapatkan pengalaman yang lebih autentik.
Beberapa hal yang selalu saya lakukan:
- Membawa bekal secukupnya dari rumah.
- Menggunakan transportasi umum seperti liburan dengan Trans Batam.
- Memilih tempat wisata gratis.
- Menyusun itinerary sederhana sekaligus fleksibel, bisa berubah sesuai kondisi.
Rencana perjalanan (itinerary) kami memang saya buat tidak kaku. Seperti awalnya kami hanya ingin mengunjungi seputar Batam Centre, kemudian karena museumnya tutup, kami menambah rencana perjalanan city tour berikutnya ke wilayah pusat hiburan: Nagoya - Jodoh. Untuk rute ini, saya akan posting di artikel terpisah. Cukup banyak destinasi wisata gratis dan ikonik disini.
Biaya yang Dikeluarkan Untuk City Tour Batam
City tour Batam yang kami lakukan secara mandiri ini hanya menghabiskan budget minimal. Untuk biaya transportasi hanya Rp 5.000,- per orang dewasa, sedangkan untuk anak-anak di atas usia 5 tahun biayanya Rp 2.500,- per orang untuk satu kali tujuan.
Biaya makan dan camilan sangat minim karena sebagian kami bawa dari rumah. Selama perjalanan ini, anak-anak tidak fokus mengisi perut atau membeli sesuatu yang kurang berguna, mereka terlalu asik dengan serunya berlibur dengan transportasi umum.
Penutup
Saat perjalanan pulang, anak-anak tertidur di dalam bus. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi saya paham bahwa apa yang mereka rasakan adalah kebahagiaan. Mereka sudah mengisi waktu seharian ini dengan petualangan seru bersama ibu dan sepupunya.
Pulang ke rumah pun, mereka tak henti-hentinya saling bercerita tentang liburan hari ini. Liburan ini tidak mahal, namun penuh pengalaman.
Dari sini saya bisa memetik kesimpulan bahwa yang dibutuhkan anak-anak bukan tentang liburan mahal, tetapi tentang bepergian yang menimbulkan kesan mendalam. Kapan-kapan kita city tour Batam ke wilayah yang lebih ikonik lagi ya anak-anak. Insya Allah.
Salam,
Mom Queen














Post a Comment
Post a Comment