header

Mau Jadi Kontributor Microstock, Mulai dari Mana?

Konten [Tampil]

Kontributor Microstock pemula

Hi Moms!
Menjadi microstocker atau kontributor Microstock ternyata seru lho. Walaupun jujur saja, di awal mencoba saya sempat frustasi. Why? Bayangkan saja, dari puluhan foto yang saya ambil dengan effort maksimal malah dianulir sebagai foto dengan quality issue yang buruk hiks..

Padahal meskipun tidak punya sertifikat fotografer profesional, saya juga tahu basic fotografi seperti apa: bagaimana komposisi foto yang menarik, pengaturan cahaya, saturasi, dan lainnya. Saya tahu. Bahkan, saya sengaja menginstal aplikasi editing foto agar fotonya jadi makin ciamik dengan sentuhan editor andal (ibu rumah tangga) wkwk.. tapi apalah daya: foto saya belum memenuhi kriteria konten yang diterima Microstock.

Tapi, seperti kata mentor saya Mas Arif--kontributor Microstock-- mengatakan:
"Paling penting dalam pekerjaan ini adalah konsisten. Jangan hitung berapa foto yang ditolak, tetap konsisten (saja) menghasilkan gambar yang berkualitas."


Kalau kamu juga sedang menjajaki dunia microstock, atau kamu baru saja mulai menjadi kontributor microstock dan bingung harus mulai dari mana? Tulisan Mom Queen kali ini mungkin saja bisa bisa membantu kamu. Yuk! baca sampai akhir ya. Jangan lupa siapkan kopi dulu ya hahaha

Platform Microstok yang Populer


Platform Microstock

Moms, kalau bicara microstock pasti kamu sependapat bahwa ini salah satu cara untuk mendapatkan passive income dari foto. Apalagi jika foto tersebut memang kita ambil dengan niat menghasilkan gambar terbaik.

Sejak terjun di dunia microstock, saya mulai mengulik lagi galeri foto di hp. Foto tersebut kemudian saya upload ke microstock untuk dikomersilkan. Namun tentunya foto yang di submit bukan sembarang asal jepret ya. Foto tersebut harus berkualitas baik. Ada standar tertentu bagi microstock untuk menentukan apakah sebuah foto layak untuk dipajang di etalase microstock atau ditolak.

Sebelum membahas mengapa foto-foto saya di awal ditolak oleh microstock, saya ingin memperjelas dulu beberapa platform yang populer di microstock, yaitu:
  • Shutterstock
  • Adobe Stock
  • Freepik
  • iStock

Dan masih banyak lagi platform populer Microstock lainnya. Saya sendiri baru memulai menjadi kontributor di Adobe Stock. Saya belum mencoba platform lain seperti yang saya sebutkan di atas. Saya memiliki banyak pertimbangan sehingga memutuskan memilih Adobe Stock.

Kalau dilihat dari kelebihan dan kekurangannya bagi kontributor pemula saya menyarankan agar kamu memilih sesuai dengan kualifikasi kamu, misalnya:
  • Penggemar bidang fotografi kamu bisa memulai menjadi kontributor di platform Shutterstock, Adobe Stock, dan juga iStock
  • Illustrator/vector cocok menggunakan Adobe Stock, Freepik, dan juga Shutterstock.
  • AI Generated: cocok memulai menjadi kontributor Adobe Stock.
  • Videografer/footage: bisa mulai di Shutterstock dan Adobe Stock.
  • Template: mulai dari Freepik dan Adobe Stock

Salah satu alasan saya memilih Adobe Stock tentu saja karena ini adalah platform yang direkomendasikan oleh mentor saya. Beliau mengatakan bahwa Adobe Stock lebih ramah bagi pemula dan AI (Artificial Intelligence) generated seperti saya haha...

Seperti saat pertama kali mengikuti pelatihan menjadi bloger, mentor saya pun saat itu (Ustadzah Nurlaela) mengatakan lebih baik menggunakan platform blogspot: ramah bagi pemula. Saya pun mengikutinya, hingga terciptalah blog Mom Queen ini.

Alasan Foto Tidak Diterima Microstock


Penyebab foto ditolak Microstock

Balik lagi ke alasan mengapa puluhan foto-foto saya di awal banyak yang ditolak oleh Adobe Stock, saya mau menjelaskan beberapa alasannya dalam tulisan dibawah ini.

Quality Issue


Alasan kualitas gambar/foto yang belum mencapai standar yang ditetapkan oleh Adobe Stock. Biasanya alasan yang disertakan dalam penolakan ini meliputi kualitas gambar yang buram, kurang fokus terhadap objek utama, masalah pencahayaan, hingga editing yang berlebihan.

Similar Content


Ini alasan yang paling sering saya terima. Alasan karena konten yang saya berikan sama dengan konten kontributor lain. Konten seperti ini biasanya karena tema foto kurang mendetail alias terlalu umum. Konten ini misalnya: saya memfoto buah stroberi di dalam pot. Buah seperti ini sudah banyak dihasilkan oleh kontributor lainnya. Sehingga foto yang saya sertakan tercipta seperti foto duplikat.

Intellectual Refusal Property


Intellectual Refusal Property adalah hak kekayaan intelektual (HAKI) atau copyright dari orang lain. Jadi di Microstock kita memang tidak boleh menggunakan merek, tulisan atau watermark apapun di foto yang submit. Jika menggunakan logo, merek atau apapun yang ada pemiliknya maka konten kamu akan ditolak dengan label: Intellectual Refusal Property

Saya pernah submit foto gambar laptop saya. Tujuannya bikin gambar yang eye catching ala-ala fotografer profesional begitu. Rupanya dalam waktu kurang dari 24 jam, foto yang saya upload langsung ditolak. Microstock melarang adanya merek, logo, atau watermark tertentu di dalam konten yang diserahkan.

Konten-konten yang Diterima di Microstock


Unik adalah kunci diterimanya sebuah konten. Sependek pengalaman saya, konten saya yang diterima merupakan konten receh yang saya ambil secara acak. Adapun konten yang serius saya ambil malah tidak diterima. Lucu sekali wkwk

Strategi Menjadi Microstocker Untuk Pemula


Strategi menjadi microstocker

Sekarang untuk jadi kontributor Microstock, harus mulai dari mana? Berikut ini saya buatkan versi mudah yang sudah saya lakukan.

1. Buat Akun


Moms, kamu boleh buat akun dimana saja, bisa di Adobe Stock, Shutterstock, atau pun iStock dan Freepik. Pelajari plus minusnya, pilih yang paling menguntungkan dan tidak bikin stress haha. Kalau saya tadi menggunakan Adobe Stock dulu. Mengapa? Karena ini yang paling mudah hehehe..

2. Upload Secara Konsisten


Upload gambar secara konsisten, kalau saya pilih waktu santai untuk 15-20 menit untuk mengupload gambar atau ilustrasi. Dari sini saya memasang target untuk mengirim 4-6 gambar dalam sehari. Masih minim, tetapi saya ingin mulai tanpa merasa terbebani. Fokus saya adalah setiap hari submit gambar saja.

3. Cek Gambar Kompetitor


Kamu bisa melihat gambar-gambar yang laris manis terjual di Microstock. Kamu bisa ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) karya tersebut) untuk diaplikasikan di akun microstock kamu. Kalau saya masih seputar gambar apa saja yang ada di galeri hp saya.

4. Evaluasi Karya yang Ditolak


Setelah mengamati karya foto saya yang ditolak, saya mulai evaluasi mandiri. Apa yang menyebabkan konten saya ditolak. Meskipun tidak begitu yakin, saya tetap submit konten setiap hari. Satu dua foto saya submit.

Alhamdulillah pada hari berikutnya satu foto saya di acc. Diterima. Baru diterima ya, bukan terjual wkwk.. Waah…bahagianya bukan kepalang. Saya mulai bisa membaca kualitas foto seperti apa yang diinginkan oleh platform ini. Dari situ saya mulai semangat lagi mengambil foto-foto berkualitas dan menguploadnya di Adobe.

5. Buat Seri Collection


Ini bagian yang saya skip di awal, padahal ini penting banget untuk koleksi aset kita. Mengapa perlu membuat seri koleksi? Jadi, biasakan untuk mengambil gambar dari angle yang berbeda. Dari arah samping kanan, kiri, depan, belakang, maupun atas. Submit semua sisi. Alasannya karena kita tidak akan tahu gambar dari sisi mana yang mendapat banyak respon dari pembeli.

Tools Wajib Bagi Microstock


Kalau bekerja: biasakan dengan Tim. Tim kita di Microstock adalah tools yang sering dipakai hehe. Berikut ini tools wajib yang saya gunakan untuk menghasilkan konten yang diterima Adobe Stock.

1. Artificial Intelligence (AI) Chatting


Saya menggunakan tools AI Chatting sebagai ‘tim tukar pikiran’. AI Chatting menjadikan saya bisa menghasilkan konten yang bahkan belum ‘matang’ di kepala saya. Kamu juga bisa menggunakan AI apapun sesuai preferensi kamu, misal Chat GPT, Gemini, dan lainnya.

2. Upscale Tools


Moms, foto yang diterima oleh Microstock minimal memiliki resolusi 2000 piksel (2K). Untuk foto yang diambil dengan kamera hp rata-rata sudah beresolusi 2K. Namun, untuk gambar dengan resolusi dibawah 2000 piksel kamu bisa menggunakan upscale tools.

Bagi kami di kelas Growth from Home, setelah mengikuti kelas Microstock untuk pemula, kami diberikan upscale tools gratis. Kami tinggal upload gambar kesana dan tools akan memproses foto saya.

Jika kamu tidak memiliki upscale tools, jangan khawatir: gunakan image upscale tools gratis dari AI seperti Upscayl dan Waifu2x.

Rekomendasi image upscale tools yang bisa kamu coba adalah Waifu2x. Kami bisa langsung menuju situs berikut ini untuk upscale gambar secara gratis melalui Waifu2x: https://deepai.org/machine-learning-model/waifu2x

3. Google Flow


Google Flow bisa juga kamu gunakan untuk membuat ide konten yang ada di kepala lho. Caranya kamu bisa minta dibuatkan gambar seperti yang kamu inginkan. Saya menggunakan Google Flow untuk membuat gambar ilustrasi. Jenis konten yang saya buat dari Google Flow seperti ilustrasi watercolor atau foto yang saya re-created.

Google Flow untuk versi gratisnya bisa membuat hingga 50 foto ilustrasi dalam sehari lho. Jika sehari kamu bisa memberikan 50 prompt dengan 4 foto per prompt, artinya kamu bisa menghasilkan 200 konten dari Google Flow saja.

4. Tools keyword


Setelah foto dibuat, tinggal submit ke Stock kan? Rupanya untuk submit ke Microstock tidak sesimpel itu. Saya tetap harus berpikir bagaimana saya mengisi kolom: judul foto dan juga keyword yang sesuai.

Awalnya saya menggunakan AI Chatting seperti Chat GPT untuk membantu saya. Namun versi gratis chat gpt pun hanya 2 kali submit gambar. Jika ingin lebih banyak, wajib menggunakan versi pro.

Lagi-lagi, alhamdulillahnya di kelas Microstock untuk pemula kami diberikan tools gratis dari Mas Arif sebagai mentor Microstock. Tools ini adalah tools yang dikembang oleh beliau. Kami diberikan akses gratis khusus bagi anggota grup saja, jika peserta lain ingin mencoba kamu bisa mendapatkannya dengan membeli melalui lynk.id dengan harga terjangkau.

Perjalanan Mom Queen Menjadi Kontributor Microstock


Selama hampir sebulan penuh menjajaki dunia Microstock, saya sadar bahwa ada banyak cara untuk menggali potensi diri. Jika selama ini saya hanya menulis, rupanya membuat foto sesuai standar Adobe stock juga bisa saya lakukan hehehe..

Saya yang baru memulai menjadi kontributor microstock sejak bulan Agustus 2026, kini baru memiliki 43 portofolio. Masih awal, tapi saya senang bahwa setiap harinya ada saja foto yang di acc. Meskipun belum 100% dari foto yang saya submit diterima, tetapi setiap hari saya pastikan akun saya bertumbuh. Artinya meskipun 1-2 foto, saya tetap menyetorkan gambar setiap hari.

Dari situ perlahan tapi pasti, akun Microstock saya bertumbuh. Mulai satu foto, menjadi 13, menjadi 21, 31 foto dan hingga kini berjumlah 43 portofolio. Saya jadi semakin percaya diri bahwa apapun kondisi kita, siapapun kita, jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh insya Allah akan ada hasilnya.

Penutup


Menjadi kontributor microstock adalah dunia baru bagi saya. Sebuah profesi yang menjanjikan di masa depan. Seperti sebuah blog, Microstock juga merupakan aset digital yang layak dicoba. 

Meskipun entah di tahun ke berapa akun saya mulai menghasilkan pendapatan, namun saya percaya bahwa setiap gambar (juga) akan menemukan pembelinya.

Jika sebuah tulisan akan menemukan pembacanya, maka sebuah foto pun akan menemukan peminatnya.


Jadi, untuk menjadi kontributor microstock tidak sesulit yang dibayangkan. Asal konsisten, insya Allah ada progresnya. So, kalau kamu mau menjadi kontributor Microstock dan bingung untuk mulai dari mana? Mulailah dari membuat akun hehe.. Semoga bermanfaat ya.

Salam,
Mom Queen
Phai Yunita S Wijaya
Hi Im Yunniew, ibu dengan 3 orang anak yang memiliki hobby menulis dan literasi. Marriage and parenting enthusiast, Womanpreneur dan Consultant franchise Laundry and minimarket, ibu pembelajar, dan tukang review produk temen :)
Newest Older

Related Posts

Post a Comment