Skip to main content

Sharing Time : Peran Keluarga Sebagai Support Sistem Penyintas Kekerasan seksual

 

Sekarang ini banyak sekali kasus kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan, ngeri rasanya ketika membaca berita dengan judul yang mengarah pada tindak kejahatan seksual. Apalagi jika kemudian kekerasan seksual itu terjadi pada anak-anak. Sebagai seorang ibu dengan anak-anak perempuan tentulah ketika membaca headline dengan judul berita peristiwa tindak kekerasan seksual pada anak, langsung bergidik dan teringat anak-anak. Ah aku jujur tak sanggup jika harus membaca apalagi mendengar langsung kisah dari korban pelaku kejahatan seksual. Pasti tidak henti-hentinya mata ini basah. Sudah tentu ada banyak trauma, luka, air mata dan masa depan yang hancur, belum lagi sanksi sosial yang didapat bagi korban kekerasan seksual itu sendiri.


Malam tadi (11/01/21) aku kembali mendapatkan ilmu tentang "Peran Keluarga Sebagai Support Sistem Penyintas Kekerasan seksual" dalam sesi sharing time melalui virtual meeting via aplikasi Zoom. Nara sumber yang mengangkat tema ini adalah seorang ibu muda bernama lengkap Muyassarotul Hafidzoh, sang penulis novel best seller yang berjudul "Hilda". Novel Hilda sendiri mengangkat tema tentang kekerasan seksual yang terjadi pada seseorang yang bernama Hilda, anak perempuan  masih duduk dibangku sekolah. Hilda adalah cerita tentang korban tindak kekerasan seksual, mengenai apa yang dialaminya hingga apa yang terjadi setelah Hilda menjadi korban kekerasan seksual, bukannya mendapat dukungan malah Hilda dikeluarkan dari sekolahnya. Ironis !

Ah Mba Muyas, begitu panggilan akrab nara sumber malam hari ini, pembahasan sesi sharing time malam tadi benar-benar membuka mata hati ini akan pentingnya " peran keluarga sebagai support sistem penyintas kekerasan seksual". Sepertinya waktu 2 jam dalam webinar malam hari ini tidak lah cukup jika harus dituliskan dalam  blog artikel ini.



Banyak sekali insight yang didapat dari sesi sharing malam hari ini, betul bahwa peristiwa korban kekerasan seksual justru yang mendapat 'hukuman' lebih berat justru adalah perempuan, si korban. Mengapa bukannya si pelaku yang harusnya mendapat hukuman paling berat sebagai titik awal permasalahan? Mengapa justru si korban yang sudah harus menanggung akibat perbuatan bejat pelaku harus ditambah lagi dengan adanya sanksi sosial dari masyarakat? Mengapa kita belum juga dewasa untuk bisa merangkul korban bukan malah menjauhi? Mengapa kita bahkan tak jarang malah menjadikan korban sebagai bahan gunjingan dan bullying?

Yes, karena adanya bentuk ketidakadilan yang terjadi pada perempuan. Bahkan pelaku ketidakadilan terhadap perempuan pun tak jarang juga di dukung oleh sesama perempuan. Kok bisa? Ya secara sadar atau pun tidak sadar kita pun pernah melakukan ketidakadilan gender terhadap sesama perempuan. Coba kita simak ilustrasi cerita dibawah ini

Sumber : Ditulis kembali dari slide narsum


Apa tanggapan teman-teman blogger setelah membaca cerita diatas? Mungkin akan muncul beragam respon seperti tanggapan :
"GILAAA"
"Bodoh!!! " 
"Parah" 
"oh Noo!!
serta beragam anggapan miring lainnya. Sama seperti kami sebagai peserta webinar, sebagian besar mengutarakan respon yang senada. Padahal setelah diketahui faktanya ternyata bahwa direktur utama PT. Pertamina (Persero) pada tahun 2018 adalah ibu Nicke Widyawati, adalah seorang perempuan! Wah kami semacam terkena jebakan batman alias prank.

Memang begitulah faktanya, terkadang kita tanpa menyadari telah melakukan bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Bentuk ketidakadilan yang baru saja terjadi adalah bahwa kami bahkan mungkin teman-teman blogger semua yang mayoritas perempuan mengganggap bahwa posisi direktur utama sebuah perusahaan besar sekelas PT Pertamina (Persero) tidak mungkin dijabat oleh seorang perempuan. Padahal faktanya, banyak posisi strategis di berbagai perusahaan bahkan di pemerintahan telah di pegang oleh seorang perempuan, bahkan posisi presiden di Indonesia pernah diisi oleh sosok perempuan, ibu Megawati Soekarno Putri.

Bentuk Ketidakadilan Bagi Perempuan Jika Menjadi Korban Kekerasan Seksual

Beberapa bentuk ketidakadilan yang terjadi yang dialami perempuan jika perempuan menjadi korban Kekerasan seksual diantaranya :

#1 Marginalisasi

Marginalisasi adalah proses pengabaian atau peminggiran terhadap hak-hak orang yang termarginalkan dalam hal ini adalah perempuan. Perempuan kerap kali mendapatkan ketidakadilan dalam proses marginalisasi ini, seperti misalnya adanya beberapa perusahaan yang memberlakukan peraturan bahwa perempuan yang sudah menikah tidak mendapatkan hak cuti hamil dan melahirkan seperti yang tertuang dalam UU no 13/2003 tentang ketenagakerjaan sampai waktu tertentu, bila melanggar maka akan dikenakan sanksi berupa pemotongan gaji bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) . Padahal hak tersebut sudah diatur dan undangkan oleh pemerintah, namun masih saja ada yang memberlakukan peraturan tersebut.

#2 Subordinasi

adalah "penomorduaan" perempuan, dalam hal ini menganggap bahwa perempuan lebih rendah atau lebih lemah dari laki-laki sehingga memprioritaskan jabatan strategis dibidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, karier kepada laki-laki. Tidak hanya itu bahkan pandangan mengenai superioritas laki-laki terhadap jabatan tertentu juga harus diubah. Kita harusnya menganggap bahwa kemampuan kecerdasan bekerja tidak ditentukan oleh jenis kelamin melainkan oleh kapasitas dan kesanggupan memikul tanggung jawab.

#3 Kekerasan (violence)

Seorang perempuan yang perlakukan kasar bukan dianggap sebagai subjek, malah dianggap sebagai objek yang wajar dijadikan sasaran pelampiasan kekerasan. Tindakan ini terjadi karena adanya anggapan bahwa laki-laki memiliki kuasa dan superioritas terhadap perempuan. Tak jarang perempuan yang menjadi korban kekerasan jika melawan maka dianggap berbohong, pencemaran nama baik, bahkan hanya mencari sensasi. Belum lagi jika melawan suami yang tidak bertanggung jawab, maka akan di cap sebagai istri yang durhaka, melanggar perintah agama dan sebagainya. Makanya banyak ditemui kondisi istri yang 'bertahan' dengan kondisi rumah tangga yang 'tidak sehat' demi menghindari stigma negatif dimasyarakat seperti diatas.

#4 Stereotype dari pelabelan negatif

Pelabelan atau stigma negatif yang ada dimasyarakat yang sering terjadi misalnya stigma bahwa perempuan hanya boleh bekerja di ranah domestik, sedang laki-laki di sektor publik. Tidak ada penyeimbang antara keduanya sehingga membuat ranah domestik hanya diurus oleh istri tanpa campur tangan suami. Contoh lain misalnya laki-laki yang menangis diberi label sebagai seseorang yang cengeng dan sebagainya. Banyak stigma atau label yang melekat pada diri kita akibat konstruksi sosial yang ada di masyarakat.

#5 Beban ganda yang dipaksakan (double burden)

Misalnya dalam rumah tangga sendiri, perempuan yang bekerja diluar juga harus mengurus ranah domestik tanpa dibantu suami ataupun asisten rumah tangga. Padahal faktanya sebagian besar istri bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Pembagian kerja yang tidak seimbang, sering kali dialamatkan pada perempuan sebagai korbannya, bukannya saling membantu malah terkadang suami tidak bisa banyak bekerja dan hanya duduk bersantai.

Bentuk-bentuk ketidakadilan di atas terhadap perempuan sering kali kita lihat di masyarakat dan masih terus terjadi hingga saat ini.

Apa yang harus kita lakukan terhadap korban kekerasan seksual dimasyarakat? 

Banyaknya korban kekerasan seksual yang terjadi dimasyarakat tak jarang membuat si korban merasa malu untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib, mengapa? Karena anggapan bahwa kekerasan seksual masih dianggap sebagai aib yang diumbar ke khalayak ramai, belum lagi trauma yang dialami korban ditambah lagi dengan sanksi sosial berupa bahan gunjingan hingga bullying bahkan tak jarang ada yang dikucilkan dari pergaulan di masyarakat. Maka, tak heran banyak perempuan yang lebih memilih diam dan menyimpan sendiri luka bathin yang di alaminya. 

Lantas apa yang harus kita lakukan saat melihat adanya korban kekerasan seksual yang ada di masyarakat? 

✍️ Melindungi korban supaya tidak lagi mengalami ketidakadilan

✍️ Mendukung korban untuk terus bangkit kembali dari keterpurukan

✍️ Melakukan proses hukum dengan meminta bantuan dari lembaga bantuan hukum (LBH) terdekat. 

✍️ Mengobati korban baik luka fisik maupun psikis

Hindari tindakan pembulian dan lakukan pendampingan selama korban menjalani masa-masa pemulihan pasca trauma. Maka nama korban kekerasan seksual sebaiknya tidak di publikasikan demi menjaga privasi dan kesehatan psikis korban. 

✍️Dampingi korban hingga kembali puluh pasca trauma yang di alami. 

Bisa dengan mengisinya dengan berbagai aktivitas positif yang membuat korban lebih menyayangi dirinya. Karena kondisi psikis korban kekerasan seksual ini biasanya sangat rentan untuk melakukan tindakan negatif seperti melukai diri sendiri. 

Apa yang bisa kita lakukan untuk menguatkan korban kekerasan seksual ini? 

Bahwa sesuatu yang sudah terjadi pada diri kita, apapun itu baik itu tindakan positif atau negatif, semua terjadi atas kehendak dan ketetapan Allah SWT, qadarullah yang tidak bisa kita elakkan. Semuanya kita pasrahkan pada takdir Sang Pemilik kehidupan, betapa pun kuatnya kita menghindari, betapa rapat dan tertutupnya pakaian kita, betapa ketatnya kita menjaga diri jika Allah SWT sudah berkehendak, maka belari kemana pun kita tidak bisa menghindarinya. Bukannya pasrah, tapi lebih baik menerima keadaan sebagai jalan hidup dan ujian. Meski demikian, kejadian kekerasan seksual harus segera dihentikan, kita lanjutkan dengan proses hukum yang ada dan berharap pelaku mendapat hukuman yang berat. Meski hukuman mati tidak bisa membalas sakitnya trauma yang dialami, namun dengan mencintai diri sendiri dan mengajak orang lain menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan seksual mudah-mudahan mampu mengurangi trauma yang ada. 

Baca juga : Benarkah ada orangtua yang gagal? 

Semoga kita, keluarga dan teman-teman semua mampu lebih bijak dalam menyikapi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan terlebih kekerasan seksual. Amin ya Rabbal 'alamin. 


Salam, 

Mom QueenMQ 

#indonesiancontentcreator 

#odopiccday12 #mamincasharing #maminca_KekerasanPadaPerempuan #maminca_resolusi #KekerasanSeksualPadaPerempuan #30HariBercerita


Comments

  1. Aku jadi belajar mba buat gak gampang ngejudge tanpa tau detailnya kaya apa. Kadang tuh di sosmed bikin kita ikut-ikutan ngebully tanpa tahu kasus sebenarnya :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya bener, kadang si korban malah yang dapat banyak sanksi sosial, padahal trauma psikis belum hilang ditambah sanksi sosial membuat trauma Makin bertambah-tambah.

      Delete

  2. Adakalanya, korban tidak berani melapor pd yg berwajib (ujung2nya keluarga korban dipermalukan) krn pelaku bisa membayar atau berdalih tdk melakukan walaupun bukti sudah jelas (berdasarkan kisah seorang teman).
    Semoga kita semua selalu dlm lindungan Allah, dijauhkan dr org2 dzolim. Aamiin....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini yang banyak terjadi, beruntung dengan maraknya sosmed sekarang kasus kecil pun yang dulu dianggap bisa di 'beli' sekarang bisa dikasuskan jika sudah viral. Si korban pun bisa disamarkan identitasnya, nah pihak pendamping terutama keluarga yang harus speak up dan terus mencari bantuan hukum. Pun demikian kita tidak berharap ini terjadi pada orang-orang yang kita kenal.

      Delete
  3. Sedih mba. Sampe sekarang perempuan yang jadi korban kekerasan seksual jadi pihak yang paling dirugika. Padahal, siapa sih yang mau jadi korban? Padahal kadang korban juga memakai pakaian tertutup dan ga ada tu tanda-tanda genit atau gimana. Tapi, tetap aja perempuan selalu jadi pihak yang disalahkan. Dan pelaku, anteng-anteng aja. Makanya banyak korban yang tidak ingin melaporkan kasusnya, karena saat melapor hidupnya makin jadi berat dan sulit.
    Sedih kan membayangkan menghadapi hal yang menakutkan itu seorang diri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini PR yang berat bagi kita semua sebenarnya, bagaimana kita bisa merangkul korban, untuk speak up namun disisi lain sanksi sosial dan bullying mungkin akan terus menghantui. Itulah yang harus dibenahi dimasyarakat kita, sulit memang, namun tidak ada yang tidak mungkin.terkadang yang menghakimi korban justru dari perempuan juga, miris. Perempuan jangan jadi korban kekerasan seksual sekaligus korban keganasan cibiran perempuan lainnya. Tetap harus speak up, dan 'bergerak'. perempuan lain disekitar menjadi support system yang menjadi tameng korban dari sanksi sosial dan bullying.

      Delete

Post a Comment

Thanks so much to all of reader. Please comment if any doubts or suggestions

Popular posts from this blog

Benarkah ada orangtua yang gagal?

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh. Apa kabar happy parents semua? Semoga selalu happy meski pandemi belum juga mereda. Kali ini Aku mau membahas sedikit mengenai topik yang terngiang-ngiang dikepalaku "Benarkah ada orangtua yang gagal?" . Gagal dalam membesarkan anak, gagal dalam mengelola dan menyalurkan emosinya sehingga meluapkan pada anak, gagal dalam mengasah kemampuan dan bakat anak, gagal dalam membersamai tumbuh kembang anak, atau bahkan gagal dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya menjadi generasi terbaik dimasanya. Setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. foto dokpri Aku pikir pemikiran seperti ini tidak akan pernah terlintas dalam pikiranku,karena menurutku tidak ada orangtua yang menginginkan kegagalan dalam hidupnya apalagi untuk anak-anak. Semua orangtua sangat mencintai anak-anaknya, entah anak-anak tahu atau tidak, mereka rela memberikan yang terbaik bahkan rela menghimpit kebutuhan diri sendiri demi memenuhi kebut

Ibu Karir dirumah

Sejak melahirkan anak pertama, Queensha, suamiku sudah mengingatkan untuk memasang target kapan akan berhenti dari pekerjaan, dan fokus mengurus anak. Waktu itu aku mengatakan "nanti ya kalau Queensha sudah mulai sekolah, sekira umur 5 tahunan" Suami membalas "Kalau bisa lebih cepat dari itu, karena anak sangat membutuhkan figur ibunya, Jika waktunya banyak bersama pengasuh ketimbang orangtua terutama ibunya, ikatan bathin ibu dan anak akan berkurang ." Dan, itu memang benar. Aku merasa anakku  cenderung lebih dekat dengan pengasuhnya, misalnya jika pengasuhnya hendak pergi ke warung (karena rumah pengasuhnya didepan rumah kami), maka Queensha akan langsung berlari menghampiri, dan berteriak " ibuu, ikuuutttt" Akupun menuruti keinginannya, walaupun saat itu aku lagi bermain bersamanya.Karena jika dilarang dia akan menangis. Dan, Qodarullah menjelang umur Queensha 2 tahun, aku dinyatakan hamil anak kedua, alhamdulillah masyaAllah. Padahal baru beren

Pengalaman memutus candu gadget pada toddler

Pic from google Dewasa ini sangat tidak asing apabila melihat anak-anak (bahkan) usia balita sudah memegang gadget dalam kesehariannya. Bahkan Ada orangtua yang sengaja memberikan gadget sebagai dalih untuk mengalihkan perhatian anak yang melulu ingin ditemani bermain. Pada dasarnya fitrah anak, apalagi diusia balita adalah bermain. Namun terkadang karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan orangtua  untuk mengakomodir keinginan anak inilah yang membuat orangtua menyerahkan kegiatan anak untuk berinteraksi pada gawai. Saya bukan orangtua yang anti sekali untuk memberi gawai pada anak. Tidak juga, namun dibalik sekian banyak dampak negatif dari gadget ada juga beberapa manfaat yang bisa di petik. Misalnya bisa mendapatkan ide bermain anak, memvisualisasikan apa-apa yang terasa sulit di pahamkan dengan kata-kata, video edukasi, lagu reliji dan lain sebagainya.Tetapi diantara daftar manfaat gawai ini, ada setumpuk efek negatif penggunaan gadget pada anak, apalagi balita :( Saya mencoba

Ayo membaca nyaring bersama Lets Read

Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadim Makariem pernah mengatakan bahwa di Indonesia saat ini tengah mengalami yang namanya krisis literasi. Pernyataan ini sebenarnya bukan tanpa alasan, hal ini didasari pada rilis hasil studi Programme for International Assessment (PISA) 2018 yang dilakukan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 3 Desember lalu. PISA adalah hasil program studi internasional dibidang pendidikan per 3 tahunan bagi pelajar berusia 15 tahun. Yang bertujuan untuk mengamati kemampuan membaca, matematika dan sains suatu negara untuk mendorong pendidikan. Dalam hasil rilis hasil studi tersebut didapat bahwa skor kemampuan membaca di Indonesia ditahun 2018 turun menjadi 371 dibanding tahun 2015 diangka 397 poin, dengan skor rata-rata OECD 487 poin. Aku sepakat bahwa literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga tentang kemampuan memahami bacaan, numerasi, sains dan kecakapan dalam memecahkan suatu masalah tertentu. Namun sem

Membiasakan berhijab sejak dini

   Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Ukhtifillah  yang dirahmati Allah Subhanahu Wata'Ala dalam rangka menggalakkan campaign   #hijabsejakdini , disini Aku mau berbagi tips mengenai cara membiasakan anak-anak mengenakan hijab dalam kesehariannya.  Seperti kita tahu bahwa menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allah azza wa jalla: "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita....." (QS An-nuur : 31)  Jadi, karena m

Ayo, dukung UMKM disekitarmu bangkit lagi!

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Apa kabar teman-teman semua? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'Ala amin allahumma amin . Nah kali ini Aku mau membahas tentang cara mendukung bangkitnya dunia usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM disekitar kita. Sebagai bagian dari ikhtiar membantu teman-teman semua pelaku UMKM untuk kembali bangkit dan bersinergi membangun perekonomian Indonesia khususnya keluarga.  Pandemi Covid-19 yang dialami dunial termasuk Indonesia sejak Maret 2020 telah memukul banyak sektor usaha. Berbagai sektor terdampak diantaranya yang paling terpukul adalah sektor usaha transportasi, perdagangan makanan dan minuman, pariwisata, industri pengolahan dan masih banyak lagi. Bukan hanya menimpa para pelaku usaha berskala besar namun juga pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah(UMKM). Mengambil dari hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa sebanyak 82,85% perusahaan terdampak oleh pandemi virus coro

DIY: Cara Membuat Hamper Mudah dan Simple untuk Hantaran Nikah

Dewasa ini tradisi berkirim hadiah seperti sudah menjadi tren baru. Banyak orang mengabadikan momen khusus sebagai ajang untuk berkirim pesan lewat hadiah. Jika dulu berkirim parsel atau hamper hanya dihari besar keagaamaan seperti lebaran atau natal. Sekarang berkirim parsel juga di berbagai momen bersejarah seperti di hari ulang tahun, menyambut kelahiran bayi, wisuda kuliah dan sebagainya. Baca juga :  Manajemen keuangan keluarga anti bocor ala Maminca   Jika dulu tradisi berkirim hadiah ini lebih dikenal dengan sebutan berbagi parsel, namun sekarang lebih banyak dikenal dengan sebutan berbagi hamper. Sebenarnya tidak ada beda antara keduanya, mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, jika kita melakukan pencarian untuk kata parsel maka akan berarti bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya. Pun begitu ketika kita mencari

Jasa Pengiriman Barang Murah dan Efisien dengan LJR Logistics

Kebutuhan untuk jasa pengangkutan barang dewasa ini menjadi kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan. Semakin berkembangnya dunia usaha baik lokal maupun international menjadikan kebutuhan untuk jasa angkutan barang dengan biaya murah dan cepat menjadi prioritas. Apalagi jika kita berbicara mengenai perpindahan barang dalam jumlah yang besar seperti jasa kirim dengan menggunakan Full Container Load (FLC) ataupun Less Container Load (LLC) . Minimnya informasi yang bisa didapatkan terutama oleh pelaku usaha mikro yang baru berkembang menjadikan hanya sedikit saja yang bisa memanfaatkan jasa kirim ini. Padahal jika dicermati pengiriman dengan menggunakan logistik berbiaya murah bisa menghemat biaya produksi. Penghematan yang besar pada biaya produksi tentu bisa meraup laba yang lebih besar. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dunia bisnis seperti Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sedang dalam perhatian pemerintah. Sebut saja seperti Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM), ditahun 2021

Asal Kata Lebaran dan Tradisi Idul Fitri 2021 di Indonesia, ketika wabah Covid-19 yang masih meningkat

Assalammualaikum warahmatullah wabaarakatuh  Hai  teman-teman blogger bagaimana puasanya? Sudah hampir dipenghujung bulan Ramadan nih, masih semangat mengejar pahala? Insya allah, semoga Allah memudahkan langkah kita semua mencapai keberkahan dibulan Ramadan ini. Dalam rangka ngeblog bareng bersama komunitas blogger Bengkel Diri kali ini mengangkat tema hari Raya Idul Fitri. Pada kesempatan ini saya ingin mengulas tentang Asal Kata Lebaran dan tradisi Idul Fitri 2021 di Indonesia, ketika wabah Covid-19 yang masih meningkat. Alhamdulillah  dalam hitungan beberapa lagi kita akan merayakan hari raya Idul Fitri 1442 H. Segala persiapan tentu sudah mulai semarak dan geliat bau kue sudah mulai semerbak di sekitar perumahan.  Hmm  rasanya sudah tidak sabar menyambut datangnya hari kemenangan. Pusat perbelanjaan pun tak kalah semaraknya dalam menyambut datangnya hari nan fitri ini. Segala jenis kue, makanan ringan, dan aneka minuman kaleng pun sudah ramai menghiasi supermarket.  Melihat seje

Membuat Parcel (Hampers) Low Budget

Membuat Hampers Rumahan Hampers ala Mom Queen  πŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈπŸƒπŸŒΈ Alhamdulillah Lebaran sebentar lagiiπŸ’• MasyaAllah tak terasa yaah, kita akan berpisah dengan Ramadhan bulan mulia,dan bersiap menuju hari kemenangan, aamiin. Lebaran atau hari-hari besar lainnya biasa identik dengan saling berkirim pesan, makanan bahkan hadiah sebagai bingkisan kepada kerabat, sanak saudara bahkan orangtua untuk mewakili betapa syukurnya kita bisa di berikan segala kenikmatan oleh Allah Subhanahu Wata'Ala. Terlebih seperti sekarang ini, ketika diri tidak bisa bertemu muka, mengulurkan tangan, memeluk fisik maupun bersimpuh dihadapan orang-orang terkasih, sebagai wujud perwakilan itu biasa disimbolkan dengan mengirimkan 'pesan cinta' lewat transperan atau bingkisan (hampers) atau biasa dikenal dengan parcel. Nah, saat semua terasa sulit untuk dilakukan, apalagi harus bepergian memilih dan membawa hampers yang lumayan besar, dan biaya yang dikeluarkan juga lumayan