Konten [Tampil]
Hi Moms!
Beberapa minggu belakangan ini saya memang sedang fokus menjadi kontributor Microstock. Yes! Microstok. Kamu nggak salah baca kok. Saya memang sedang menekuni dunia fotografi dan ilustrasi digital untuk keperluan komersial. Dijual.
Jadi, kalau ada yang bertanya: mengapa sekarang saya jarang posting tulisan? Inilah alasannya. Saya bukan hendak meninggalkan dunia menulis (apalagi blog). Tidak akan. Karena menulis adalah panggilan jiwa. Salah satu aktivitas yang paling saya rindukan. Tidak pernah sekalipun menulis membuat saya menyerah. Justru lewat tulisan saya mengenal banyak hal. Bertemu teman dari berbagai kalangan, berbagi pengalaman, hingga menjadi salah satu sumber penghasilan.
Hanya saja, kejadian beberapa waktu lalu sangat mengecewakan saya. Ketika tiba-tiba Tim Blogger dari Google melakukan penghapusan blog massal. Termasuk 2 blog yang saya miliki. Salah satunya blog ini. Kamu juga ngerasain nggak?
Saat itu hancur hati melihat perjuangan bertahun-tahun merawat dan membesarkan blog hilang dalam sekejap. Meskipun dalam waktu kurang dari 24 jam Tim Blogger--Google mengembalikan lagi blog ini seperti sedia kala. Namun perasaan was-was tetap ada: bagaimana jika sewaktu-waktu blog saya dihapus? Bagaimana saya menjaga keberlangsungan karya ini? Dan pikiran semisal .
Untuk itulah, saya tidak ingin hanya menaruh ‘perhatian’ pada satu platform saja. Saya ingin mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki serta menjadikannya sumber aset yang baru. Inilah alasannya beberapa hari belakangan saya terlihat jarang menulis atau memposting sesuatu di blog maupun media sosial. Saya sedang fokus membangun akun Microstock yang baru seumur jagung.
Berawal dari Webinar Growth from Home
Mengapa saya akhirnya terjun juga ke dunia foto digital? Berawal dari kepesertaan saya pada webinar GFH alias Growth from Home. Webinar ini sering membahas berbagai tema produk digital yang bisa mendatangkan penghasilan. Saya yang selama ini hanya berkutat di dunia blog tertarik untuk mencobanya. Apalagi ini menjadi peluang meraih cuan lain disamping tulisan.
Dari webinar yang diprakarsai oleh Mbak Novarty dan suaminya--Mas Arif ini, akhirnya saya tertarik untuk terjun (juga) ke dalam dunia Microstock.
Pikiran saya: oh ini (sepertinya) mudah. Rupanya tidak! Realitanya tidak seindah dalam bayangan saya haha.. Tapi mengapa saya justru penasaran? Entahlah. Yang pasti saya enjoy sekali menikmati proses demi prosesnya setiap hari.
Setiap platform memiliki tantangannya masing-masing. Saya sudah menuliskannya di artikel sebelumnya: Cara Dapat Passive Income dari Foto. Kamu bisa membaca di artikel itu. Saya tulis panjang lebar disana.
Nah, setelah selesai webinar tentang microstock, peserta webinar juga dibimbing di Whatsapp group Microstock. Disinilah sharing tentang microstock berlanjut. Sang mentor yang juga suami Mbak Novarty terus memberikan masukan dan semangat kepada kami agar terus membuat karya dan mengunggahnya di microstock.
Dari kelas inilah (akhirnya) saya memiliki akun Microstock dan akun tersebut mulai bertumbuh. Dari yang awalnya semua foto ditolak, diterima 1, 2, 3 dan seterusnya hingga saat ini mencapai 80an foto dalam waktu satu bulan. Melihat perkembangan akun yang kian berproses, saya jadi giat dalam menghasilkan foto dan gambar ilustrasi yang berkualitas.
Apakah ada foto saya yang sudah terjual?
Pertanyaan ini kerap ditanyakan pada saya. Baiklah. Demi menjawab rasa penasaran kamu: saya akan jawab. Foto saya sudah ada yang terjual. Alhamdulillah.
Kalau mentor saya mengatakan beliau memiliki 1000 portofolio dulu baru fotonya terjual, kalau saya foto pertama justru terjual saat portofolio saya belum genap 70 karya.
Mungkin ini beruntung ya? Bisa jadi. Tapi ini cukup membuat saya semakin semangat menambah gambar. Tapi, namanya juga penulis dengan banyak to do list, bab konsisten menjadi tantangan terberat selama ini. Kamu begitu juga nggak? Sudah punya akun Microstock tapi belum konsisten membuat gambar.
Kalau kamu juga ingin konsisten di Microstock, pahami dulu step by step cara kerja di Microstock.
Step by Step Cara Kerja Microstock yang Tidak Mudah
Moms, saya juga tidak memungkiri jika untuk mengunggah foto di microstock membutuhkan effort yang tidak mudah. Untuk bisa melihat foto maupun ilustrasi terpajang di etalase portofolio, tentu saja melalui langkah kerja yang panjang.
Berikut ini step by step cara kerja microstock yang saya lakukan yaitu:
- Membuat foto yang berkualitas, baik menggunakan kamera atau pun menggunakan AI.
- Melakukan editing ringan seperti tingkat kecerahan, warna, maupun memberikan efek blur sesuai dengan konsep foto.
- Upscale gambar. Jika foto menggunakan kamera hp, maka tidak perlu melakukan upscale foto. Namun beberapa kamera memiliki kualitas foto masih di bawah 2K. Untuk itulah selembar foto bisa melalui banyak langkah baru bisa tampil sebagai portofolio.
- Membuat Judul dan Keyword. Kamu juga mesti membuat judul dan memikirkan keyword apa yang tepat untuk foto atau ilustrasi yang dibuat.
Untuk langkah terakhir ini, karena saya berada di group Belajar Microstock, kami mendapat tools gratis dari Mas Arief untuk generate title dan mendapatkan keyword yang tepat. Jadi tinggal copy paste saja dari apa yang tersedia disana. Memudahkan bukan? Tinggal bagaimana caranya agar kita konsisten upload karya di Microstock. Saya ingin berbagi pengalaman.
Resep Konsisten Upload Karya di Microstock Berdasarkan Pengalaman Mom Queen
Moms, mengingat banyaknya langkah yang saya sebutkan di atas, wajar saja bila kemudian banyak orang mulai jenuh untuk melakukan pekerjaan ini. Pun begitu ketika teman-teman saya tahu bahwa saya mulai menekuni dunia Microstock.
"Saya sudah punya akun microstcok di Adobe, tapi untuk upload fotonya belum konsisten."
"Bisikin caranya agar konsisten unggah gambar di Microstock, Mbak,"
Dan masih banyak lagi komentar lainnya dari lingkaran pertemanan saya. Tapi, jujur saja saya pun tidak punya resep khusus selain jadwal yang tertarget haha.. Kadang saya juga masih bolong-bolong untuk upload gambar ke Adobe. Tetapi, ketika saya mulai ingat lagi target kemudian saya kembali semangat mengunggah foto. Satu per satu foto yang saya buat lamat-lamat di acc jaga oleh Adobe. Alhamdulillah.
Dari 1 foto yang diterima hingga kini akun saya memiliki hampir 100 foto. Semua ini saya capai dalam waktu sekitar satu bulanan ini. Angka ini tentu saja kalah jauh sama mentor saya Mas Arif yang mampu menghasilkan karya hingga 300 foto dalam waktu satu bulan hahaha. Jadi saya belum apa-apa yang Moms.
Okay, nah ini tips konsisten upload foto di Microstock.
1. Luangkan Waktu
Atur jadwal harian yang rutin untuk merawat akun Microstock. Kalau saya menyediakan waktu selama menunggu anak les calistung dan mengaji. Saya gunakan waktu menunggu anak di tempat les sekitar 30 menit untuk ngopeni akun Adobe Stock.
Biasanya di waktu ini juga saya gunakan untuk menulis. Menulis apapun: baik unek-unek, kejadian harian, atau mendadak mendapat pengalaman spesial.
Dalam tentang waktu ini saya memasang target 4-8 foto untuk di upload. Setiap hari saya lakukan seperti itu. Intinya tidak ada waktu luang, makanya saya yang harus meluangkan waktu.
2. Buat Target yang Realistis
Kalau kamu nggak bisa menghasilkan puluhan foto dalam waktu sehari, kamu bisa memasang target sesuai kemampuan. Saya saja hanya menargetkan 4-8 foto saja sehari. Itu pun saya masih suka bolong-bolong haha.. tapi disini tujuan saya adalah agar membentuk konsistensi saja. Makanya saya memasang target sesuai kemampuan. Jika sudah tercapai, maka pelan-pelan akan saya tingkatkan lagi jumlahnya.
3. Buat Bank Ide Foto
Rasanya salah satu alasan untuk tidak konsisten adalah tidak adanya ide. “Mau bikin foto apa lagi ya?” Ini juga salah satu alasan saya. Kehabisan ide sering menjadi alasan berhenti membuat foto. Maka dari itu, setiap Kali saya mendapatkan sebuah ide baru: segera catat di hape atau buku tulis. Tujuannya agar ide tersebut tetap terjaga.
Bank ide terkadang bukan sesuatu yang sulit. Aktivitas sehari-hari seperti memasak: mengiris bawang, membuat roti, atau kumpul keluarga sekalipun bisa menjadi konsep foto yang bisa dikembangkan. Dengan memiliki daftar ide, kita tidak perlu bingung lagi ketika tiba waktunya memotret.
4. Manfaatkan Satu Sesi untuk Banyak Foto
Oh ya, pengaturan angle foto juga bisa menjadi sumber portofolio lho. Jadi dalam satu sesi foto, kamu bisa menghasilkan banyak konten. Misalnya kamu mengambil foto sedang memasak nasi. Foto tampak depan, samping kiri, samping kanan, sudut pengambilan eye level bahkan bird's eye view.
Jadi tidak harus selalu pergi ke tempat baru untuk menghasilkan konten. Satu lokasi atau satu kegiatan bisa menghasilkan banyak foto dengan mengubah angle, komposisi, objek, atau konsep. Dengan satu sesi pemotretan bisa menghasilkan banyak stok foto.
5. Gunakan Jadwal dan Sistem Batch
Supaya tidak terasa berat, pisahkan pekerjaan. Misalnya hari tertentu digunakan untuk memotret, hari berikutnya untuk editing, kemudian keyword dan upload.
Dengan sistem batch, kita tidak perlu setiap hari melakukan semua proses dari awal. Yang terpenting bukan berapa lama kita bekerja dalam sehari, tetapi apakah kita bisa mempertahankan rutinitas tersebut.
6. Jangan Terlalu Fokus pada Penjualan
Ini yang sering membuat kontributor kehilangan semangat. Sudah rajin upload, tetapi download masih sedikit. Akhirnya merasa percuma dan berhenti.
Siapa disini yang sama? Saya juga demikian. Selalu mengintip berapa foto yang sudah di donlot? Berapa yang sudah terjual? Padahal foto yang kita upload hari ini belum tentu langsung menghasilkan.
Microstock adalah proses membangun portofolio dalam jangka panjang. Jadikan bertambahnya portofolio sebagai salah satu pencapaian, bukan hanya jumlah penjualan. Terus upload, terus belajar, dan evaluasi foto mana yang memiliki performa lebih baik.
Penutup
Konsisten di microstock sebenarnya tidak harus berarti upload setiap hari. Yang penting adalah memiliki target yang realistis dan terus dilakukan dalam jangka panjang.
Mulailah dari sedikit 3-5 foto seminggu pun tidak masalah, selama terus berjalan. Karena portofolio yang besar tidak dibangun dalam satu malam. Ia terbentuk dari satu foto, kemudian satu foto lagi, dan terus bertambah seiring waktu.
Jadi, jangan menunggu punya banyak waktu atau menunggu mood datang. Mulai saja dari foto yang bisa dibuat hari ini. Yang penting konsisten. Semangat ya para Microstocker pemula!
Salam,
Mom Queen











Post a Comment
Post a Comment