Langsung ke konten utama

Benarkah ada orangtua yang gagal?


Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh.


Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?". Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya.

Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri

Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebutuhan anaknya.


Namun, hingga Aku menuliskan ini ada satu peristiwa yang membuatku tersadar, tanpa kita sadari bisa saja hal-hal kecil yang kita lakukan membuat celah kegagalan muncul didalam kehidupan kita. Dimulai dari sudah beberapa malam ini anak pertamaku, Queensha (3 tahun 9 bulan), selalu menangis ditengah malam, seperti orang mengigau. Saat menangis orang yang dipanggilnya bukanlah Aku sebagai ibu dan orang yang hampir 24/7 selalu bersamanya. Namun orang yang dipanggil dalam tidurnya sambil menangis adalah ayahnya. Dengan mata terpejam namun tetap menangis lirih dia terus menyebut "Abi... Abi... Abi". Apabila sudah demikian, maka abinya akan bangun dan segera menggendong sebentar, membacakan doa-doa sambil menepuk-nepuk punggungnya, sekitar 5 menit kemudian, Queensha diam dan kembali melanjutkan tidurnya. Masya Allah, padahal sebelumnya sudah kulakukan hal yang sama, namun tak kunjung mereda tangisnya. Setiap malam selalu begitu kejadiannya. 


Hingga dimalam ketiga, Queensha kembali menangis, kulakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan ayahnya. Namun tak kunjung mereda, akhirnya kembali ayahnya yang turun tangan. Sebelum melanjutkan tidur Aku berpikir dan menelaah kembali apa yang sudah kulalui dalam beberapa hari terakhir ini bersamanya. Benarkah ada yang salah dalam pengasuhan dan penjagaanku padanya?Adakah sikapku atau tindakanku yang menyakiti hatinya? Apa yang sudah kulakukan pada anak kecil ini hingga bujukanku tak mampu membuatnya nyaman? Pertanyaan-pertanyaan serupa begitu banyak menghampiri pikiranku. 


Aku kemudian mengingat-ngingat kembali hari-hariku bersamanya hingga Aku tersadar, bahwa beberapa hari belakangan ini, Aku mengalami fluktuasi emosi yang tidak menentu. Aku memang sedang hamil anak ke 3,usia kandunganku 24 minggu saat ini. Emosiku mudah tersulut, meski hanya karena hal sepele,misalnya sehabis bermain, mainan tidak dibereskan kembali. Buku yang berserakan setelah dibaca. Coretan-coretan crayon yang penuh dilantai meski sudah kusiapkan buku menggambar, cara makan yang lambat dan sebagainya. 

Aktivitas bermain dua bocil. foto dokpri
Queensha dan Adiknya bermain bersama. Foto:dokpri


Hal remeh temeh beginilah yang biasanya menyulut emosiku, dan biasanya kulampiaskan pada anak pertamaku. Misalnya ketika membereskan mainan aku mengoceh panjang seperti berbicara pada orang dewasa. Queensha yang saat itu merasa bersalah dan (mungkin) juga ketakutan, turut membantu membereskan mainan ataupun menyusun buku-buku dengan tangan kecilnya. Biasanya saat melihat Aku mulai menampakkan emosi kemarahan, sikap polosnya adalah menjulurkan tangan ingin memeluk dengan ekspresi wajah merasa bersalah. Aku yang masih emosi kadang tidak langsung menyambut tangannya, namun masih menjejalinya dengan seribu nasihat yang "khas". Barulah setelah merasa cukup menceramahinya, kuraih tangannya dan kupeluk sambil kembali menasihatinya. Meski kutahu wajahnya murung saat ku"ceramahi" Aku seakan sulit mengerem kata-kataku, Astagfirullah. 


Queensha, kuingin selalu tersenyum ceria. Foto dokpri

Begitulah, kejadian ini berlangsung lebih kurang 3 hari berturut-turut. Dan selama itu pula, setiap malam dia selalu menangis ditengah malam dan memanggil Abinya. 


Dari situ Aku tersadar, mungkin Aku terlalu keras menghukumnya dengan dalihku mendisiplinkannya. Aku mulai mencari artikel terkait perkembangan anak seusianya termasuk perkembangan bahasa, emosi, kognitif, sosial dan lainnya. Apa yang terjadi dengan emosinya pada saat ini, apa yang disenanginya dan bagaimana perasaannya. 


Aku teringat bahwa berapa minggu belakangan aku mendonlot aplikasi parenting, the Asian parents. Kutemukan satu artikel dalam aplikasi ini tentang  milestone perkembangan anak seusia Queensha, 3 tahun 9 bulan,salah satu yang menjadi perhatianku adalah dari perkembangan bahasa dan bicaranya adalah sangat senang dipuji. Deg. Ya Allah, benar Aku sudah mulai jarang memujinya minggu-minggu ini. Biasanya ini rutin kulakukan, sebagai bagian dari apresiasiku pada pencapaiannya. 

Tabel perkembangan pertumbuhan anak dari  aplikasi the Asian Parents 


Kulanjutkan menyelami informasi seputar parenting, kemudian Aku berhenti pada sebuah artikel yang berjudul "apakah perbedaan menghukum anak dengan mendisiplinkan anak" Dari artikel ini, Aku tersadar bahwa tindakan yang kulakukan selama beberapa hari ini bukanlah bentuk pendisiplinan dirinya, namun tindakanku lebih kepada menghukum dan membuatnya merasa bersalah. Sepertinya tindakanku sangat membekas dihatinya. 


Ya Allah, Aku berada dalam tumpukan rasa bersalah dan berdosa,lantas apakah Aku merasa menjadi ibu yang gagal? Gagal dalam memahami sikap anakku? Gagal dalam mengelola emosi diri sendiri hingga menafikan emosi anak? Tidak.Tidak. Aku tidak ingin terus berada dalam lingkaran rasa penyesalan dan bersalah. 


Dalam doa kumohon ampunan kepada Sang Khaliq atas kekhilafanku menjaga titipanNYA, titipan yang dulu selalu kupintakan dalam doa-doa panjang nan mengiba. Tak lupa pada gadis kecil ini, kumintakan maaf dari hati, atas khilaf dan salahku padanya. Semoga hatinya yang polos tidak menyimpan lama kemarahanku. 

"Ya Allah, ampuni segala dosaku. Anakku, Queensha maafkan kesalahan Mami nak" 

Aku tidak mau anakku terus-terusan merasa tertekan dengan segala tuntutan kesempurnaan dariku tanpa ada teladan yang baik dari orangtuanya.


Hari berikutnya, Aku berjanji didalam diri untuk segera memperbaiki sikap dan ucapan, menata emosi dan lebih banyak beradaptasi menerapkan pendisiplinan ke anak-anakku. 


Aku pernah menuliskan metode menerapkan pendisiplinan untuk anak dibawah 5 tahun diblog ini,sepertinya harus kubuka lagi untuk diriku sendiri. Biasanya yang kulakukan untuk menerapkan pendisiplinan pada anak-anakku adalah :

1. Sounding

Metode yang biasa digunakan dengan mengingatkan perintah yang dimaksud secara  berulang-ulang. Tekhnik ini bisa diterapkan dengan catatan Moms terus menerus mengingatkan tentunya sambil juga menerapkan contoh langsung. Bisa dilakukan saat kapan pun sikecil berada didekat kita. Misalnya 

"Nak, habis baca buku, bukunya ditarok dirak buku lagi yah biar rapi." 

Atau juga

"Nak, sikat gigi sebelum tidur itu bagus, biar giginya ga bolong-bolong, kalau bolong nanti sakit loh"

dan beragam ajakan lainnya, buatlah sekreatif mungkin agar anak tertarik melakukannya. 


2. Deep talking, menjelang tidurnya.

Nah, kalau deep talking biasanya bisa bicara dari hati kehati. Paling gampang bicaranya disaat anak sedang happy atau juga rileks. Biasanya Aku melakukan deep talking ke anak-anak saat mereka menjelang tidur. Bisa juga membingkai deep talking dalam bentuk dongeng. Wah ini dijamin anak akan sangat suka sekali. Bahkan dia akan penasaran dengan cerita-cerita  Moms berikutnya. Inpirasinya dari mana? Dari konteks perintah apa yang ingin disampaikan. 


3. Keteladanan

Diantara point 1 dan 2 yang paling berpengaruh dan penentu adalah point no 3 ini. Keteladan adalah contoh nyata. Namun keteladanan saja tanpa penjelasan dengan bahasa anak tidak akan sampai maksud dan tujuannya kepada anak. Mereka akan sulit memahami mengapa ini begini, mengapa ini begitu. Makanya point 1-3 bekerja berkesinambungan saling terkait. Efeknya jika diterapkan akan berdampak luar biasa. 


Untuk no 1 dan 2 memang sudah jarang kulakukan, dikarenakan jam tidurku yang lebih awal darinya. Ini pe-er yang harus kulakukan lagi. Saat ini yang bisa kulakukan adalah menerapkan keteladanan, sambil kumulai lagi untuk sounding dan deep talking. 


Hari itu, saat kulihat mainan berserakan, ku ajak dia kembali menata mainannya dengan lembut, ajakan halus, bendera damai kutegakkan. Bersama-sama Kami membereskan buku-buku sehabis dimainkan, menyusun kembali dirak buku. Setelah semua mainan rapi, kuberikan dia pujian dari hatiku, kuakhiri dengan pelukan sayang padanya. Tak kukira jawaban yang kudapat darinya? 


"Teteh (panggilan dirinya) sayaaang sama Mami, gini kan mami senang?"


Masya Allah, ibu mana yang tidak terenyuh dengan ungkapan sayang dari anaknya. Mungkin Aku yang perlu belajar mengelola emosi, menata bahasa, mendisiplinkannya, bukan menghukumnya hingga membuat hati kecilnya bersedih dan merasa bersalah. 

Ah Nak, ternyata mami perlu banyak belajar lagi,lagi, lagi dan lagi. Mungkin padamu terlalu tinggi ekspektasi yang kutargetkan, padahal diri ini juga masih jauh dari kata sempurna sebagai teladan. Padamu terlalu banyak tuntutan dan penggemblengan, padahal diri ini juga masih tertatih-tatih dalam mengatur ritme kehidupan. Padamu terlalu banyak tuntutan kebaikan, padahal diri ini juga banyak keburukan-keburukan yang Allah tutup dihadapanmu.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ صَحِيْحًا كَامِلاً وَعَاقِلًا حَاذِقًا وَعَالِمًا عَامِلًا

Allahummaj’alhu shohiihan kaamilan, wa ‘aqilan haadziqon, wa ‘aaliman ‘amilan

“Ya Allah, jadikanlah ia anak yang sehat sempurna, berakal cerdas, dan berilmu lagi beramal”

Ah Nak, maafkan Mami. Mami belajar, dari jiwa kecilmu bahwa Kau adalah jiwa yang bukan hanya haus tuntutan tapi juga butuh tuntunan. Dari dunia kecilmu, Mami belajar bahwa menjadi Ibu adalah juga harus belajar. Mami tidak ingin menjadi orangtua yang gagal dalam mengelola emosi mu, menyalurkan kemampuanmu, memfasilitasi tumbuh kembangmu, menyingkirkan ego dan harapan berlebihan padamu. Maafkan mami, mami terlalu cepat menerapkan peraturan yang tinggi, bukan hanya karna Kau anak pertama mami, tapi Kau adalah buah dari doa-doa panjang yang di ijabah Allah diawal-awal hidup baru Mami. 

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَوْلَادِي وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِي بِرَّهُمْ

Allahumma barikliy fii awladiy, wa la tadhurruhum, wa waf fiqhum li tho’atik, war zuqniy birrohum

“Ya Allah berilah barokah untuk hamba pada anak-anak hamba, janganlah Engkau timpakan mara bahaya kepada mereka, berilah mereka taufik untuk taat kepadaMu dan karuniakanlah hamba rejeki berupa bakti mereka.”

Jadi adakah orangtua yang gagal? Jawabannya dengan tegas kukatakan " Tidak ada!" yang ada adalah orang tua yang terus bertumbuh, belajar dan terus memperbaiki diri untuk bisa mempersiapkan generasi terbaik anak-anaknya. Semoga Allah SWT memudahkan, memberi kesabaran dan kekuatan, amin ya Rabbal 'alamin. 


Salam Sayang, 

Mom Queen 


Referensi:

https://phaiyw.blogspot.com/2020/04/menerapkan-disiplin-pada-anak.html?m=1

https://id.theasianparent.com/

https://id.theasianparent.com/menghukum-anak-apakah-perbedaannya-dengan-mendisiplinkan-anak

https://id.theasianparent.com/doa-anak-sholeh/


#theAsianparentindonesia

#TAPLombaCeritaParents


Komentar

  1. Merinding saat membaca kalimat ini "Ya Allah, ampuni segala dosaku. Anakku, Queensha maafkan kesalahan Mami nak". Masyaa Allah..

    BalasHapus
  2. Merinding saat membaca kalimat ini "Ya Allah, ampuni segala dosaku. Anakku, Queensha maafkan kesalahan Mami nak". Masyaa Allah..

    BalasHapus
  3. Sesungguhnya tidak ada orang tua yang gagal, hanya saja mungkin cara atau pola pengasuhan dan pendidikan yang diterapkan tidak sesuai dengan apa yang anak harapkan sehingga terjadi ketimpangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi kak, makanya kita sebagai orangtua harus bisa menyesuaikan dengan kondisi dan mood anak ya

      Hapus
  4. Just do my best sepertinya tidak cukup untuk menghilangkam rasa takut jadi ortu yang gagal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan sampai kak, pokoknya lakukan yang terbaik dan hasilnya serahkan pada Allah

      Hapus
  5. rasanya kalo anak cewek lebih enak diajak deep talking ketimbang anak cowok ya mbak, apalagi menjelang tidur, hehe..

    apapun itu, nggak ada orang tua yang gagal, mungkin mereka kurang bisa sabar atau kurangnya kasih sayang dan perhatian terhadap anak.

    semoga kita bisa menjadi orang tua yang sabar, ikhlas dan mampu mendidik anak-anak kita dengan baik, aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kah begitu? Aku belum punya anak cowok sih.. Tapi secara umum anak cewek memang lebih peka dan sensitif menurutku

      Hapus
  6. Mendidik anak tuh memang harus hati2 ya mom.. karna bisa jadi Boomerang buat kita juga. Apalagi sampai melukai hatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ini terasa banget kalau sampai hatinya terluka

      Hapus
  7. Kadang pernh berpikir gt tp kupikir ini proses bljr, tak ada yg gagal hanya perlu menata ulang yg kurang mbak.. Semangat mbak semoga sehat kandungannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya belajar dan terus belajar.. Aamiiin makasih kak

      Hapus
  8. teladan emg yg paling ngena buat anak ya mba, krna anak dibawah 6th itu lbih aktif indra penglihatan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerr, mereka cenderung mencontoh perilaku lingkungan

      Hapus
  9. Aku sendiri menyadari kalau dibilang gagal pasti juga gamau. Teladan ortu itu emang penting banget sihh. Hikss. Jangan sampai nyesel di kemudian hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, karena apa yang kita ajarkan akan kembali kepada kita juga. #nyadar

      Hapus
  10. mendidik anak memang ga bisa mendadak ya mom, harus banyak belajar. alhamdulillah Allah tunjukkan di mana kita harus memperbaiki kesalah2 kita, semanagt terus membersamai ananda mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap semangat ya mbak Phai..queensha lucu bgt sih. MasyaAllah tabarakallah..semoga sehat lahir batin terus ya mbak sekeluarga

      Hapus
  11. Ya ampuun, ceritanya bangus mbak. Jadi tahu apa yang bergumul di benak seorang Ibu, emosi, kesal, sedih dan tidak berdaya. Semoga saya nanti tetap bisa berkepala dingin, huhu, salam kenal untuk Queensha

    BalasHapus
  12. Mendidik anai itu seperti kita sedang belajar untuk menjadi pribadi yang sabar kuat dan dari anak kita banyak mendapatkan ilmu baru.

    BalasHapus
  13. Saya juga belajar ini sejak mulai mempunyai anak lahir, bagaimana sounding yang efektif, sama pillow talk sebelym tidur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah MasyaAllah semangat juga mom, kita sama-sama belajar

      Hapus
  14. Tulisannya jadi reminder juga buat saya Mbak yang masih sering terbawa emosi dalam mendidik anak. Kadang merasa bersalah juga karena si kakak lebih nempel sama ayahnya dibanding bundanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah samaaan kita, anakku juga gitu, fitrah kayaknya

      Hapus
    2. Mendidik anak memang perlu management emosi yg baik. Karena kl kita tdk bs mengendalikannya, bisa melukai hati si kecil. Dan itu ajan berdampak pd perkembangan mentalnya. Semoga kita bs jd orangtua yg mampu mendidik dg sabar dan lbh baik ya mba

      Hapus
    3. Iya betul, Kuncinya di management emosi.. Itu yang masih terus buat aku belajar dan belajar lagi

      Hapus
  15. Ikut meresapi cerita mom, walau anakku belum sampe usia 3 tahun tp penting untuk di noted karena saya pun biasa emosian mom, semoga sebagai ibu kt selalu memberikan yang terbaik untuk anak

    BalasHapus
  16. Jadi pelajaran buat aku juga niih mba, semoga kelak ketika jadi ibu, bisa banyak belajar dan memperbaiki diri.

    BalasHapus
  17. Yup,sepakat. Menjadi orang tua itu tak mudah. Tak ada istilah gagal. Hasil bukan kita yg tentukan dan setiap upaya atau perlakuan kita pada anak pastinya ada hisab masing2. Semangat. btw, salam untuk Queensha, Masya Allah cantiknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam umi Nunung, MasyaAllah tabarakallah

      Hapus
  18. Masya Allah, sebagai orang tua memang harus terus belajar ya mba. Kadang anak yang mengajarkan kita untuk lebih sabar dan mengelola emosi dengan benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mba Zakia makasih sudah berkunjung

      Hapus
  19. Masyaa Allah, semangaat mbaa, terima kasih sharingnya bisa jadi ilmu tambahan buat aku nanti.

    BalasHapus
  20. Masyaa Alloh,thank's mom sudah sharing ilmunya,sangat bermanfaat dan bisa menambah wawasan ilmu,semoga Alloh ta'ala selalu memberikan mom quensha keberkahan aamiin.

    BalasHapus

Posting Komentar

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Postingan populer dari blog ini

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem